Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

One Meal a Day: Menguak Diet Jung Kook BTS yang Sedang Tren

2026-01-10 | 16:56 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T09:56:12Z
Ruang Iklan

One Meal a Day: Menguak Diet Jung Kook BTS yang Sedang Tren

Penyanyi dan anggota grup K-pop fenomenal BTS, Jung Kook, baru-baru ini secara publik mengindikasikan menjalani diet One Meal a Day (OMAD), memicu kembali perdebatan mengenai praktik pembatasan makan ekstrem di tengah popularitasnya. Diet OMAD, yang mengusung prinsip mengonsumsi seluruh kalori harian dalam satu sesi makan singkat, biasanya dalam durasi satu jam, telah menarik perhatian sebagai metode penurunan berat badan dan peningkatan kesehatan metabolik, meskipun para ahli gizi dan medis menyuarakan kekhawatiran signifikan mengenai potensi risiko dan keberlanjutan jangka panjangnya.

Praktik OMAD merupakan bentuk ekstrem dari puasa intermiten, di mana individu membatasi jendela makan mereka secara drastis, seringkali puasa selama sekitar 23 jam setiap hari. Popularitas OMAD telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar didorong oleh klaim penurunan berat badan cepat dan manfaat kesehatan lainnya seperti peningkatan sensitivitas insulin dan proses autofagi, mekanisme pembersihan sel tubuh. Namun, bukti ilmiah yang mendukung klaim ini untuk jangka panjang masih terbatas dan sebagian besar didasarkan pada studi kecil atau penelitian pada hewan, belum ada konsensus ilmiah kuat yang merekomendasikan OMAD sebagai pendekatan diet yang aman dan efektif untuk populasi umum.

Dr. Mindy Pelz, seorang ahli puasa intermiten yang kerap dikutip, menyatakan bahwa OMAD dapat menjadi alat yang ampuh untuk memecah resistensi insulin dan meningkatkan pembakaran lemak. Di sisi lain, Dr. Melissa Majumdar, ahli diet terdaftar dan juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics, memperingatkan bahwa diet ketat seperti OMAD dapat menyebabkan kekurangan nutrisi penting, terutama jika makanan tunggal yang dikonsumsi tidak kaya akan berbagai vitamin dan mineral esensial. Konsumsi kalori yang tidak memadai dapat berakibat pada kelelahan, pusing, dan penurunan fungsi kognitif. Selain itu, pembatasan makan yang ekstrem berpotensi memicu perilaku makan tidak sehat atau gangguan makan, terutama pada individu yang rentan.

Penelitian yang diterbitkan dalam "Journal of the American Heart Association" pada tahun 2023 menemukan bahwa mereka yang makan lebih dari satu kali sehari cenderung memiliki kesehatan kardiovaskular yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang makan hanya satu kali sehari. Studi tersebut menyoroti pentingnya pola makan yang teratur dan asupan nutrisi yang stabil untuk mendukung fungsi organ vital secara optimal. Sementara itu, sebuah tinjauan sistematis tahun 2022 terhadap puasa intermiten yang diterbitkan di "Nutrition Reviews" menunjukkan bahwa meskipun puasa intermiten dapat membantu penurunan berat badan, efeknya seringkali sebanding dengan metode pembatasan kalori tradisional, dan ketersediaan data jangka panjang mengenai OMAD secara khusus masih sangat minim.

Dampak dari pengungkapan selebriti mengenai praktik diet seperti OMAD tidak dapat diremehkan. Dengan basis penggemar global yang masif, pengikut Jung Kook mungkin terinspirasi untuk mencoba diet ini tanpa memahami sepenuhnya implikasi kesehatan dan kebutuhan nutrisi pribadi mereka. Dokter dan ahli gizi menekankan pentingnya konsultasi dengan profesional kesehatan sebelum memulai diet restriktif apa pun, terutama bagi individu dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya. Pendekatan "satu ukuran untuk semua" dalam diet seringkali terbukti tidak efektif dan bahkan berbahaya. Implikasi jangka panjang dari diet OMAD terhadap kesehatan tulang, hormon, dan metabolisme belum sepenuhnya dipahami, menimbulkan pertanyaan serius tentang kelayakan dan keamanannya sebagai gaya hidup berkelanjutan di luar tren sesaat.