
Anak-anak dapat mengembangkan perasaan benci yang mendalam terhadap ibu kandung mereka, sebuah fenomena kompleks yang seringkali berakar pada dinamika hubungan yang rumit sejak masa kanak-kanak. Psikolog klinis dan profesor di Yeshiva University, New York City, Sabrina Romanoff, PsyD, menjelaskan bahwa individu umumnya memendam kebencian terhadap ibunya ketika merasa diperlakukan tidak adil, diabaikan, atau disakiti. Perasaan ini muncul tatkala ibu gagal memenuhi harapan ideal seorang anak tentang sosok keibuan yang penuh kasih sayang dan dukungan.
Latar belakang masalah ini terletak pada peran sentral ibu dalam perkembangan anak. Ibu memiliki tanggung jawab besar dalam memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anak sejak dini, menciptakan ikatan yang sangat erat. Namun, kedekatan ini juga dapat menimbulkan ekspektasi tinggi yang sulit dipenuhi oleh seorang ibu, yang juga adalah manusia dengan keterbatasan. Romanoff menekankan bahwa ibu, layaknya manusia lain, tidak sempurna dan memiliki sifat baik serta buruk. Pengalaman anak terhadap ibu bergantung pada seberapa besar kekurangan ibu dan kapasitas anak untuk menerima kesalahan tersebut.
Pola asuh yang tidak konsisten menjadi salah satu pemicu utama. Ibu yang sering berubah pikiran, kurang tegas, minim aturan, atau tidak berinteraksi secara stabil dapat membuat anak kesulitan mempercayai mereka sebagai sosok yang bisa diandalkan. Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang tidak konsisten berpotensi memicu rasa cemas pada anak. Selain itu, rasa dendam yang menumpuk seiring waktu dapat berasal dari kemarahan yang belum terselesaikan akibat pengabaian, pelecehan, atau trauma lain selama masa kanak-kanak. Anak juga dapat merasa kesal jika orang tua tidak memberikan dukungan saat dibutuhkan, terlalu kritis, menuntut berlebihan, gagal melindungi dari luka, atau tidak membuat anak merasa diterima dan dicintai.
Faktor lain yang berkontribusi meliputi kepribadian anak, masalah kesehatan mental, dan gaya komunikasi dalam keluarga. Psikolog klinis anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog, menyoroti bahwa pengasuhan yang didelegasikan kepada pihak lain, seperti kakek-nenek atau asisten rumah tangga, dapat menjadi indikasi sikap abai orang tua, yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak. Anak yang merasa tidak dipahami atau dimengerti oleh orang tuanya berisiko mengalami gangguan kesehatan mental.
Implikasi jangka panjang dari kebencian anak terhadap ibu sangat signifikan. Hubungan yang terganggu ini tidak hanya membahayakan ikatan keluarga, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan anak menjalin hubungan romantis dan sosial di kemudian hari. Anak yang tumbuh dalam lingkungan konflik orang tua cenderung mengalami kecemasan, ketakutan, kesulitan dalam mengatur emosi, hingga penurunan kinerja akademis. Stres kronis akibat konflik keluarga dapat menguras sumber daya kognitif anak, menghambat konsentrasi, dan bahkan mengurangi kecerdasan. Dalam beberapa kasus ekstrem, anak yang menjadi korban Parental Alienation Syndrome (PAS), di mana salah satu orang tua memanipulasi anak untuk membenci orang tua lainnya, dapat mengalami harga diri rendah dan membenci diri sendiri.
Fenomena ini menggarisbawahi pentingnya intervensi dini dan dukungan psikologis bagi keluarga. Orang tua perlu menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan emosional anak, dengan komunikasi terbuka dan pola asuh yang konsisten. Mengelola ekspektasi terhadap diri sendiri sebagai orang tua dan juga terhadap anak, serta memahami bahwa setiap individu memiliki keterbatasan, merupakan langkah krusial dalam membangun hubungan ibu-anak yang sehat dan resilient.