Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ahli Ungkap Fakta Diet Telur Rebus untuk Turun Berat Badan

2026-01-15 | 15:24 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T08:24:28Z
Ruang Iklan

Ahli Ungkap Fakta Diet Telur Rebus untuk Turun Berat Badan

Klaim mengenai efektivitas diet telur rebus untuk menurunkan berat badan dengan cepat menjadi perhatian publik, namun para ahli gizi menekankan bahwa meskipun metode ini dapat menghasilkan penurunan berat badan jangka pendek melalui defisit kalori, risiko kekurangan nutrisi dan efek "yoyo" jangka panjang jauh lebih besar. Pola makan yang sangat membatasi jenis makanan ini dianggap tidak seimbang dan berpotensi membahayakan kesehatan jika dilakukan tanpa pengawasan medis, menurut berbagai ahli gizi klinis.

Diet telur rebus umumnya melibatkan konsumsi telur rebus sebagai sumber protein utama di setiap waktu makan, ditambah dengan sayuran non-tepung dan buah-buahan rendah karbohidrat, serta protein tanpa lemak seperti ayam atau ikan. Makanan tinggi karbohidrat, gula, dan olahan lainnya secara ketat dihindari. Popularitas diet ini bahkan sempat mencuat setelah dikaitkan dengan figur publik tertentu, memicu minat masyarakat untuk mencoba metode penurunan berat badan instan. Secara teoretis, satu butir telur rebus ukuran besar mengandung sekitar 72 hingga 78 kalori, 6 sampai 6,3 gram protein, 5 gram lemak, dan hanya sekitar 0,24 hingga 0,6 gram karbohidrat, menjadikannya pilihan rendah kalori dan tinggi protein yang mengenyangkan.

Mekanisme utama di balik penurunan berat badan yang diklaim cepat adalah pencapaian defisit kalori yang signifikan. Dengan asupan kalori yang sangat terbatas dan protein tinggi dari telur yang memberikan rasa kenyang lebih lama, tubuh cenderung membakar lebih banyak kalori daripada yang dikonsumsi. Beberapa pendukung diet ini bahkan mengklaim dapat menurunkan berat badan hingga 11 kilogram dalam dua minggu. Namun, penurunan berat badan yang drastis ini seringkali merupakan kehilangan cairan tubuh, bukan lemak permanen.

Para ahli gizi, seperti Lisa Young, seorang ahli gizi terdaftar dan penulis buku "Finally Full, Finally Slim", menegaskan bahwa meskipun telur kaya nutrisi, tidak disarankan untuk menjadikannya satu-satunya sumber makanan atau terobsesi pada satu jenis makanan saja. Pembatasan ekstrim yang menjadi ciri khas diet telur rebus ini membawa risiko serius terhadap kesehatan. Salah satu risiko terbesar adalah malnutrisi, di mana tubuh tidak mendapatkan asupan nutrisi esensial yang seimbang dari karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral yang tidak tersedia sepenuhnya dalam telur. Diet ini juga sangat rendah serat, padahal orang dewasa membutuhkan sekitar 25-38 gram serat per hari, sehingga berpotensi menyebabkan masalah pencernaan seperti sembelit.

Selain itu, asupan telur yang berlebihan dalam jangka panjang berisiko meningkatkan kadar kolesterol, khususnya bagi individu dengan riwayat kolesterol tinggi, yang dapat memicu risiko penyakit kardiovaskular. Penurunan berat badan yang terlalu cepat dan tidak berkelanjutan juga rentan menyebabkan fenomena "berat badan yoyo" atau fluktuasi berat badan, di mana berat badan yang hilang akan kembali naik setelah diet dihentikan. Konsumsi makanan yang sangat terbatas ini juga dapat membentuk kebiasaan makan yang tidak sehat dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, ahli gizi Dyah Widyastuti SKM, MKM, RD dari RSHS menyarankan agar setiap individu berkonsultasi dengan ahli gizi sebelum memulai diet khusus seperti diet telur rebus, mengingat dampak diet dapat bervariasi pada setiap orang. Dokter gizi dapat membantu menyusun rencana pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memastikan asupan gizi seimbang, serta mendukung perubahan gaya hidup yang aman dan berkelanjutan. Diet telur rebus hanya dianjurkan untuk dilakukan dalam waktu singkat, maksimal dua minggu, dan harus disertai dengan konsultasi medis. Amy Shapiro, seorang pakar nutrisi, menekankan bahwa tidak ada satu makanan pun yang merupakan solusi instan untuk menurunkan berat badan secara sehat dan berkelanjutan.