Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dapur Anti-Boros: Panen Bawang Merah Sendiri dari Polybag di Rumah

2026-01-06 | 05:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-05T22:31:06Z
Ruang Iklan

Dapur Anti-Boros: Panen Bawang Merah Sendiri dari Polybag di Rumah

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia (BI), harga bawang merah ukuran sedang secara nasional per 5 Januari 2026 tercatat sebesar Rp49.250 per kilogram (kg), meskipun mengalami penurunan 3,9% dari hari sebelumnya. Angka ini tetap menjadi perhatian bagi rumah tangga di Indonesia, mengingat fluktuasi harga komoditas pangan, termasuk bawang merah, kerap terjadi karena dinamika pasokan dan permintaan, serta faktor musiman dan cuaca ekstrem. Kenaikan harga pangan secara umum memberikan tekanan signifikan pada daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, yang sebagian besar pendapatannya dialokasikan untuk kebutuhan pokok. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi bahan makanan menjadi salah satu komponen utama yang paling dirasakan oleh rumah tangga miskin.

Dalam konteks tantangan ekonomi ini, budidaya bawang merah di dalam polybag di rumah muncul sebagai strategi adaptasi yang efektif dan praktis untuk menghemat pengeluaran rumah tangga, sekaligus mendukung ketahanan pangan mikro di perkotaan. Program pertanian perkotaan (urban farming) ini bahkan telah didorong oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai upaya peningkatan produksi pangan lokal, dengan target peningkatan 30% dalam ruang terbuka hijau produktif serta produksi pertanian pada tahun 2030.

Proses menanam bawang merah dalam polybag relatif sederhana dan tidak memerlukan lahan luas, menjadikannya pilihan ideal bagi masyarakat perkotaan. Berbagai sumber menyarankan penggunaan polybag berukuran minimal 25x25 cm hingga 35x35 cm. Media tanam yang direkomendasikan adalah campuran tanah gembur, sekam (arang sekam atau sekam bakar), dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 atau variasi lain seperti 2:1:1:1 (tanah, kompos, sekam mentah, arang sekam). Setelah media diisi ke dalam polybag, disarankan untuk menyiramnya dan mendiamkan selama satu hingga dua hari agar bahan-bahan meresap dan media menjadi lembap.

Pemilihan bibit berkualitas unggul menjadi kunci keberhasilan. Bibit yang baik dicirikan oleh umbi yang sehat, padat, kulit halus, dan bebas dari bintik hitam atau busuk. Varietas seperti Bima Brebes, Pancasona, Maja Cipanas, atau Sanren F1 dikenal adaptif dan produktif di berbagai kondisi. Sebelum ditanam, potong sekitar sepertiga bagian ujung umbi bawang merah untuk merangsang pertumbuhan tunas lebih cepat. Penanaman dilakukan dengan meletakkan umbi pada kedalaman 2-3 cm dengan posisi tunas menghadap ke atas, dan pastikan bagian atas bibit umbi terlihat seperti saat menanam di lahan. Setiap polybag dapat diisi 3-6 bibit umbi dengan jarak tanam sekitar 5 cm antar umbi.

Perawatan rutin meliputi penyiraman yang cukup, menghindari kekeringan maupun genangan air. Pemupukan dapat dilakukan setiap dua minggu sekali menggunakan pupuk organik cair atau NPK dengan dosis ringan. Penyiangan gulma juga penting agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Bawang merah umumnya dapat dipanen setelah berumur 60-90 hari, dengan ciri fisik daun menguning, pangkal daun lemas, dan umbi sudah muncul jelas di permukaan tanah. Beberapa penanam bahkan melaporkan hasil memuaskan; satu video menunjukkan panen 2 kg bawang merah dari 13 siung bibit yang ditanam dalam polybag.

Meskipun urban farming, termasuk budidaya bawang merah di polybag, belum sepenuhnya mampu menyuplai kebutuhan pangan perkotaan secara instan, namun ini merupakan alternatif yang kuat untuk dikembangkan secara bertahap dan menyeluruh. Lukman Shalahuddin, Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Festival Urban Farming 2024, menegaskan bahwa pertanian perkotaan dapat dimanfaatkan sebagai penghasil pangan bergizi keluarga selain mengendalikan inflasi daerah maupun nasional. Inisiatif ini berimplikasi pada peningkatan kemandirian pangan rumah tangga, pengurangan pengeluaran bulanan untuk bahan makanan, serta kontribusi terhadap lingkungan hijau perkotaan. Mengingat proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2035 bahwa lebih dari 66% populasi Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan, pengembangan urban farming akan menjadi semakin krusial untuk menjaga stabilitas harga pangan dan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.