:strip_icc()/kly-media-production/medias/5338748/original/047708300_1756979401-unnamed-6.jpg)
Di tepian Rawa Pening, Semarang, gulma eceng gondok yang dulunya dianggap sebagai hama perusak ekosistem dan mengganggu mata pencarian nelayan, kini telah bertransformasi menjadi sumber penghidupan baru bagi warga Desa Kesongo. Inilah kisah di balik Bengok Craft, sebuah inisiatif kerajinan yang berhasil mengubah limbah lingkungan menjadi berbagai produk bernilai tinggi, termasuk item dekorasi rumah yang menarik.
Didirikan pada tahun 2019 oleh Firman Setyaji, seorang pemuda berusia 33 tahun, Bengok Craft lahir dari keprihatinan akan melimpahnya eceng gondok yang menutupi permukaan Danau Rawa Pening. Firman melihat potensi dalam tanaman yang secara lokal disebut "bengok" ini, tidak hanya sebagai solusi lingkungan tetapi juga sebagai jalan untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Tiga pilar utama menjadi fondasi Bengok Craft: peningkatan ekonomi masyarakat, pengembangan sosial melalui pemberdayaan, dan perlindungan lingkungan Rawa Pening dengan meminimalisir pertumbuhan eceng gondok.
Proses pengolahan eceng gondok menjadi kerajinan tangan dimulai dengan memilih tanaman berkualitas, mengeringkannya, lalu mengolahnya menggunakan berbagai teknik seperti anyaman dengan model kubu dan palet, serta teknik kepang. Dari tangan-tangan terampil para pengrajin, eceng gondok disulap menjadi beragam produk, termasuk kategori dekorasi rumah yang unik dan berkarakter. Produk-produk ini mencakup kotak tisu, keranjang serbaguna, keset, dan berbagai hiasan yang menghadirkan sentuhan etnik dan rustic pada interior hunian.
Bengok Craft tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat. Saat ini, usaha tersebut mempekerjakan sekitar 20 pegawai yang mayoritas adalah lansia dan ibu-ibu dari sekitar Rawa Pening. Keterlibatan warga dalam proses produksi ini memberikan penghasilan tambahan dan kebanggaan sosial, membuktikan bahwa desa memiliki potensi besar dalam ekonomi kreatif. Bengok Craft juga menerapkan prinsip zero waste dalam proses produksinya, mengolah kembali sisa kerajinan menjadi produk baru.
Perjalanan Bengok Craft selama lima tahun telah membuktikan kesuksesannya. Produk-produknya tidak hanya diminati di pasar domestik, dengan sekitar 70% penjualan berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, tetapi juga telah menembus pasar internasional. Kerajinan eceng gondok dari Desa Kesongo ini telah diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Jepang, Italia, Dubai, dan Spanyol. Pencapaian ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk program BRI UMKM EXPO(RT) dan Pertamina UMK Academy. Firman Setyaji melaporkan bahwa omzet Bengok Craft mampu mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya. Kisah Bengok Craft menjadi inspirasi nyata bagaimana kreativitas dan kepedulian dapat mengubah masalah lingkungan menjadi peluang global, sekaligus menghadirkan kebanggaan baru bagi warga desa di tepi Danau Rawa Pening.