:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461025/original/001754500_1767334343-Pinggang_Semut.jpg)
Permintaan untuk memiliki pinggang yang sangat ramping telah mendorong sejumlah individu mencari prosedur bedah ekstrem, seperti operasi pemotongan tulang rusuk, sebuah praktik berbahaya yang kini disandingkan dengan efek dramatis dari obat penurun berat badan seperti Ozempic, namun tanpa pengawasan medis yang setara. Prosedur ini, yang melibatkan pengangkatan tulang rusuk bagian bawah, terutama tulang rusuk "mengambang" (floating ribs), dilakukan untuk menciptakan siluet tubuh jam pasir yang ekstrem, meskipun para ahli medis memperingatkan tentang risiko kesehatan serius yang menyertainya. Fenomena ini, yang sebagian besar dilakukan di klinik bedah kosmetik spesialis di berbagai negara, menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan komunitas medis dan regulator.
Para praktisi bedah plastik dan profesional kesehatan secara luas mengutuk operasi pemotongan tulang rusuk sebagai intervensi yang tidak perlu dan berpotensi merusak. Dr. Michael C. Edwards, seorang ahli bedah plastik bersertifikat dari The Aesthetic Society, dalam sebuah artikel, menyoroti bahwa pengangkatan tulang rusuk dapat mengganggu perlindungan organ vital seperti ginjal, hati, dan limpa, yang secara alami dilindungi oleh struktur tulang tersebut. Tulang rusuk memiliki fungsi penting dalam melindungi organ-organ internal dan mendukung postur tubuh. Pengorbanan fungsi vital ini demi estetika semata membawa konsekuensi yang tidak dapat diabaikan, mulai dari nyeri kronis, perubahan bentuk dada yang tidak alami, hingga peningkatan kerentanan terhadap cedera organ internal. Selain itu, seperti halnya setiap prosedur bedah mayor, risiko infeksi, pendarahan hebat, dan komplikasi anestesi juga mengintai.
Tren ini bukan fenomena baru; keinginan untuk pinggang yang sangat kecil telah ada selama berabad-abad, terlihat dari popularitas korset ketat di era Victoria. Namun, bedah pemotongan tulang rusuk membawa modifikasi tubuh ke tingkat yang jauh lebih invasif dan permanen. Berbeda dengan penggunaan korset yang dapat dilepas, pengangkatan tulang rusuk adalah keputusan ireversibel yang mengubah anatomi tubuh secara fundamental. Psikiater dan ahli perilaku juga mencatat adanya korelasi antara keinginan untuk operasi ekstrem semacam ini dengan gangguan dismorfik tubuh atau tekanan psikologis yang kuat untuk mencapai standar kecantikan yang tidak realistis. Peningkatan kesadaran akan efek "Ozempic face" atau "Ozempic body" yang menunjukkan penurunan berat badan drastis, telah menciptakan ekspektasi baru terhadap tubuh langsing. Namun, operasi pemotongan tulang rusuk menawarkan jalan pintas yang jauh lebih ekstrem dan berisiko tanpa manfaat kesehatan yang ditawarkan oleh obat-obatan yang disetujui untuk penurunan berat badan.
Meskipun data statistik global yang spesifik mengenai jumlah operasi pemotongan tulang rusuk sulit ditemukan karena sifatnya yang seringkali dilakukan di klinik-klinik khusus dan tidak selalu tercatat secara publik atau diakui oleh asosiasi bedah plastik arus utama, laporan dan diskusi di forum medis menunjukkan bahwa praktik ini masih berlangsung di beberapa negara di mana regulasi bedah kosmetik mungkin lebih longgar atau permintaan pasien sangat tinggi. American Society of Plastic Surgeons (ASPS) secara umum tidak mendukung prosedur ini sebagai praktik bedah plastik yang aman atau etis. Implikasi jangka panjang bagi individu yang menjalani prosedur ini mencakup tidak hanya risiko fisik tetapi juga potensi dampak psikologis yang signifikan jika hasil tidak memenuhi harapan atau jika komplikasi muncul bertahun-tahun kemudian. Konselor kesehatan dan ahli etika medis menyerukan regulasi yang lebih ketat dan edukasi publik yang lebih baik mengenai bahaya prosedur bedah kosmetik ekstrem yang tidak memiliki dasar medis yang kuat. Pertimbangan etis bagi dokter untuk menolak melakukan prosedur yang secara objektif berisiko dan tidak perlu juga menjadi perdebatan hangat dalam komunitas medis internasional.