Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Darurat Popok & Sandang: IDAI Ungkap Kondisi Anak Bencana Sumut-Aceh

2025-12-02 | 04:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-01T21:13:53Z
Ruang Iklan

Darurat Popok & Sandang: IDAI Ungkap Kondisi Anak Bencana Sumut-Aceh

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan bahwa anak-anak yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh menghadapi krisis pasokan baju bersih dan popok bayi. Situasi darurat ini, yang dipicu oleh hujan deras dan Siklon Tropis Senyar, telah menyebabkan dampak luas di seluruh wilayah.

Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan korban jiwa mencapai 533 orang, dengan 504 lainnya masih dinyatakan hilang per 1 Desember 2025 pukul 16:58 WIB. Selain itu, sekitar 2.500 warga dilaporkan luka-luka dan lebih dari 553.900 jiwa mengungsi. Total sekitar 1,4 juta penduduk di 48 kabupaten/kota di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat terdampak bencana ini. Kerusakan infrastruktur juga masif, dengan sekitar 3.300 unit rumah rusak berat, 4.100 unit rusak sedang, 20.700 unit rusak ringan, 204 fasilitas pendidikan rusak, dan 270 jembatan mengalami kerusakan.

Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara, Dr. dr. Eka Airlangga, M.Ked(Ped), SpA, menyatakan bahwa kebutuhan harian esensial untuk bayi seperti popok serta pasokan air bersih kini menjadi prioritas utama bantuan. Banyak orang tua tidak sempat membawa perlengkapan tersebut saat banjir terjadi. Akses jalan yang terputus di beberapa kabupaten, seperti di Tapanuli Utara yang menghubungkan Tarutung-Sibolga, serta kendala listrik dan sinyal komunikasi, semakin mempersulit distribusi bantuan ke wilayah terisolasi.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan dalam situasi bencana ini. Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), menegaskan bahwa mereka mudah mengalami trauma, ketakutan, dan risiko penyakit menular yang meningkat di pengungsian. IDAI menyoroti ancaman penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, diare, leptospirosis, hingga potensi penyebaran campak akibat sanitasi yang buruk dan kurangnya air bersih. Sejauh ini, IDAI telah melaporkan empat kematian anak akibat bencana ini, dengan dua di Padang, satu di Pasaman Barat, dan satu belum teridentifikasi.

Melihat skala dampak yang besar, dr. Piprim Basarah Yanuarso berharap pemerintah dapat menetapkan kejadian ini sebagai bencana nasional. IDAI juga menekankan pentingnya ketersediaan air bersih, sanitasi layak, makanan bergizi, keberlanjutan imunisasi di lokasi pengungsian, dan dukungan penuh untuk ibu menyusui agar bayi tetap mendapatkan ASI eksklusif. Selain itu, kesehatan mental anak juga menjadi perhatian serius, dengan saran untuk melibatkan anak-anak dalam aktivitas seperti menggambar atau bermain untuk mengatasi trauma di fase akut pascabencana.

Meskipun menghadapi tantangan besar, para dokter anak di daerah terdampak, termasuk di Aceh, menunjukkan komitmen kuat untuk tetap melayani warga. Sebagian dari mereka bahkan turut terdampak dan mengungsi di bangsal rumah sakit agar layanan kesehatan anak tidak terhenti. Tim gabungan dari BNPB, TNI/Polri, Basarnas, kementerian/lembaga, dan pemerintah daerah terus berupaya mempercepat operasi pencarian, pertolongan, distribusi logistik, dan pembukaan akses ke wilayah terdampak. Presiden Prabowo Subianto juga telah meninjau langsung lokasi terdampak dan menekankan prioritas pada pemulihan infrastruktur dasar dan layanan publik. Organisasi seperti Save the Children Indonesia juga telah menyiapkan bantuan darurat berupa perlengkapan hunian sementara, air bersih, dan selimut untuk ribuan warga, termasuk anak-anak.