Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Peringatan Keras! Pria Bugar 23 Tahun Kena Stroke, Pemicunya Kebiasaan Begadang

2026-01-06 | 20:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-06T13:44:52Z
Ruang Iklan

Peringatan Keras! Pria Bugar 23 Tahun Kena Stroke, Pemicunya Kebiasaan Begadang

Anak muda yang sebelumnya dianggap bugar semakin rentan mengalami stroke, sebuah kondisi medis serius yang secara tradisional diidentikkan dengan populasi lansia. Pergeseran epidemiologi ini mengkhawatirkan, dengan kebiasaan begadang atau kurang tidur menjadi salah satu faktor risiko gaya hidup signifikan yang memicu lonjakan kasus pada usia produktif. Dr. dr. Rakhmad Hidayat, Sp.S(K), MARS, seorang dokter spesialis neurologi dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, menekankan bahwa gaya hidup seperti begadang dan minim aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko stroke di usia muda, khususnya pada kelompok usia 30-an.

Peningkatan kasus stroke pada usia muda telah menjadi perhatian global dan nasional. Di Indonesia, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk pada usia 15 tahun ke atas. Meskipun terjadi sedikit penurunan dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 yang mencatat 19,9% kasus pada rentang usia 15-54 tahun, angka ini tetap signifikan, menunjukkan bahwa ratusan ribu penduduk usia produktif masih berisiko. Bahkan, selama satu dekade terakhir, terdapat peningkatan jumlah kasus stroke usia muda sebesar 67%. Beberapa studi mengindikasikan bahwa 10-15% dari seluruh kasus stroke terjadi pada usia 18-50 tahun.

Keterkaitan antara begadang dan stroke tidak selalu langsung, melainkan melalui serangkaian mekanisme fisiologis yang terganggu akibat kurang tidur kronis. Kurang tidur, didefinisikan sebagai tidur kurang dari enam jam per malam secara konsisten, mengganggu kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri. Saat tidur, tekanan darah seharusnya menurun, denyut jantung melambat, dan hormon stres seperti kortisol berkurang. Namun, saat seseorang sering begadang, proses ini terganggu, memicu respons fisiologis berbahaya.

Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan hormon kortisol, yang berperan dalam meningkatkan tekanan darah dan memicu peradangan pada pembuluh darah. Disregulasi ini dapat menyebabkan tekanan darah tetap tinggi bahkan di malam hari, yang dikenal sebagai "non-dipping blood pressure," meningkatkan risiko hipertensi kronis. Hipertensi merupakan faktor risiko utama stroke. Selain itu, kurang tidur memengaruhi sensitivitas insulin, menyebabkan tubuh kurang efisien mengelola gula darah dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2, yang juga merupakan faktor risiko stroke. Gangguan metabolisme ini juga dapat memicu obesitas, faktor risiko lain yang berkontribusi pada kejadian stroke.

Dr. Winda Kusumadewi, seorang dokter spesialis saraf, menjelaskan bahwa kebiasaan begadang secara tidak langsung dapat menyebabkan stroke karena memicu penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Senada dengan itu, Profesor Francesco Cappuccio dari University of Warwick Medical School menemukan bahwa orang yang tidur kurang dari enam jam per malam memiliki peluang 48 persen lebih besar untuk meninggal akibat penyakit jantung dan 15 persen lebih besar untuk terkena serangan stroke. Studi lain yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology bahkan menyebutkan bahwa orang yang terbiasa tidur kurang dari delapan jam per malam berisiko mengalami stroke empat kali lebih tinggi.

Implikasi jangka panjang dari pergeseran tren stroke ke usia muda sangat luas, baik secara ekonomi maupun sosial. Penderita stroke di usia produktif memerlukan perawatan medis yang lebih lama dan berbiaya besar, membebani sistem kesehatan dan produktivitas individu. Data BPJS Kesehatan tahun 2018 menunjukkan stroke menghabiskan dana sebesar 2,56 triliun rupiah, dan angka ini terus meningkat menjadi 5,2 triliun rupiah pada tahun 2023.

Pencegahan stroke pada usia muda menuntut perubahan gaya hidup yang drastis. Dr. dr. Rakhmad Hidayat menyarankan perbaikan gaya hidup termasuk olahraga teratur, pola makan seimbang, serta pengelolaan stres untuk mengurangi kemungkinan terjadinya stroke dan memungkinkan seseorang hidup sehat. Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa 90% penyakit stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dislipidemia, gangguan jantung, kurangnya aktivitas fisik, diet tidak sehat, stres, dan konsumsi alkohol. Kampanye deteksi dini dan edukasi tentang bahaya kurang tidur menjadi krusial untuk melindungi generasi muda dari ancaman stroke yang semakin nyata.