Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bali Bakti Anggara: Membangun Imperium dari Limbah Kayu, Menaklukkan Pasar Internasional

2025-11-25 | 03:57 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-24T20:57:02Z
Ruang Iklan

Bali Bakti Anggara: Membangun Imperium dari Limbah Kayu, Menaklukkan Pasar Internasional

Ni Ketut Bakati Anggareni, yang akrab disapa Ayu, adalah sosok di balik kesuksesan "Bali Bakti Anggara," sebuah usaha kerajinan yang telah mengubah limbah kayu menjadi produk dekorasi rumah bernilai seni tinggi dan menembus pasar dunia. Dimulai pada tahun 1997, Ayu merintis usahanya dengan modal awal mandiri sebesar Rp 50 juta.

Awalnya, limbah kayu di lingkungan sekitar masyarakat hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Namun, Bali Bakti Anggara berhasil menyulap sisa-sisa kayu tersebut, bersama dengan bahan limbah lain seperti batu dan kaca, menjadi aneka produk yang diminati pasar global. Produk-produk yang dihasilkan sangat bervariasi, meliputi hiasan dinding, meja kerja, serta peralatan makan seperti mangkuk dan gelas kayu, hingga berbagai barang dekoratif. Perusahaan ini, yang resmi menjadi CVW Bali Bakti Anggara pada tahun 2013, memiliki fokus utama pada produk-produk yang menonjolkan bentuk khas dan unik.

Perjalanan Bali Bakti Anggara tidak selalu mulus. Pada tahun 2012, Ayu menghadapi tantangan ketika tren pasar berubah dari kerajinan tradisional Bali yang banyak menggunakan ukiran. Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak signifikan terhadap permintaan pasar, memaksa adanya penyesuaian, termasuk jumlah pekerja. Dalam kondisi normal, Bali Bakti Anggara mampu mengekspor antara 30 hingga 100 kontainer produk per tahun dan meraup omset hingga US$ 50 ribu atau setara Rp 710 juta per semester. Produk-produknya dijual dengan harga berkisar antara US$ 2,5 hingga US$ 100, atau sekitar Rp 35.600 hingga Rp 1,4 juta per produk.

Keberhasilan Bali Bakti Anggara dalam menembus pasar internasional patut diacungi jempol, dengan 60% pasarnya berada di Amerika Serikat, 30% di Eropa, dan sisanya di Asia termasuk pasar domestik. Usaha yang berbasis di Kelurahan Abianbase, Gianyar, Bali ini juga dikenal karena memberdayakan kaum perempuan di daerahnya, terutama dalam proses pengemasan. Selama pandemi, perusahaan ini mempekerjakan sekitar 23 orang, di antaranya 12 adalah perempuan. Untuk mengatasi tantangan dan mengembangkan usahanya, Ayu juga mendapatkan dukungan dari pemerintah Belanda dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) berupa bantuan modal serta pelatihan buyer matching, cara ekspor, dan pemasaran online.