Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Huhate Maluku: Tradisi Berkelanjutan, Paspor Indonesia Menuju Pasar Tuna Premium Global

2025-11-29 | 06:41 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T23:41:07Z
Ruang Iklan

Huhate Maluku: Tradisi Berkelanjutan, Paspor Indonesia Menuju Pasar Tuna Premium Global

Tradisi penangkapan ikan huhate yang berasal dari Maluku kini diakui sebagai kunci strategis Indonesia untuk menembus pasar tuna premium global yang semakin mengedepankan keberlanjutan. Metode huhate, yang juga dikenal sebagai pole and line, merupakan teknik memancing tradisional yang secara fundamental memancing ikan satu per satu menggunakan joran, tali pancing, dan umpan, baik berupa umpan hidup yang disebar atau umpan tiruan dari bulu ayam atau rafia.

Teknik ini memiliki keunggulan selektivitas tinggi, secara signifikan meminimalkan tangkapan sampingan (bycatch), serta berkontribusi langsung pada stabilitas populasi tuna dan menjamin kualitas hasil tangkapan yang superior. Karakteristik ini menjadikan huhate sebagai metode penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan sesuai dengan standar keberlanjutan global.

Permintaan global terhadap tuna yang ditangkap secara bertanggung jawab dan berkelanjutan terus mengalami pertumbuhan signifikan, diperkirakan di atas 15 persen per tahun, terutama dari pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, dan Inggris. Pasar-pasar ini bersedia membayar lebih mahal untuk produk yang etis dan ramah lingkungan, membuka peluang besar bagi Indonesia. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), nilai ekspor tuna Indonesia pada tahun 2022 mencapai USD 680 juta atau sekitar Rp11 triliun. Potensi untuk meningkatkan nilai ini melalui praktik berkelanjutan seperti huhate masih sangat besar. Khususnya di pasar Eropa dan Inggris, permintaan tuna hasil tangkapan huhate mencapai lebih dari 26.000 metrik ton (MT) dan diproyeksikan akan terus meningkat.

Tuna Consortium (TC) dan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) secara kolektif menegaskan bahwa keberlanjutan ekonomi jangka panjang hanya dapat terwujud melalui komitmen terhadap praktik penangkapan yang bertanggung jawab, yang diwujudkan melalui huhate. Thilma Komaling, Program Lead Indonesia Tuna Consortium, menyampaikan bahwa huhate bukan hanya warisan budaya, melainkan juga aset ekonomi yang membuka peluang besar bagi masyarakat pesisir dan industri tuna nasional melalui pemenuhan standar keberlanjutan global. Selain itu, huhate telah tercatat sebagai kekayaan intelektual komunal (KIK) kategori pengetahuan tradisional, yang bertujuan untuk mencegah eksploitasi oleh pihak luar, menjaga identitas budaya, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pemiliknya.

Meski demikian, tantangan dalam mempertahankan tradisi huhate meliputi ketersediaan umpan hidup, yang kadang kurang kondusif akibat kondisi perairan atau faktor musim, serta perilaku ikan cakalang yang tidak selalu merespons umpan. Namun, dengan peningkatan harga di pasar premium, metode huhate tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan nasional tetapi juga memperkuat daya tawar Indonesia di industri perikanan premium. Pemerintah Indonesia bersama organisasi seperti Marine Stewardship Council (MSC) juga terus mendorong lebih banyak perikanan tuna untuk mencapai sertifikasi keberlanjutan dan pelabelan lingkungan (eco-labeling) untuk kesejahteraan masyarakat dan ekosistem.