Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Misteri Remaja Bogor Viral: Kecanduan Es Batu Ternyata Gejala Anemia?

2025-11-27 | 11:55 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-27T04:55:12Z
Ruang Iklan

Misteri Remaja Bogor Viral: Kecanduan Es Batu Ternyata Gejala Anemia?

Kasus seorang remaja putri berusia 19 tahun di Bogor yang viral di media sosial karena kebiasaan mengonsumsi es batu secara berlebihan, terungkap sebagai gejala anemia, memicu perhatian publik terhadap kondisi kesehatan ini. Remaja bernama Cippie tersebut membagikan kisahnya di TikTok, mengungkapkan bahwa kebiasaan anehnya tersebut adalah tanda awal dari anemia defisiensi zat besi yang baru disadarinya setelah pemeriksaan medis.

Cippie menceritakan bahwa gejala anemia yang dialaminya meliputi haid yang tidak kunjung berhenti selama berbulan-bulan, pusing, lemas, dan jantung berdebar. Saat diperiksa, kadar hemoglobinnya hanya 7 g/dL, jauh di bawah batas normal. Ia juga mengakui pola hidup yang tidak sehat, termasuk jarang mengonsumsi sayuran, ikan, atau daging, sering makan junk food, dan kerap begadang. Dokter yang menanganinya menjelaskan bahwa kebiasaan mengunyah es batu yang dikenal sebagai pagophagia, bisa menjadi indikasi defisiensi zat besi atau anemia.

Pagophagia adalah bentuk dari pica, yaitu kondisi di mana seseorang memiliki keinginan kompulsif untuk mengonsumsi zat non-nutrisi, seperti es, tanah liat, atau kertas. Meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, keinginan kuat untuk mengunyah es sering kali dikaitkan dengan defisiensi zat besi, baik dengan maupun tanpa anemia. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan ini; salah satu studi menemukan 16% peserta dengan anemia juga mengalami pagophagia, dan studi lain mencatat 13 dari 81 pasien anemia menunjukkan gejala serupa. Sebuah teori menyebutkan bahwa mengunyah es dapat memberikan sensasi lega pada lidah yang bengkak, yang merupakan salah satu gejala anemia defisiensi besi. Teori lain mengemukakan bahwa tindakan ini dapat meningkatkan kewaspadaan pada individu yang mengalami kekurangan zat besi. Penting untuk dicatat bahwa suplementasi zat besi telah terbukti efektif dalam mengurangi atau menghentikan keinginan mengunyah es pada penderita anemia.

Anemia pada remaja, terutama defisiensi zat besi, merupakan masalah kesehatan yang umum. Penyebab utamanya adalah kurangnya asupan zat besi yang memadai dalam makanan, yang krusial untuk produksi hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang mengikat oksigen. Remaja putri memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia karena kehilangan darah selama menstruasi. Selain itu, kekurangan vitamin B12 dan asam folat juga dapat memicu anemia. Gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan rendah gizi, kurangnya asupan sayur, ikan, dan daging, serta kebiasaan begadang, dapat memperburuk kondisi ini.

Kebiasaan mengunyah es batu yang berlebihan juga membawa risiko kesehatan tersendiri. Selain menjadi tanda anemia, pagophagia dapat merusak enamel gigi, menyebabkan gigi sensitif, berlubang, bahkan retak atau patah, serta memicu nyeri rahang. Dari segi kebersihan, es batu yang tidak diproduksi atau disimpan secara higienis dapat menjadi media penularan kuman, virus, dan parasit penyebab penyakit seperti diare atau tifus. Komplikasi anemia yang tidak diobati bisa sangat serius, termasuk kelelahan parah, kulit pucat, pembengkakan lidah, nyeri dada, detak jantung cepat, sesak napas, pusing, tangan dan kaki dingin. Anemia berat bahkan dapat menyebabkan pembesaran jantung atau gagal jantung karena jantung harus bekerja lebih keras untuk memasok oksigen ke seluruh tubuh. Pada anak-anak, anemia dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Mengonsumsi es batu sebagai pengganti makanan bergizi juga dapat menyebabkan malnutrisi dan memperparah kekurangan nutrisi.

Oleh karena itu, kesadaran akan gejala anemia, seperti keinginan kompulsif mengunyah es batu, sangat penting. Pemeriksaan kesehatan rutin dan perbaikan pola makan dengan gizi seimbang yang kaya zat besi dan vitamin C direkomendasikan untuk mencegah dan mengatasi anemia.