Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Can This Love Be Translated Hadir: Membongkar Cara Komedi Romantis Mengubah Persepsi Cinta Penonton

2026-01-13 | 16:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T09:04:31Z
Ruang Iklan

Can This Love Be Translated Hadir: Membongkar Cara Komedi Romantis Mengubah Persepsi Cinta Penonton

Netflix akan merilis serial komedi romantis Korea berjudul "Can This Love Be Translated?" pada 16 Januari 2026, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi penonton global terhadap dinamika hubungan dan percintaan. Serial 12 episode ini, yang ditulis oleh duo Hong Sisters dan disutradarai oleh Yoo Young-eun, mengisahkan hubungan antara seorang penerjemah multibahasa bernama Joo Ho-jin (diperankan oleh Kim Seon-ho) yang canggung dalam urusan romansa, dengan aktris papan atas Cha Mu-hee (diperankan oleh Go Youn-jung) yang meski populer namun kesulitan dalam kehidupan cintanya. Premis ini, yang menjanjikan eksplorasi cinta lintas hambatan bahasa dan emosi, menempatkan serial tersebut dalam kategori genre yang secara historis telah membentuk persepsi penonton tentang realitas hubungan.

Genre komedi romantis, yang telah hadir sejak 1924, secara inheren menyajikan narasi yang sering kali menyimpang dari realitas hubungan yang kompleks. Melanie Maimon, Ph.D., Asisten Profesor Psikologi di Bryant University, yang memiliki keahlian dalam psikologi sosial, menyatakan bahwa "secara desain, komedi romantis tidak menggambarkan hubungan secara akurat". Film-film ini cenderung menonjolkan fase awal yang penuh gairah dan kegembiraan, serta komponen memuaskan dari hubungan jangka panjang, namun mengabaikan detail sehari-hari yang membentuk ikatan yang lebih dalam, seperti cinta yang bersifat persahabatan dan dukungan emosional. Hal ini dapat menciptakan skrip psikologis pada penonton mengenai tahapan kencan atau ekspektasi tentang "cinta yang menaklukkan segalanya," keinginan akan cinta yang lebih bergairah, dan kegembiraan akan keterbukaan diri dalam hubungan.

Studi menunjukkan bahwa orang yang menonton komedi romantis dengan motivasi untuk belajar tentang hubungan cenderung lebih kuat mendukung keyakinan ideal romantis, terutama dalam hal "idealisasi pasangan". Idealisi ini mencakup keyakinan bahwa pasangan harus tanpa cela, atau akan sepenuhnya menerima, mencintai, dan memahami. Pandangan semacam ini dapat menyebabkan kekecewaan di kehidupan nyata, karena hubungan sesungguhnya memerlukan komunikasi yang disengaja, upaya timbal balik, dan kompromi, elemen-elemen yang sering absen dalam penceritaan yang disederhanakan di genre ini. Sebuah studi dari Heriot-Watt University menyoroti bagaimana komedi romantis dapat memengaruhi kehidupan emosional, membuat orang secara keliru berasumsi bahwa hubungan yang sehat melibatkan pertunjukan besar daripada komitmen yang stabil dan sehari-hari.

Kendati demikian, dampak komedi romantis tidak selalu seragam. Sebuah survei terhadap 335 mahasiswa sarjana di Midwest menemukan tidak ada hubungan signifikan antara sering menonton komedi romantis dan keyakinan akan ideal "cinta yang menaklukkan segalanya," "belahan jiwa," atau "cinta pada pandangan pertama". Peneliti utama studi tersebut, Veronica Hefner, Ph.D., asisten profesor studi komunikasi di Chapman University, menyatakan bahwa temuan ini "mendiskreditkan asumsi populer bahwa paparan komedi romantis adalah sumber utama yang mengarah pada ekspektasi hubungan yang tidak realistis di kalangan anak muda". Sebaliknya, alasan mengapa seseorang menonton genre ini memiliki pengaruh yang lebih kuat.

Namun, komedi romantis juga menyediakan eskapisme, humor, dan inspirasi, yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan mental dengan menawarkan jeda terapeutik dari kompleksitas hidup. Genre ini dapat menjadi sumber harapan dan optimisme dengan menunjukkan karakter yang mengatasi tantangan dan menemukan cinta, serta dapat memicu percakapan mengenai tema kesehatan mental yang kompleks seperti depresi, kecemasan, atau kesedihan. Namun, idealisasi romansa dan hubungan yang berlebihan, serta romantisasi "red flag" atau masalah mental health, dapat membahayakan jika penonton menginternalisasi pandangan tersebut secara berlebihan, berpotensi memicu hubungan disfungsional atau gangguan kesehatan mental terkait hubungan.

Netflix, dengan "Can This Love Be Translated?" yang mengambil latar global di Korea, Jepang, Kanada, dan Italia, memasuki arena ini dengan narasi yang berpusat pada penemuan "bahasa cinta" antar individu. Direktur Yoo Young-eun mencatat bahwa serial ini adalah komedi romantis di mana "karakter secara bertahap menafsirkan bahasa cinta satu sama lain melalui perspektif mereka sendiri". Penekanan pada interpretasi emosional ini mungkin menawarkan nuansa yang lebih realistis dibandingkan dengan plot "cinta pada pandangan pertama" yang sering didorong oleh genre ini. Namun, tantangannya tetap terletak pada bagaimana serial ini akan menyeimbangkan fantasi romantis dengan penggambaran keaslian hubungan yang lebih mendalam, agar penonton dapat mengambil inspirasi tanpa mengembangkan ekspektasi yang tidak realistis yang dapat memengaruhi kepuasan mereka dalam hubungan nyata.