
Sebanyak 17 anak di Amerika Serikat meninggal dunia akibat komplikasi influenza pada musim flu 2025-2026, berdasarkan laporan mingguan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) per 3 Januari 2026. Angka ini menandai kenaikan signifikan dibandingkan dengan data awal musim yang hanya mencatat tiga kematian pada 19 Desember 2025, dan delapan kematian pada 30 Desember 2025, bahkan jika dibandingkan dengan total 289 kematian anak sepanjang musim flu 2024-2025 yang merupakan rekor tertinggi sejak pencatatan wajib dimulai pada 2004-2005. Lonjakan ini terjadi di tengah dominasi virus influenza A(H3N2) subclade K yang menyebar cepat dan menunjukkan potensi resistensi parsial terhadap vaksin flu musiman.
Musim flu 2025-2026 telah menunjukkan aktivitas influenza yang melonjak di seluruh negeri, dengan 44 wilayah melaporkan aktivitas penyakit mirip influenza (ILI) tingkat tinggi atau sangat tinggi. CDC memperkirakan setidaknya sudah ada 15 juta kasus infeksi, 180.000 rawat inap, dan 7.400 kematian terkait flu di Amerika Serikat hingga saat ini. Tingkat rawat inap kumulatif untuk flu telah mencapai 40,6 per 100.000 penduduk, menjadikannya yang tertinggi kedua pada titik ini dalam musim sejak 2010-2011, dengan anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang dewasa di atas 65 tahun memiliki tingkat tertinggi.
Varian influenza A(H3N2) subclade K, yang dijuluki "Super Flu" oleh beberapa media, telah menjadi penyebab utama lonjakan kasus ini. Subclade K adalah subkelompok yang baru muncul dari virus H3N2 yang sudah ada, dengan sepuluh mutasi pada protein permukaan hemagglutinin yang dapat membantunya menghindari pertahanan kekebalan tubuh. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa varian K ini menandai "evolusi penting dalam virus influenza A (H3N2)". Meskipun data epidemiologi saat ini belum secara definitif menunjukkan peningkatan keparahan penyakit, para ahli khawatir bahwa perubahan genetik ini dapat mengurangi efektivitas vaksin flu musiman yang dirancang pada Februari 2025, sebelum dominasi subclade K teridentifikasi pada Agustus 2025. Analisis awal dari Inggris menunjukkan bahwa vaksin saat ini masih memberikan perlindungan sekitar 70-75% terhadap rawat inap terkait flu pada anak-anak, meskipun efektivitasnya terhadap penyakit klinis masih belum pasti.
Fenomena ini menggarisbawahi tantangan berkelanjutan dalam memerangi influenza, sebuah virus yang terus bermutasi. Musim flu yang didominasi oleh H3N2 cenderung lebih parah, menyebabkan lebih banyak rawat inap dan kematian, terutama pada lansia dan anak kecil. Tingkat vaksinasi anak-anak dilaporkan hanya sekitar 42% hingga saat ini, menunjukkan kesenjangan signifikan dalam perlindungan komunitas. Kurangnya kekebalan alami pada tingkat komunitas terhadap subclade K, dikombinasikan dengan tingkat vaksinasi yang lebih rendah, menciptakan "badai yang sempurna" untuk musim flu yang agresif, menurut pakar kesehatan publik.
Para pejabat kesehatan, termasuk Dr. Zack Moore, Ahli Epidemiologi Negara Bagian North Carolina, terus mendesak masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi flu setiap tahun. CDC merekomendasikan semua orang yang berusia 6 bulan ke atas untuk divaksinasi. Selain itu, obat antivirus resep flu dapat menjadi pilihan pengobatan, terutama bagi pasien berisiko tinggi komplikasi, dengan syarat dimulai sedini mungkin. Implikasi jangka panjang dari dominasi subclade K dan tingginya kematian anak-anak ini adalah potensi peningkatan beban pada sistem layanan kesehatan yang sudah tegang, dengan beberapa rumah sakit mulai menunda prosedur dan apotek menghadapi kekurangan Tamiflu. Ini juga menyoroti kebutuhan mendesak untuk pengembangan vaksin yang lebih adaptif terhadap evolusi virus influenza yang cepat serta peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya vaksinasi untuk mencegah hasil yang parah.