Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Hati-hati! 5 Kebiasaan Sehari-hari Ini Biang Kerok Asam Urat

2025-12-26 | 18:32 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T11:32:23Z
Ruang Iklan

Hati-hati! 5 Kebiasaan Sehari-hari Ini Biang Kerok Asam Urat

Penyakit asam urat, kondisi peradangan sendi yang menyakitkan akibat penumpukan kristal asam urat, kini semakin banyak diderita oleh berbagai kalangan usia, bahkan pada remaja. Fenomena ini, yang dulunya lebih diasosiasikan dengan lansia, menunjukkan perubahan pola penyakit yang dipicu oleh gaya hidup modern dan kebiasaan sehari-hari yang tidak sehat. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan angka kejadian asam urat di dunia mencapai 335 juta penduduk pada tahun 2021, dengan peningkatan sekitar 33,3% penderita. Di Indonesia sendiri, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi gout berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 11,9%, dan berdasarkan diagnosis atau gejala mencapai 24,7%. Prevalensi ini tertinggi pada usia 75 tahun ke atas (54,8%), namun penderita wanita lebih banyak (8,5%) dibandingkan pria (6,1%), meskipun penelitian lain juga menunjukkan pria tiga kali lebih mungkin terkena asam urat dibanding wanita, dengan risiko meningkat pada pria di atas 40 tahun dan wanita pascamenopause. Peningkatan kasus ini mendorong perhatian terhadap lima kebiasaan sehari-hari yang secara signifikan berkontribusi pada risiko asam urat.

Sejarah medis mencatat asam urat sebagai "penyakit raja" karena sering dikaitkan dengan konsumsi berlebihan makanan kaya dan alkohol di kalangan bangsawan. Kini, seiring perubahan gaya hidup dan pola makan global, pemicunya semakin meluas di masyarakat umum. Asam urat terbentuk ketika tubuh memecah purin, senyawa alami yang ditemukan dalam sel tubuh dan berbagai makanan. Normalnya, asam urat akan dikeluarkan melalui urine, namun jika produksinya berlebihan atau ginjal tidak berfungsi optimal, kadar asam urat akan menumpuk dalam darah, sebuah kondisi yang disebut hiperurisemia. Penumpukan inilah yang dapat membentuk kristal tajam di sendi, menyebabkan peradangan, nyeri hebat, dan pembengkakan.

Berikut adalah lima kebiasaan sehari-hari yang terbukti memicu penyakit asam urat:

1. Konsumsi Makanan Tinggi Purin Berlebihan
Makanan kaya purin menjadi pemicu utama peningkatan kadar asam urat. Daging merah seperti sapi, domba, dan babi, jeroan (hati, ginjal, otak, usus), serta makanan laut tertentu seperti udang, kerang, sarden, makarel, dan teri, mengandung purin dalam jumlah tinggi. Saat tubuh memproses purin dari makanan ini, produksi asam urat meningkat secara signifikan. Sebuah penelitian pada tahun 2024 menunjukkan bahwa makanan tinggi purin, terutama yang berasal dari hewan, dapat meningkatkan risiko kambuhnya penyakit asam urat. Para ahli kesehatan menyarankan untuk membatasi konsumsi makanan ini dan menggantinya dengan pilihan rendah purin seperti sayuran hijau, buah-buahan, dan biji-bijian.

2. Konsumsi Minuman Manis dan Beralkohol
Minuman manis yang tinggi fruktosa, seperti soda dan jus buah olahan, secara langsung berkorelasi dengan peningkatan risiko asam urat. Fruktosa akan dipecah menjadi purin dalam tubuh, menyebabkan lonjakan kadar asam urat. Sebuah studi tahun 2023 menunjukkan bahwa pria yang mengonsumsi dua porsi atau lebih minuman ringan manis setiap hari memiliki risiko serangan asam urat 85% lebih tinggi. Demikian pula, konsumsi alkohol, terutama bir, terbukti meningkatkan produksi asam urat dan mengganggu kemampuan ginjal untuk membuangnya. Bir, khususnya, memiliki kandungan purin tertinggi di antara minuman beralkohol. Pria yang minum satu porsi bir setiap hari memiliki risiko 50% lebih tinggi menderita asam urat, sementara dua porsi atau lebih meningkatkan risiko 2,5 kali lipat.

3. Dehidrasi atau Kurang Minum Air Putih
Asupan cairan yang tidak memadai dapat secara drastis meningkatkan konsentrasi asam urat dalam darah. Ketika tubuh mengalami dehidrasi, volume cairan dalam darah berkurang, menghambat ginjal dalam membuang asam urat secara efisien melalui urine. Kondisi ini, yang dikenal sebagai hiperurisemia, mempercepat pembentukan kristal asam urat di sendi. Penelitian menunjukkan hubungan erat antara asupan air yang rendah dan tingginya kadar asam urat. Untuk mencegah komplikasi ini, individu sangat dianjurkan menjaga asupan cairan yang cukup, minimal delapan gelas air putih per hari, untuk mendukung fungsi ginjal yang optimal dan membantu pengeluaran asam urat.

4. Gaya Hidup Sedentari dan Kurang Aktivitas Fisik
Kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan duduk terlalu lama merupakan faktor risiko signifikan untuk asam urat. Gaya hidup sedentari menghambat metabolisme tubuh dan proses pembuangan asam urat, meningkatkan risiko penumpukan kristal di sendi. Aktivitas fisik teratur tidak hanya membantu mengendalikan berat badan, tetapi juga meningkatkan sirkulasi dan efisiensi tubuh dalam mengeluarkan asam urat. Dokter merekomendasikan olahraga aerobik ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang selama 30-60 menit, 3-5 kali seminggu.

5. Obesitas atau Kelebihan Berat Badan
Obesitas tidak secara langsung memicu asam urat, tetapi memiliki keterkaitan kuat melalui sindrom metabolik. Kelebihan berat badan menyebabkan peningkatan produksi asam urat dan menurunkan kemampuan ginjal dalam membuangnya. Studi tahun 2019 yang dipublikasikan di Arthritis & Rheumatology di Amerika Serikat menemukan bahwa orang yang kelebihan berat badan 85% lebih mungkin mengalami hiperurisemia, sementara orang yang obesitas 2,7 hingga 3,5 kali lebih mungkin mengalami kondisi ini. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi 44% kasus hiperurisemia disebabkan oleh obesitas saja. Penurunan berat badan melalui perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik dapat secara signifikan mengurangi risiko asam urat.

Implikasi jangka panjang dari kebiasaan-kebiasaan ini tidak hanya terbatas pada nyeri sendi yang akut, tetapi juga mencakup komplikasi serius lainnya. Hiperurisemia kronis dapat menyebabkan kerusakan ginjal, pembentukan batu ginjal akibat penumpukan kristal, serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, dan sindrom metabolik. Oleh karena itu, modifikasi gaya hidup menjadi krusial dalam pencegahan dan pengelolaan asam urat. Kesadaran akan pemicu ini dan adopsi pola hidup sehat, termasuk diet rendah purin, hidrasi yang cukup, aktivitas fisik teratur, serta menjaga berat badan ideal, adalah langkah-langkah esensial untuk meminimalkan risiko dan dampak jangka panjang penyakit asam urat. Para ahli kesehatan, seperti dr. Hyon Choi dari Harvard Medical School, menegaskan bahwa mayoritas kasus hiperurisemia dapat dicegah dengan memodifikasi faktor risiko. Mencegah asam urat tidak hanya mengurangi penderitaan individu, tetapi juga meringankan beban biaya kesehatan publik yang signifikan.