Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Obesitas Penyakit Kompleks: Dokter Ungkap Rahasia Diet & Olahraga Efektif

2026-01-05 | 10:15 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-05T03:15:11Z
Ruang Iklan

Obesitas Penyakit Kompleks: Dokter Ungkap Rahasia Diet & Olahraga Efektif

Obesitas, yang kini diklasifikasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai penyakit kronis kambuhan yang kompleks, telah melampaui sekadar masalah berat badan berlebih, menimbulkan krisis kesehatan global dengan lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia hidup dengan kondisi tersebut pada tahun 2024, di mana hampir 3 miliar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Angka prevalensi obesitas pada orang dewasa di seluruh dunia meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1990, dan empat kali lipat pada remaja, menandakan perlunya pemahaman yang lebih mendalam di luar narasi sederhana mengenai asupan kalori dan pengeluaran energi. Para dokter dan ahli gizi kini menekankan bahwa obesitas merupakan interaksi rumit antara genetika, hormon, mikrobioma usus, faktor lingkungan, dan perilaku, yang menuntut pendekatan penanganan yang jauh lebih holistik dan personal.

Fenomena obesitas telah mengalami pergeseran signifikan dalam pemahaman medis. Dahulu, kondisi ini seringkali disederhanakan sebagai hasil dari kurangnya kemauan individu dalam mengontrol makan dan berolahraga. Namun, bukti ilmiah yang berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir telah mengungkap kompleksitas biologis dan lingkungan yang mendasarinya. Profesor Paul Zimmet dari International Diabetes and Obesity, Melbourne, menyatakan bahwa faktor keturunan adalah elemen utama, dengan lebih dari 300 gen dan kromosom yang terbukti berkaitan erat dengan obesitas. Gen-gen ini mempengaruhi berbagai aspek, mulai dari jumlah penyimpanan lemak dalam tubuh, distribusinya, efisiensi tubuh dalam mengubah makanan menjadi energi, hingga pembakaran kalori saat berolahraga. Misalnya, mutasi pada gen FTO dapat meningkatkan risiko obesitas hingga 1,5 kali dan penambahan berat badan 3 kg lebih besar pada individu dengan varian tertentu. Selain itu, jika kedua orang tua menderita obesitas, peluang seorang anak untuk mengalami kondisi serupa meningkat drastis menjadi 70-80%.

Aspek hormonal juga memainkan peran krusial. Dr. Riyanny menjelaskan bahwa hormon-hormon di otak sangat penting dalam mengatur rasa lapar, kenyang, dan keseimbangan energi, serta faktor genetik turut memengaruhi. Hormon leptin, yang memberi sinyal kenyang ke otak, dan ghrelin, yang meningkatkan nafsu makan, dapat mengalami disregulasi pada individu dengan obesitas, seringkali karena mutasi genetik yang mengganggu produksinya atau reseptornya. Penurunan hormon estrogen, khususnya pada wanita menopause, juga dapat memperlambat metabolisme basal tubuh dan meningkatkan kecenderungan kenaikan berat badan.

Lebih jauh lagi, ilmu pengetahuan modern menyoroti peran mikrobioma usus, komunitas mikroorganisme yang menghuni saluran pencernaan manusia, sebagai faktor lingkungan kunci dalam perkembangan obesitas. Ketidakseimbangan komposisi mikrobiota usus atau disbiotik, seperti peningkatan rasio bakteri Firmicutes dibandingkan Bacteroidetes, telah dikaitkan dengan peningkatan ekstraksi energi dari makanan, perubahan jalur metabolik, inflamasi, dan disregulasi hormon usus. Mikrobiota usus dapat memfermentasi karbohidrat yang tidak dapat dicerna menjadi asam lemak rantai pendek (SCFA), yang, meskipun menyediakan energi tambahan bagi tubuh, juga dapat mempengaruhi regulasi hormon yang mengatur nafsu makan.

Dalam konteks makan dan olahraga, Dr. Aseem Malhotra, seorang ahli jantung, menegaskan bahwa diet yang buruk jauh lebih berpengaruh daripada kurangnya aktivitas fisik dalam menyebabkan obesitas. Ia dengan tegas menyatakan, "Anda tidak bisa lari dari diet yang buruk." Pernyataan ini didukung oleh temuan bahwa tingkat aktivitas fisik manusia tidak banyak berubah selama 30 tahun terakhir, sementara tingkat obesitas dan diabetes justru meroket. Senada, pakar gizi masyarakat Dr. Tan Shot Yen, MHum, memperingatkan bahwa konsep "boleh makan bebas asal olahraga" adalah keliru dan tidak dapat menghasilkan tubuh yang sehat dan berat badan ideal. Keduanya, baik pola makan teratur maupun aktivitas fisik, harus dilakukan secara beriringan sebagai pilar utama gizi seimbang.

Meskipun demikian, olahraga tetap menjadi komponen penting dari manajemen berat badan. Dr. Stella E. Bella, M. Gizi, SpGK, menyarankan bagi penderita obesitas untuk melakukan olahraga ringan yang tidak terlalu membebani kaki, seperti berjalan pelan atau berjalan di dalam air (aquagym), selama 30-60 menit, tiga hingga lima kali seminggu untuk konsistensi hasil. Ketua Tim Kerja Penyakit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik Kementerian Kesehatan, dr. Esti Widiastuti, MScPH, juga menyoroti kurangnya aktivitas fisik sebagai salah satu faktor pemicu obesitas, yang diperparah oleh gaya hidup modern dengan penggunaan ponsel pintar yang tidak terkontrol.

Prevalensi obesitas yang terus meningkat memiliki implikasi jangka panjang yang serius. Obesitas meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 (90% penderita diabetes tipe 2 memiliki berat badan berlebih), penyakit jantung (risiko 3 kali lebih tinggi), stroke, hipertensi, fatty liver, gout, hingga 13 jenis kanker. Kondisi ini juga dapat memperpendek harapan hidup hingga 5-10 tahun. World Obesity Atlas 2024 memproyeksikan bahwa jumlah orang dewasa dengan obesitas akan meningkat dari 0,81 miliar pada tahun 2020 menjadi 1,53 miliar pada tahun 2035, dengan 79% di antaranya diperkirakan berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMIC), menunjukkan kesenjangan masif dalam layanan kesehatan dan nutrisi.

Melihat kompleksitas ini, penanganan obesitas membutuhkan pendekatan multidisiplin yang komprehensif. Selain modifikasi gaya hidup melalui pengaturan pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan konseling perilaku, pilihan farmakoterapi dengan obat-obatan seperti semaglutide, orlistat, dan liraglutide kini tersedia di Indonesia sebagai lini kedua. Untuk kasus obesitas morbid, pembedahan bariatrik dapat menjadi pilihan. Pendekatan ini harus bersifat personal dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, mempertimbangkan faktor genetik, hormonal, dan gaya hidup secara keseluruhan, bukan sekadar mengurangi berat badan. Pengelolaan obesitas yang efektif tidak hanya bertujuan menurunkan berat badan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dan mencegah komplikasi penyakit serius dalam jangka panjang.