Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Remaja Belanda Mendadak Bicara Inggris Usai Operasi Lutut: Fenomena Medis Langka

2025-11-25 | 03:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-24T20:42:20Z
Ruang Iklan

Remaja Belanda Mendadak Bicara Inggris Usai Operasi Lutut: Fenomena Medis Langka

Seorang remaja putra berusia 17 tahun di Belanda mengalami kejadian medis yang membingungkan setelah menjalani operasi lutut rutin, ketika ia terbangun dari anestesi hanya bisa berbicara bahasa Inggris dan meyakini dirinya berada di Amerika Serikat. Remaja tersebut, yang bahasa ibunya adalah bahasa Belanda, dilaporkan kehilangan kemampuan untuk memahami dan berbicara bahasa Belanda selama kurang lebih 24 jam.

Peristiwa aneh ini terjadi setelah operasi lutut yang sukses karena cedera sepak bola. Saat pertama kali sadar, perawat awalnya mencurigai adanya delirium, kondisi kebingungan sementara yang bisa terjadi setelah anestesi. Namun, beberapa jam kemudian, remaja tersebut masih belum bisa berbicara bahasa Belanda dan bahkan tidak mengenali orang tuanya. Ia menjawab pertanyaan dengan lancar dalam bahasa Inggris, meskipun dengan aksen Belanda, sebuah bahasa yang sebelumnya hanya ia gunakan dalam pelajaran di sekolah dan tidak pernah di luar kelas.

Tim medis kemudian memanggil tim psikiatri, dan remaja tersebut didiagnosis dengan Sindrom Bahasa Asing (Foreign Language Syndrome/FLS). FLS adalah kondisi neurologis yang sangat langka di mana individu secara tiba-tiba dan tidak sengaja beralih menggunakan bahasa kedua, sementara kehilangan akses ke bahasa asli mereka. Kondisi ini berbeda dari Sindrom Aksen Asing (Foreign Accent Syndrome/FAS), di mana seseorang mempertahankan bahasa aslinya tetapi berbicara dengan pola bicara yang menyerupai aksen asing. Kasus ini dianggap luar biasa karena hanya ada sekitar sembilan kasus FLS yang didokumentasikan dalam literatur medis, dan ini diduga merupakan kasus pertama yang dilaporkan secara formal pada seorang remaja.

Pemeriksaan neurologis lengkap pada remaja tersebut tidak menunjukkan adanya kelainan pada otaknya. Sekitar 18 jam setelah operasi, ia mulai bisa memahami bahasa Belanda lagi, meskipun masih kesulitan untuk berbicara. Titik balik terjadi keesokan harinya saat teman-temannya menjenguk; ia tiba-tiba mendapatkan kembali kemampuan untuk memahami dan berbicara bahasa Belanda. Setelah pemulihan spontan ini, ia diizinkan pulang tiga hari setelah operasi.

Penyebab pasti FLS masih belum diketahui, dan kasus ini terus membingungkan para dokter dan peneliti. Beberapa teori yang diajukan termasuk efek sementara anestesi pada sirkuit otak yang bertanggung jawab untuk bahasa, atau kondisi yang dikenal sebagai delirium emergensi, yaitu kebingungan sementara saat efek anestesi hilang. Para ahli mempertanyakan apakah FLS adalah kondisi terpisah atau variasi dari delirium emergensi. Meskipun demikian, kasus ini menyoroti misteri kompleks otak manusia dan interaksinya dengan anestesi dan fungsi bahasa.