:strip_icc()/kly-media-production/medias/5227870/original/095342200_1747824429-steptodown.com663981.jpg)
Penggunaan media sosial yang berlebihan terbukti secara signifikan meningkatkan risiko perasaan kesepian dan isolasi sosial, berdasarkan sejumlah riset terbaru. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi remaja dan dewasa muda, tetapi juga individu dari kelompok usia yang lebih tua.
Sebuah studi yang dipimpin oleh Jessica Gorman dari Oregon State University, Amerika Serikat, melibatkan 1.500 orang dewasa dan menemukan adanya hubungan signifikan antara frekuensi penggunaan media sosial dan tingkat kesepian. Penelitian lanjutan oleh Brian Primack menguatkan temuan ini, menyatakan bahwa mereka yang termasuk dalam 25 persen teratas pengguna media sosial memiliki kemungkinan dua kali lipat untuk merasa kesepian dibandingkan dengan mereka yang berada di 25 persen terbawah.
Ironisnya, banyak orang awalnya menggunakan media sosial sebagai cara untuk mengatasi kesepian, berharap interaksi daring dapat mengurangi perasaan tersebut. Namun, penelitian justru menunjukkan bahwa menghabiskan terlalu banyak waktu di platform ini dapat memperburuk rasa kesepian.
Korelasi antara kesepian dan penggunaan media sosial berlebihan juga terlihat pada remaja. Riset Health Collaborative Center (HCC) di DKI Jakarta mengungkap bahwa 34 persen siswa SMA terindikasi mengalami masalah kesehatan mental, dengan lebih dari 20 persen di antaranya merasa kesepian. Faktor penyebabnya termasuk konflik dengan teman, minimnya hubungan dekat dengan teman sebaya, serta isolasi sosial akibat penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan. Dr. dr. Ray Wagiu, MKK, FRSPH, seorang pemerhati kesehatan dari Universitas Indonesia, menyebut angka ini lebih tinggi dari hipotesis kajian sebelumnya, menunjukkan pentingnya analisis mendalam terhadap risiko gangguan emosional dan kesehatan mental pada pelajar.
Mantan Menteri Kesehatan RI, Prof. Nila Moeloek, menyoroti perubahan kebiasaan sosial, seperti anak-anak yang kini sibuk dengan ponsel saat makan bersama keluarga, yang berpotensi memicu kesepian. Ia menyarankan adanya regulasi penggunaan gawai seperti di Belanda dan Australia yang membatasi usia anak-anak untuk mengakses media sosial.
Studi lain menyoroti bahwa interaksi digital seringkali bersifat dangkal dan tidak mampu menggantikan hubungan tatap muka yang lebih bermakna, yang penting untuk membentuk koneksi emosional yang mendalam. Penggunaan media sosial secara pasif, seperti hanya melihat unggahan orang lain, dapat memicu perbandingan sosial yang membuat individu merasa tidak berharga atau kurang sukses, sehingga meningkatkan rasa kesepian.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social and Clinical Psychology oleh tim Universitas Pennsylvania, termasuk Melissa G. Hunt, menemukan bahwa membatasi penggunaan media sosial hingga sekitar 30 menit per hari dapat secara signifikan mengurangi kesepian dan depresi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat peningkatan tajam dalam penggunaan media sosial bermasalah di kalangan remaja Eropa, dari 7% pada tahun 2018 menjadi 11% pada tahun 2022, dengan anak perempuan menunjukkan tingkat yang lebih tinggi (13% berbanding 9% pada anak laki-laki). WHO mendefinisikan penggunaan media sosial bermasalah sebagai pola perilaku dengan gejala seperti kecanduan, termasuk ketidakmampuan mengontrol penggunaan, mengalami gejala putus zat, mengabaikan aktivitas lain, dan menghadapi konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari akibat penggunaan berlebihan.
Para ahli menyarankan bahwa interaksi sosial secara langsung lebih baik untuk mencegah kesepian, dan media sosial tidak seharusnya menjadi pengganti penuh dalam kehidupan sosial seseorang. Memahami dampak media sosial terhadap kesehatan mental adalah krusial untuk mengelola interaksi daring secara bijaksana dan seimbang, demi menjaga kebahagiaan dan kesejahteraan emosional.