Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

BPOM Akselerasi Ekosistem Inovasi Nasional Berkat Program ABG

2025-12-03 | 13:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-03T06:04:21Z
Ruang Iklan

BPOM Akselerasi Ekosistem Inovasi Nasional Berkat Program ABG

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara aktif mengembangkan ekosistem inovasi nasional melalui program Academia Business and Government Collaboration (ABG). Inisiatif strategis ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah guna mendorong riset serta inovasi di sektor kesehatan, obat, dan makanan, demi mewujudkan kemandirian inovasi bangsa.

Kepala BPOM, Prof. Taruna Ikrar, merupakan penggagas utama konsep Sinergi ABG yang kini telah resmi dicatatkan sebagai ciptaan yang dilindungi oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada 1 Desember 2025. Konsep ini diakui sebagai fondasi baru ekosistem inovasi Indonesia menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Beliau menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna inovasi, melainkan harus menjadi pencipta dan pemilik inovasi, di mana Sinergi ABG berfungsi mengikat tiga komponen penting: pengetahuan, industri, dan regulasi. Taruna Ikrar juga menyoroti bahwa industri memiliki sumber dana namun terbatas inovasi, sementara kampus kaya akan inovasi namun terbatas sumber daya, sehingga BPOM hadir untuk menjembatani aspek-aspek tersebut agar saling menguntungkan dan berkembang.

Sebagai manifestasi nyata program ini, BPOM menyelenggarakan "Gebyar ABG Collaboration" pada 15-16 November 2025 di kantor BPOM Jakarta Pusat. Acara ini merupakan refleksi satu tahun Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran dan mempertemukan ribuan pihak, termasuk rektor, pengusaha, akademisi, periset, hingga pelaku industri kesehatan. Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka yang membuka acara secara daring, menekankan bahwa inisiasi dan kolaborasi adalah kunci kemajuan di era saat ini.

Gebyar ABG menampilkan 10 booth peserta dari Korea, Malaysia, India, Singapura, dan Indonesia, serta partisipasi dari 20 perguruan tinggi nasional. Kegiatan ini dirancang untuk mempercepat hilirisasi riset, meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi, dan standar produk, sekaligus memperkuat kemandirian serta daya saing obat dan makanan Indonesia. Selama acara, dilakukan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara 37 industri farmasi dari 6 negara dan 20 universitas di Indonesia. Selain itu, agenda tersebut juga mencakup diskusi interaktif antara akademisi dan industri untuk melahirkan lisensi riset dan kerja sama penelitian lanjutan, pameran produk UMKM lokal yang telah memenuhi standar BPOM, peluncuran buku inovasi, seminar internasional, dan kegiatan kesehatan seperti vaksinasi Hepatitis A gratis serta donor darah.

Selain melalui Gebyar ABG, BPOM juga mempercepat ekosistem inovasi dengan meluncurkan layanan perizinan berbasis kecerdasan buatan (AI) pada 28 November 2025, yang memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai layanan publik berbasis AI pertama di Indonesia. Teknologi ini diklaim mampu mempercepat analisis dan verifikasi data secara signifikan. BPOM juga memperkuat program "Orang Tua Angkat" (OTA) UMKM, di mana 30 perusahaan besar menjadi pendamping bagi 46 UMKM di sektor obat tradisional, suplemen kesehatan, dan kosmetik, memberikan dukungan teknis hingga perizinan.

Pengembangan ekosistem inovasi ini juga fokus pada isu-isu krusial seperti menghadapi "ekonomi silver" dengan pengembangan produk kecantikan anti-penuaan dan penguatan regulasi Advanced Therapy Medicinal Product (ATMP) untuk terapi sel dan gen. Upaya ini menunjukkan transformasi BPOM dari sekadar regulator menjadi generator ekosistem inovasi yang aktif, memastikan produk yang aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Kolaborasi ABG ini diharapkan dapat menjadi fondasi utama dalam mempercepat transformasi kesehatan nasional.