Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak Akar Kebohongan Berulang dalam Relasi Romantis

2026-01-11 | 23:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T16:06:55Z
Ruang Iklan

Menguak Akar Kebohongan Berulang dalam Relasi Romantis

Frekuensi kebohongan yang berulang dalam hubungan interpersonal, melampaui kebohongan sesekali yang bersifat situasional, mengikis fondasi kepercayaan dan keintiman, seringkali berakar pada kompleksitas psikologis yang mendalam pada individu. Fenomena ini bukan sekadar tindakan disengaja untuk menipu, melainkan cerminan dari beragam kondisi mental dan pengalaman hidup yang membentuk pola perilaku destruktif, sebagaimana diungkap oleh para ahli di bidang kesehatan mental.

Kebohongan dalam hubungan dapat dibedakan menjadi kebohongan biasa dan kebohongan kompulsif, bahkan patologis. Kebohongan biasa umumnya memiliki tujuan yang jelas, seperti menghindari momen canggung atau melindungi perasaan seseorang, dan dilakukan secara tidak sering. Sebaliknya, kebohongan kompulsif terjadi terus-menerus dan tanpa tujuan yang jelas, seringkali sulit dikendalikan, serta berkaitan dengan emosi dan psikologis yang mendalam. Psikolog Ikhsan menjelaskan bahwa kebiasaan berbohong bisa berawal dari kebohongan kompulsif saat masih kecil, berkembang sebagai mekanisme pertahanan diri dari pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu.

Salah satu pendorong utama di balik kebohongan berulang adalah rasa takut dan ketidakamanan. Individu mungkin berbohong karena takut mengecewakan pasangannya, dimarahi, atau ingin selalu tampak baik di mata mereka. Dr. Phil. Qurotul Uyun, S.Psi., M.Si., Psikolog dari Universitas Islam Indonesia, menyebutkan bahwa motif ini sering kali berasal dari keinginan untuk menyembunyikan kesalahan atau menghindari tanggung jawab. Selain itu, rasa tidak aman atau insecure dapat membuat seseorang membandingkan diri dengan orang lain dan merasa tidak cukup baik, memicu kebutuhan untuk berbohong demi menjaga citra atau menghindari kritik negatif. Rendahnya harga diri juga menjadi faktor pemicu, di mana kebohongan digunakan untuk menutupi kekurangan atau kesalahan yang dirasakan.

Dalam kasus yang lebih parah, kebohongan ini bisa menjadi gejala dari gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian narsistik, misalnya, seringkali membuat individu memanipulasi fakta atau melebih-lebihkan perannya untuk mendapatkan kekaguman berlebihan. Individu dengan gangguan kepribadian ambang (borderline) mungkin berbohong secara kompulsif sebagai upaya untuk mengendalikan orang lain karena ketakutan ekstrem akan penolakan. Sementara itu, gangguan kepribadian antisosial dapat membuat penderitanya tidak dapat membedakan benar dan salah, sehingga kebohongan dilakukan tanpa penyesalan. Kebohongan patologis atau mythomania, yang merupakan kebiasaan berbohong terus-menerus tanpa motif yang jelas dan merugikan diri sendiri, diduga berkaitan dengan ketidakseimbangan kadar hormon kortisol di otak.

Implikasi dari kebohongan yang kerap terjadi dalam hubungan sangat merusak. Psikolog Ikhsan menekankan bahwa sering berbohong kepada pasangan akan menciptakan sekat, memunculkan batasan keintiman fisik maupun emosional, karena keintiman dibangun di atas kepercayaan. Dampak langsung pada pasangan yang menjadi korban kebohongan meliputi munculnya masalah kepercayaan (trust issues), kecemasan berlebih, kemarahan, kebingungan, mudah curiga, hingga perasaan tidak berharga. Ketidakamanan dan keraguan diri juga dapat merusak konsep diri pasangan, membuat mereka mempertanyakan kemampuan mereka untuk memahami hubungan. Pada akhirnya, kebohongan berulang mengurangi rasa saling menghargai dan dapat menyebabkan retaknya hubungan yang sulit diperbaiki.

Bagi pelakunya sendiri, kebiasaan berbohong menimbulkan beban psikologis yang signifikan. Mereka dapat mengalami rasa bersalah, malu, dan penurunan harga diri. Lebih jauh, hidup dalam kebohongan menempatkan individu pada kondisi kecemasan dan stres konstan karena takut kebohongannya terbongkar. Penelitian menunjukkan bahwa stres akibat berbohong dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk peningkatan risiko gangguan kecemasan dan depresi. Dalam kasus kebohongan patologis, individu bahkan mulai mempercayai kebohongannya sendiri, mengubah persepsi mereka terhadap realitas, yang dapat menyesatkan dan merugikan. Kondisi ini membutuhkan penanganan profesional, seringkali melalui terapi psikologis, untuk mengidentifikasi akar masalah dan membantu individu membangun perilaku yang lebih jujur dan adaptif. Mengatasi kebiasaan berbohong adalah langkah krusial untuk memulihkan kepercayaan, menjaga kesehatan mental, dan membangun hubungan yang lebih otentik dan berkelanjutan di masa depan.