:strip_icc()/kly-media-production/medias/4840920/original/049474400_1716467732-milk-glass-chicken-eggs-light-brown-textile-background-healthy-eating_73107-575.jpg)
Kadar kolin yang rendah dalam tubuh memiliki korelasi kuat dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan, sebuah temuan yang mendorong para pakar untuk menganjurkan peningkatan konsumsi produk peternakan sebagai upaya mitigasi. Penelitian terbaru oleh tim dari University of California, Davis, Amerika Serikat, menemukan bahwa individu yang mengalami gangguan kecemasan secara konsisten menunjukkan kadar kolin yang lebih rendah di wilayah otak utama yang mengatur pemikiran dan emosi. Korelasi ini mengindikasikan bahwa ketidakseimbangan nutrisi, khususnya defisiensi kolin, turut berperan dalam fenomena kesehatan mental yang marak di tengah gaya hidup modern penuh tekanan.
Kolin merupakan nutrisi esensial yang memegang peranan vital dalam menjaga kesehatan sel, fungsi kognitif, dan memori. Nutrisi ini sangat penting untuk pembentukan asetilkolin, sebuah neurotransmitter kunci yang memengaruhi fungsi otak dan regulasi suasana hati. Kekurangan kolin dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan fungsi hati dan otot, serta memengaruhi stabilitas emosi.
Di Indonesia, prevalensi gangguan kecemasan menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2024, prevalensi gangguan kecemasan pada remaja hingga orang dewasa mencapai 68,7%. Sementara itu, Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional (I-NAMHS) tahun 2022 melaporkan bahwa satu dari tiga remaja (34,9%), atau setara 15,5 juta remaja, mengalami masalah kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan menjadi yang paling banyak diderita (3,7%). Data ini menyoroti urgensi penanganan masalah kesehatan mental dari berbagai pendekatan, termasuk nutrisi.
Guru Besar bidang Genetika dan Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan IPB, Prof. Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa meskipun tubuh manusia dapat memproduksi kolin secara alami, jumlahnya sangat terbatas. Oleh karena itu, asupan dari makanan menjadi satu-satunya cara efektif untuk memenuhi kebutuhan harian. Rekomendasi asupan kolin harian bervariasi, namun umumnya berkisar 425 mg per hari untuk wanita dewasa dan 550 mg per hari untuk pria dewasa. Ibu hamil memerlukan asupan lebih tinggi, sekitar 450 mg per hari, dan ibu menyusui 550 mg per hari, karena penting untuk perkembangan otak janin dan bayi.
Produk peternakan diidentifikasi sebagai sumber kolin utama yang paling mudah diserap oleh tubuh. Hati sapi merupakan salah satu sumber kolin terkaya, dengan satu iris (68 gram) mengandung sekitar 290 mg kolin. Telur juga menjadi pilihan yang sangat baik dan terjangkau, di mana satu butir telur rebus besar dapat menyediakan sekitar 164 mg kolin, serta kaya lutein untuk kesehatan otak dan mata. Daging sapi, dada ayam, dan ikan salmon turut menyediakan kolin dalam jumlah signifikan. Sementara itu, sumber nabati seperti kacang kedelai, brokoli, kembang kol, dan bayam juga mengandung kolin, meskipun mungkin dalam jumlah yang lebih rendah atau penyerapan yang berbeda.
Peningkatan kebutuhan otak akan nutrisi ini, terutama di tengah stres berkepanjangan yang dapat menguras kadar nutrisi otak, menjadikan asupan kolin yang adekuat semakin krusial. Implikasi jangka panjang dari defisiensi kolin dapat meliputi penurunan fungsi kognitif seperti memori, konsentrasi, dan kemampuan belajar, serta perubahan suasana hati. Menjaga kecukupan kolin melalui diet seimbang, terutama dengan memanfaatkan produk peternakan yang kaya nutrisi ini, menjadi strategi penting dalam mendukung kesehatan mental dan fungsi kognitif di seluruh tahapan kehidupan.