Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

24 Tahun Divonis Kanker Usus Stadium 4: Kenali Gejala Dini yang Sering Terabaikan

2025-12-24 | 22:19 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-24T15:19:19Z
Ruang Iklan

24 Tahun Divonis Kanker Usus Stadium 4: Kenali Gejala Dini yang Sering Terabaikan

Kenaikan dramatis kasus kanker kolorektal di kalangan dewasa muda, termasuk pada individu berusia 20-an, menimbulkan kekhawatiran global dan menyoroti perlunya deteksi dini. Anggapan lama bahwa kanker usus besar hanya menyerang lansia kini tidak lagi relevan, dengan laporan kasus stadium lanjut pada pasien muda yang semakin sering terjadi.

Sebuah kasus yang menjadi perhatian adalah seorang wanita berusia 24 tahun yang didiagnosis menderita kanker usus stadium 4 setelah mengalami serangkaian gejala yang pada awalnya sering diabaikan atau disalahartikan. Gejala awal meliputi darah dalam tinja, sakit perut yang persisten, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, dan benjolan di perut. Kasus serupa juga dialami oleh Ellie Wilcock di Inggris, yang pada usia 25 tahun didiagnosis kanker usus stadium 4 setelah mengalami nyeri perut kiri bawah yang awalnya dikira infeksi saluran kemih.

Para ahli mengindikasikan bahwa keterlambatan diagnosis pada dewasa muda merupakan masalah krusial. Profesor dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen kasus kanker usus besar di Indonesia baru terdeteksi pada stadium lanjut, saat peluang kesembuhan menurun di bawah 50 persen. Hal ini disebabkan oleh seringnya gejala awal kanker kolorektal dianggap remeh dan tidak spesifik, mirip dengan kondisi pencernaan umum seperti wasir atau sindrom iritasi usus (IBS).

Gejala kanker usus stadium 4, di mana sel kanker telah menyebar ke organ lain di luar usus, seringkali lebih parah dan bervariasi tergantung lokasi penyebarannya. Selain darah pada tinja yang bisa berwarna merah terang hingga kehitaman, pasien dapat merasakan perut kembung dan kram, perubahan pola buang air besar (diare atau sembelit yang persisten), buang air besar terasa tidak tuntas, feses berbentuk panjang dan tipis seperti pensil akibat sumbatan tumor, lemas, kurang darah atau anemia, mual, muntah, serta kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan drastis tanpa sebab yang jelas. Jika kanker menyebar ke paru-paru, gejala dapat berupa batuk persisten, sakit dada, dan kesulitan bernapas. Apabila menyebar ke hati, dapat terjadi demam, gatal, dan kaki bengkak.

Data International Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa dari sekitar 25.000 kasus kanker kolorektal di Indonesia, sekitar 1.400 pasien berusia di bawah 40 tahun, termasuk 446 kasus pada rentang usia 20 hingga 29 tahun. Diperkirakan, jumlah pasien kanker usus besar di bawah 50 tahun akan berlipat ganda pada tahun 2030. Tren ini konsisten secara global, dengan peningkatan signifikan diagnosis kanker kolorektal di kalangan dewasa muda di 27 dari 50 negara yang dianalisis antara tahun 2013 hingga 2017.

Faktor risiko pemicu peningkatan ini dikaitkan dengan gaya hidup modern dan lingkungan. Pola makan tinggi daging merah, daging olahan, makanan ultra-proses, tinggi gula dan lemak jenuh, serta rendah serat, seringnya merokok dan konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, dan obesitas disebut sebagai kontributor utama. Studi Harvard Medical School dan Mass General Brigham menemukan kaitan erat antara konsumsi makanan ultra-proses dengan kemunculan polip prakanker pada wanita di bawah 50 tahun, dengan risiko 45 persen lebih besar pada mereka yang mengonsumsi UPF tertinggi. Selain itu, riwayat keluarga dengan kanker kolorektal atau sindrom genetik bawaan seperti Lynch Syndrome dan Familial Adenomatous Polyposis (FAP) juga meningkatkan risiko.

Mengingat tantangan diagnosis dini, para ahli onkologi seperti dr. Andhika Rachman SpPD-KHOM, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala dan gaya hidup sehat. Meskipun skrining massal di Indonesia belum diterapkan secara luas, rekomendasi skrining kolonoskopi telah diturunkan di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dari usia 50 menjadi 45 tahun, menanggapi tren usia muda yang terdiagnosis. Deteksi dini melalui skrining, bahkan sebelum muncul gejala, menjadi kunci untuk meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.