Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Harga Fantastis Rp33,5 Juta: Sepatu Bulu Merah Debut Jaden Smith x Louboutin Tuai Ejekan

2026-01-23 | 19:41 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T12:41:53Z
Ruang Iklan

Harga Fantastis Rp33,5 Juta: Sepatu Bulu Merah Debut Jaden Smith x Louboutin Tuai Ejekan

Pilihan Christian Louboutin untuk merilis sepatu loafer merah berbulu yang dirancang bersama Jaden Smith, dibanderol seharga 33,5 juta Rupiah, memicu gelombang ejekan di media sosial dan industri fesyen pada debut koleksi tersebut. Peristiwa ini menyoroti risiko kemitraan merek mewah dengan selebritas dan perdebatan seputar desain avant-garde yang dihadapkan pada opini publik digital yang seringkali skeptis.

Koleksi tersebut, khususnya sepatu loafer "Furry Red" yang menjadi viral, pertama kali mencuri perhatian publik pada pertengahan tahun 2022 sebagai bagian dari kolaborasi Louboutin dengan Jaden Smith. Loafer bergaya pump ini menampilkan sol merah khas Louboutin dengan bagian atas berbulu merah menyala, menciptakan siluet yang tidak konvensional dan segera menjadi sasaran komentar bernada humor maupun kritik pedas di berbagai platform media sosial seperti Twitter dan Instagram. Banyak pengguna membandingkannya dengan karakter kartun atau benda-benda rumah tangga, mempertanyakan nilai estetika dan kelayakannya untuk harga premium. Misalnya, majalah W Korea secara khusus menyoroti sepatu "Fun Louis" dari koleksi ini, yang menampilkan material berbulu dan berwarna cerah, menjadikannya bagian dari ekspresi fashion yang unik. Namun, reaksi publik internasional lebih condong pada parodi dan ketidakpercayaan.

Keputusan Louboutin untuk berkolaborasi dengan Jaden Smith sendiri merupakan upaya strategis untuk menjangkau audiens yang lebih muda dan relevan, sejalan dengan tren merek mewah yang merangkul ikon budaya pop untuk mempertahankan daya tarik di pasar yang dinamis. Jaden Smith, yang dikenal dengan gaya eksperimental dan perannya sebagai pendobrak norma gender dalam fesyen, seperti tampil mengenakan rok, dianggap sebagai figur yang tepat untuk memperjuas definisi kemewahan. Smith bahkan muncul dalam kampanye Spring 2017 Louis Vuitton, memperkuat citranya sebagai wajah mode gender-fluid yang ikonik. Namun, respons terhadap loafer berbulu ini menunjukkan batasan toleransi publik terhadap inovasi yang terlalu radikal, bahkan dari kolaborator yang kredibel secara budaya.

Analis industri fesyen mencatat bahwa insiden ini mencerminkan dilema yang dihadapi banyak rumah mode mewah. Di satu sisi, ada tekanan untuk berinovasi dan tetap relevan dengan selera konsumen Generasi Z yang haus akan kebaruan dan ekspresi diri. Di sisi lain, ada juga risiko mengasingkan basis pelanggan tradisional yang menghargai keanggunan klasik dan investasi dalam desain yang abadi. "Merek harus berjalan di garis tipis antara mendorong batas-batas kreatif dan menjaga integritas merek serta persepsi nilai di mata konsumen," jelas seorang ahli strategi merek yang tidak ingin disebutkan namanya. "Ketika sebuah item menjadi viral karena ejekan, itu bisa menimbulkan kerugian jangka panjang terhadap persepsi kemewahan dan eksklusivitas."

Harga 33,5 juta Rupiah (sekitar 2.100 Dolar AS) untuk sepatu tersebut juga menambah lapisan kontroversi, memicu perdebatan tentang nilai intrinsik desain dan ekspektasi harga untuk item fesyen mewah. Dalam konteks pasar global, perbandingan dengan item mewah lainnya yang dianggap lebih fungsional atau abadi sering kali muncul, memperkuat narasi bahwa beberapa desain avant-garde lebih merupakan pernyataan artistik daripada barang siap pakai.

Implikasi jangka panjang dari peristiwa ini bagi Christian Louboutin dan industri fesyen secara lebih luas patut dicermati. Ini menekankan pentingnya riset pasar yang cermat dan pemahaman mendalam tentang bagaimana audiens target akan merespons kolaborasi dan desain yang berani. Era media sosial telah mempercepat siklus tren dan reaksi publik, menjadikan setiap rilis produk berpotensi menjadi hit global atau bahan ejekan dalam hitungan jam. Sementara visibilitas yang dihasilkan dari kontroversi kadang-kadang bisa menguntungkan, merek harus menimbang risiko kerusakan reputasi versus keuntungan dari publisitas instan. Kolaborasi seperti ini akan terus menjadi tulang punggung strategi merek mewah untuk menjangkau audiens baru, tetapi kehati-hatian dalam mengeksekusi visi kreatif akan menjadi semakin krusial di lanskap digital yang reaktif.