:strip_icc()/kly-media-production/medias/5428373/original/079520900_1764498357-anak_maskeran2.jpeg)
Fenomena "Sephora Kids" telah memicu kekhawatiran serius di kalangan dokter kulit dan orang tua, seiring dengan maraknya anak-anak usia dini, terutama dari Generasi Alpha (lahir antara 2010 dan 2024), yang berbondong-bondong membeli dan menggunakan produk perawatan kulit serta kosmetik dewasa. Tren ini sebagian besar didorong oleh pengaruh media sosial seperti TikTok dan YouTube, di mana para "skinfluencer" mempromosikan rutinitas kecantikan yang rumit.
Anak-anak dan praremaja ini tertarik pada produk-produk yang sejatinya ditujukan untuk kulit dewasa, seperti krim anti-penuaan, serum retinol, asam eksfoliasi (AHA dan BHA), serum vitamin C, serta pelembap dan pembersih mahal. Beberapa merek populer seperti Drunk Elephant, Glow Recipe, dan Bubble menjadi incaran mereka. Bahkan, pendiri Drunk Elephant, Tiffany Masterson, telah mengeluarkan peringatan agar anak-anak dan remaja menjauhi produknya yang lebih kuat yang mengandung asam dan retinol.
Dokter kulit secara luas memperingatkan bahwa kulit anak-anak jauh lebih sensitif, tipis, dan permeabel dibandingkan kulit dewasa, sehingga sangat rentan terhadap iritasi dan reaksi merugikan dari bahan-bahan aktif kuat yang ditemukan dalam produk dewasa. Penggunaan produk ini dapat menyebabkan kemerahan, kekeringan, pengelupasan, dermatitis, luka bakar kimia, dan reaksi alergi. Dr. Brooke Jeffy, seorang dokter kulit di Scottsdale, Arizona, menjelaskan bahwa penggunaan produk anti-penuaan pada anak dapat merusak lapisan pelindung kulit dan bahkan menyebabkan penuaan dini serta jaringan parut permanen.
Bahan-bahan seperti turunan vitamin A (retinol dan retinoid), asam alfa hidroksi (AHA), dan asam beta hidroksi (BHA), serta vitamin C dan kolagen, direkomendasikan untuk dihindari oleh pengguna muda karena potensi dan efeknya pada kulit yang masih rentan. Banyak produk dewasa tidak diuji secara menyeluruh pada anak-anak dan remaja, sehingga keamanan dan toleransinya tidak diketahui untuk kelompok usia ini. Penggunaan yang tidak tepat juga dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari dan bahkan memicu alergi seumur hidup terhadap bahan tertentu.
Selain risiko fisik, para ahli juga menyoroti dampak psikologis yang merugikan. Tren ini menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis, memicu ketidakpuasan citra tubuh, kecemasan, harga diri rendah, dan bahkan perilaku obsesif pada anak-anak. Pierre Vabres dari French Society of Dermatology berpendapat bahwa ini berisiko memberikan citra diri yang salah pada anak, membuat mereka merasa sebagai "orang dewasa dalam miniatur" yang harus mengkhawatirkan penampilan mereka untuk merasa baik. Kisah Scarlett Goddard Strahan, seorang anak berusia 10 tahun yang mengalami kulit terbakar dan melepuh akibat produk anti-penuaan, serta Amelia Grogery yang berusia 13 tahun yang dirawat di rumah sakit karena infeksi kulit yang menyebar ke matanya setelah mencampur retinol dan produk pengelupas, menunjukkan parahnya masalah ini.
Para dokter kulit menyarankan rutinitas perawatan kulit yang sangat sederhana untuk anak-anak: pembersih yang lembut, pelembap ringan, dan tabir surya. Penting bagi orang tua untuk mendidik anak-anak mereka tentang perawatan kulit yang sesuai usia dan membatasi paparan terhadap tren media sosial yang berpotensi merugikan.