Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Catatan Penting Psikiater Jika 'Mentally Drained' saat Baca Broken Strings

2026-01-14 | 11:25 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T04:25:42Z
Ruang Iklan

Catatan Penting Psikiater Jika 'Mentally Drained' saat Baca Broken Strings

Pengakuan intens dari pembaca yang merasa "mentally drained" atau terkuras secara mental setelah mengonsumsi narasi fiksi yang membebani emosi, seperti yang dilaporkan terjadi pada buku "Broken Strings" karya Aurellie Moeremans, menyoroti urgensi perhatian psikiater terhadap dampak psikologis dari konten media. Fenomena ini, yang melampaui sekadar hiburan, mendorong para profesional kesehatan mental untuk menekankan pentingnya strategi adaptasi dan kesadaran diri dalam menghadapi narasi yang memicu trauma atau kelelahan emosional.

Buku "Broken Strings" karya Aurellie Moeremans, yang baru-baru ini menarik perhatian publik, secara gamblang menceritakan pengalaman pribadi penulis sebagai penyintas praktik child grooming dan manipulasi emosional sejak usia 15 tahun. Narasi jujur ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan dukungan lingkungan, serta memberdayakan penyintas lain untuk mencari pertolongan. Psikolog mencatat bahwa salah satu dampak paling merusak dari grooming adalah normalisasi psikologis, di mana korban mungkin menganggap pengalaman mereka "baik-baik saja" meskipun batas-batas telah dilanggar, suatu kebingungan yang timbul dari manipulasi halus dan jangka panjang yang meninggalkan konsekuensi emosional yang mendalam.

Dr. Jiemi Ardian, seorang psikiater, menegaskan bahwa membaca buku fiksi memiliki peran istimewa dalam membentuk proses berpikir yang sehat dan membangkitkan empati, memungkinkan pembaca memahami berbagai sudut pandang dan menyentuh sisi emosional mereka. Namun, keterlibatan emosional yang terlalu kuat, atau "emotional transportation," dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang drastis, terutama setelah membaca cerita yang sangat menyentuh. Ini selaras dengan temuan bahwa otak seringkali tidak dapat membedakan antara paparan trauma langsung dan tidak langsung, sehingga konsumsi media yang intens dapat memicu gejala stres akut.

Kondisi "mentally drained" yang dilaporkan pembaca "Broken Strings" sejalan dengan fenomena kelelahan digital atau "social media fatigue" dan "brain rot" yang diakibatkan oleh konsumsi media berlebihan. Studi menunjukkan bahwa paparan konten yang menekan, terutama di media sosial, dapat meningkatkan kecemasan, depresi, dan rasa tidak berdaya. Remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial berisiko ganda mengalami kecemasan dan depresi, menurut laporan US Surgeon General. Sebuah penelitian awal tahun 2025 di Brain Sciences mengidentifikasi waktu layar berlebihan, kecanduan media sosial, dan beban kognitif sebagai faktor pemicu "brain rot," yang memengaruhi memori, fokus, dan kontrol impuls.

Untuk mengatasi kelelahan mental dari konsumsi narasi yang intens, psikiater menyarankan beberapa catatan penting. Pertama, penting untuk menetapkan batas waktu dan melakukan "detoksifikasi digital" secara berkala, mengalihkan perhatian ke aktivitas non-digital seperti meditasi, olahraga, atau interaksi sosial langsung. Dr. Clarin Hayes, seorang dokter perawatan anti-penuaan, menekankan pentingnya menyediakan waktu khusus tanpa aktivitas digital dan mengevaluasi jenis konten yang dikonsumsi, mengutamakan yang edukatif dan memotivasi. Selain itu, psikiater menyarankan untuk memilih bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mental individu, dan bagi mereka yang mengalami stres atau kecemasan berlebihan, berkonsultasi dengan psikolog untuk rekomendasi bacaan bisa menjadi langkah bijak. Penguatan pemikiran kritis pada anak-anak juga ditekankan sebagai langkah pencegahan grooming, daripada pembatasan yang berlebihan.

Implikasi jangka panjang dari konsumsi narasi emosional tanpa strategi coping yang memadai dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada atau memicu gangguan baru. Dalam konteks budaya digital yang terus berkembang, kemampuan untuk mengelola respons emosional terhadap konten yang memicu menjadi krusial. Psikiater menekankan bahwa media, baik fiksi maupun non-fiksi, adalah alat yang dampaknya bergantung pada cara penggunaannya. Kesadaran diri, pengendalian, dan pola konsumsi yang sehat akan menjadi fondasi untuk menjaga kesejahteraan mental di tengah banjir informasi dan narasi yang semakin kompleks.