:strip_icc()/kly-media-production/medias/5427747/original/069563500_1764411879-IMG-20251129-WA0011.jpg)
Bencana banjir bandang dan tanah longsor telah melanda sebagian besar wilayah Pulau Sumatra sejak akhir November 2025, memicu krisis kemanusiaan dan kerusakan infrastruktur yang signifikan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dalam respons cepat terhadap situasi darurat ini, relawan Gunung, Rimba dan Laut (GURILA) dari InJourney Group telah dikerahkan bersama dengan bantuan logistik darurat untuk membantu para korban.
Bencana hidrometeorologi ini, yang bermula dari hujan deras intensitas tinggi secara terus-menerus sejak sekitar 21-23 November 2025, telah merenggut sedikitnya 174 nyawa, menyebabkan 79 orang hilang, dan 12 lainnya luka-luka di tiga provinsi terdampak. Puluhan ribu warga terpaksa mengungsi, dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 12.546 kepala keluarga mengungsi hingga Jumat sore, 28 November 2025. Di Sumatra Utara, jumlah korban meninggal mencapai 116 orang, sementara di Sumatra Barat tercatat 23 korban jiwa, dan di Aceh sebanyak 35 korban jiwa.
Kerusakan infrastruktur sangat meluas, termasuk putusnya akses jalan utama, rusaknya jembatan, dan lumpuhnya 799 situs komunikasi di Aceh. Di Sumatra Utara, bencana terjadi serentak di sejumlah wilayah seperti Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Sementara di Sumatra Barat, dampak bencana tercatat lebih meluas hingga mencakup 13-14 kabupaten/kota seperti Padang Pariaman, Kota Padang, dan Agam.
InJourney Group, melalui tim relawan GURILA, berkomitmen untuk selalu hadir membantu masyarakat terdampak bencana dengan memastikan seluruh dukungan dapat menjangkau wilayah yang paling membutuhkan secara cepat dan terkoordinasi. Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Sumatra Barat telah ditetapkan sebagai pusat kendali Satuan Tugas (Satgas) BUMN untuk mempercepat distribusi bantuan. Relawan GURILA terdiri dari karyawan InJourney Airports yang memiliki kemampuan dalam penanganan bencana dan terjun langsung ke lokasi.
Berbagai kebutuhan pokok diangkut menggunakan pesawat, mulai dari tenda pengungsian, makanan siap saji, matras, family kit, pakaian, perlengkapan kebersihan, obat-obatan, hingga peralatan dapur umum. Bantuan logistik juga mencakup beras, minyak goreng, telur, mie instan, air mineral, susu, popok bayi, family kit, handuk, selimut, dan obat-obatan. Kementerian Sosial (Kemensos) sendiri telah menyalurkan bantuan senilai miliaran rupiah, dengan rincian Rp3 miliar untuk Aceh, lebih dari Rp6 miliar untuk Sumatra Utara, dan lebih dari Rp600 juta untuk Sumatra Barat. Selain itu, Kemensos juga mengaktifkan lebih dari 700 lumbung sosial di kabupaten/kota rawan bencana sebagai gudang logistik terdekat dan mendirikan dapur umum yang telah menjangkau 14.441 jiwa.
Pemerintah juga mengerahkan 11 helikopter TNI dan Basarnas dari Jakarta untuk mempercepat penanganan bencana, terutama untuk mendistribusikan logistik ke wilayah terdalam dan daerah yang jalur daratnya terputus. TNI AU telah mengirim helikopter Caracal H-225M untuk mendistribusikan 2.200 kg bantuan logistik ke Sibolga. Status tanggap darurat telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Utara dan Sumatra Barat selama 14 hari, masing-masing hingga 8 Desember dan 11 Desember 2025. Upaya penanganan bencana ini merupakan operasi kemanusiaan terpadu yang dipimpin oleh Kepala BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, dan Pemerintah Daerah.