Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Relawan Aceh: Memulihkan Luka Batin Anak Korban Banjir dengan Pendampingan Psikososial

2026-01-15 | 03:55 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T20:55:57Z
Ruang Iklan

Relawan Aceh: Memulihkan Luka Batin Anak Korban Banjir dengan Pendampingan Psikososial

Ratusan anak korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Tengah, Aceh, mulai menunjukkan pemulihan psikologis melalui pendampingan intensif dari berbagai kelompok relawan pasca bencana hidrometeorologi parah yang melanda provinsi tersebut sejak November 2025. Intervensi psikososial yang berfokus pada permainan, seni, dan interaksi sosial menjadi krusial di tengah kondisi pengungsian yang masih menantang.

Banjir bandang dan tanah longsor pada akhir 2025 telah menyebabkan kerusakan luar biasa di 16 kabupaten/kota di Aceh. Hingga 14 Januari 2026, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan 155.193 jiwa atau 49.800 kepala keluarga masih bertahan di 988 titik pengungsian. Kabupaten Aceh Utara mencatat jumlah pengungsi tertinggi dengan 67.876 jiwa, disusul Aceh Tamiang dengan 26.040 jiwa. Ribuan anak menjadi kelompok rentan yang terdampak, dengan data BNPB per 15 Desember 2025 menunjukkan 9.327 anak-anak, 9.184 balita, dan 1.786 bayi berada di pengungsian.

Kondisi psikologis anak-anak korban bencana ini sangat rentan. Dr. Zaki, dalam perbincangan dengan RRI Banda Aceh pada 13 Desember 2025, menekankan bahwa dampak psikologis harus mendapat perhatian serius karena dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak dalam jangka panjang. Anak-anak seringkali mengalami ketakutan berlebihan terhadap hujan atau air, kecemasan, gangguan tidur, bahkan perilaku regresif seperti mengompol dan mudah marah. Lingkungan pengungsian yang darurat, keterbatasan listrik, dan ketidakpastian memperburuk kondisi mental mereka. Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih menambahkan bahwa pengalaman traumatis terekam sebagai ancaman di otak anak-anak karena kapasitas emosional mereka belum matang untuk memahami kejadian tersebut. Skrining gizi juga menemukan penurunan berat badan pada sejumlah anak pascabencana.

Dalam upaya memulihkan kondisi ini, Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) gencar melakukan kegiatan trauma healing di Kabupaten Aceh Tamiang. Dr. Muhammad Fahriza SA, MARS, relawan TCK Kemenkes Batch II, di Desa Sukajadi, Aceh Tamiang, pada 13 Januari 2026, menjelaskan metode pendekatan yang sederhana namun menyenangkan, seperti permainan, menggambar, menyanyi, dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Wandi, relawan TCK Kemenkes lainnya, yang beraktivitas di Masjid Mushola Al-Falah, Dusun Malang, Desa Mekar Jaya, Rantau, Aceh Tamiang, pada 14 Januari 2026, mengungkapkan bahwa setiap hasil karya anak-anak diapresiasi dengan hadiah untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

Organisasi kemanusiaan Save The Children Indonesia juga membuka layanan psikososial yang disebut "Ruang Sahabat Anak" di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, dan Desa Alue Anoe Timu, Aceh Utara. Direktur Humanitarian Save The Children Indonesia, Fadli Usman, pada 9 Januari 2025, menjelaskan bahwa layanan ini mengajak anak-anak berkreasi dan mengekspresikan diri, serta merujuk kasus kecemasan berlebih kepada psikolog profesional. Mereka juga menyalurkan "Back To School Kit" untuk mendukung pendidikan darurat.

Tak hanya itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Aceh Tengah turut menggelar trauma healing di Kemukiman Wih Dusun Jamat, Kecamatan Linge, pada 10 Januari 2026, dengan menciptakan ruang aman dan menyenangkan melalui aktivitas edukatif dan permainan. Koordinator Tim Trauma Healing Wahdah Peduli, Wahidin Nur, saat beraksi di Desa Babo, Aceh Tamiang pada 29 Desember 2025, menegaskan pentingnya membuat anak-anak merasa aman dan tidak sendirian agar perlahan melupakan pengalaman traumatis. Sementara itu, Ikatan Agam Inong Aceh juga menunjukkan kepedulian dengan turun langsung ke Desa Geudumbak, Aceh Utara, pada 28 Desember 2025, menggabungkan pendampingan psikososial dengan aksi kemanusiaan. Bahkan, personel Brimob Polri di SMP Swasta Islam Kuala Simpang, Aceh Tamiang, pada 8 Januari 2026, mengemas trauma healing dengan mengajarkan dasar-dasar public speaking untuk melatih keberanian dan semangat belajar anak.

Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Sosial telah mengerahkan sekitar 200 relawan untuk Layanan Dukungan Psikososial (LDP) di berbagai titik pengungsian, sebagaimana disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Aceh, Chaidir, pada 17 Desember 2025. Kemenkes juga mengirimkan 126 relawan dokter dan psikolog untuk mengatasi lonjakan penyakit dan trauma pascabencana di Aceh. Namun, pendataan yang konkret dan terperinci terkait kelompok rentan, termasuk perempuan hamil, bayi, dan balita, masih menjadi kendala di Aceh Utara, menghambat penanganan yang tepat sasaran.

Aceh, dengan sejarah panjang bencana termasuk tsunami 2004, memiliki kerentanan tinggi terhadap dampak psikologis bencana berulang. Banjir akhir 2025 disebut sebagai yang terburuk dalam dua dekade terakhir, sebagian dipicu oleh kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai. Trauma yang tidak tertangani dapat membentuk konsep diri negatif yang menetap, menghambat perkembangan akademik, dan memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD) berkepanjangan pada anak. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat sipil dalam jangka panjang sangat diperlukan untuk memastikan pemulihan menyeluruh, tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga kesehatan mental generasi muda Aceh.