Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Normalisasi Hasrat Manis Stres: Pahami, Jangan Lawan Dorongan Alami Ini

2025-11-29 | 06:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T23:34:46Z
Ruang Iklan

Normalisasi Hasrat Manis Stres: Pahami, Jangan Lawan Dorongan Alami Ini

Keinginan kuat untuk mengonsumsi makanan manis saat stres atau yang dikenal sebagai sugar craving merupakan fenomena umum yang sering dialami banyak orang, terutama wanita. Fenomena ini bukanlah sekadar kebiasaan iseng atau bentuk pelarian, melainkan reaksi biologis dan psikologis yang wajar. Ahli gizi dan Behavior-Led Nutrition Coach, Alvina Olivia, menegaskan bahwa menghilangkan craving makanan manis sepenuhnya bukanlah pendekatan yang bijak. Ia merekomendasikan untuk menormalisasi keinginan ini, alih-alih mencoba menghilangkannya total yang justru dapat memicu kejenuhan dan craving yang lebih parah di kemudian hari.

Secara ilmiah, stres memicu tubuh melepaskan hormon kortisol. Peningkatan kortisol ini memengaruhi denyut jantung, tekanan darah, gula darah, pernapasan, hingga fungsi otot, serta dapat meningkatkan nafsu makan dan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula. Konsumsi gula dapat menurunkan kadar kortisol dalam tubuh dan memperbaiki respons otak terhadap stres. Otak manusia membutuhkan energi agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik, dan glukosa (gula) adalah sumber energi cepat. Saat stres, kebutuhan energi otak meningkat, sehingga kekurangan asupan karbohidrat dapat menurunkan fungsi otak dan memicu keinginan makan manis. Selain itu, makanan manis juga merangsang pelepasan hormon dopamin dan serotonin, yang memberikan sensasi senang, bahagia, dan menenangkan, mirip dengan efek zat adiktif. Aktris Jessica Mila, yang juga mengaku sebagai pencinta manis, menekankan pentingnya menormalisasi craving ini dan mengikutinya sesuai porsi.

Dorongan untuk makan karena emosi, bukan karena lapar fisik, dikenal sebagai emotional eating. Kondisi ini sering dikaitkan dengan emosi negatif seperti marah, sedih, gelisah, takut, bosan, atau stres, di mana makanan, khususnya yang tinggi kalori dan manis, dicari sebagai pengalih perhatian atau penenang. Namun, perlu diingat bahwa makanan tidak dapat menyelesaikan masalah emosional yang sedang dihadapi. Jika dibiarkan berlanjut dan tidak terkontrol, kebiasaan emotional eating serta konsumsi gula berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan, termasuk peningkatan berat badan, risiko obesitas, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gangguan metabolisme seperti diabetes tipe 2, dan masalah kesehatan mental.

Meskipun demikian, normalisasi craving bukan berarti membiarkan diri mengonsumsi gula tanpa batas. Para ahli gizi menyarankan beberapa strategi untuk mengelola keinginan makan manis secara sehat. Salah satunya adalah dengan memilih sumber gula yang lebih sehat seperti buah-buahan segar, yang manis alami serta kaya serat, vitamin, dan mineral. Memastikan asupan protein dan serat yang cukup dalam makanan harian juga membantu menjaga kadar gula darah stabil dan memberikan rasa kenyang lebih lama, mengurangi dorongan untuk makan manis berlebihan.

Selain itu, mengelola stres dengan baik melalui aktivitas fisik seperti olahraga, meditasi, atau melakukan hobi yang disenangi dapat membantu mengurangi pemicu sugar craving. Pola makan teratur setiap 3-5 jam sekali untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil, tidur yang cukup 7-9 jam per hari untuk menyeimbangkan hormon lapar dan kenyang, serta mencukupi hidrasi dengan minum air putih juga merupakan langkah efektif. Penting untuk mengenali pemicu emosional dan secara bertahap mengurangi konsumsi gula tambahan, bukan menghilangkannya secara drastis, demi membangun pola makan yang realistis dan konsisten untuk kesejahteraan fisik dan mental.