
Seorang wanita asal Surabaya, Lilla Syifa (29), didiagnosis mengidap diabetes 1,5 atau LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults) pada Juli 2025 lalu, sebuah kondisi yang tidak ia sadari sebelumnya. Perempuan yang akrab disapa Cipa ini mengakui bahwa gaya hidupnya yang kurang sehat, terutama kegemarannya mengonsumsi makanan dan minuman manis yang sedang viral, menjadi pemicu utama penyakit tersebut. Selain doyan jajanan manis, Cipa juga memiliki pola tidur yang buruk, kurang mengelola stres, dan minim aktivitas fisik.
Cipa menuturkan, ia tidak memiliki riwayat keturunan diabetes dari keluarganya, sehingga penyakit yang dideritanya murni berasal dari gaya hidupnya. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis viral, seperti brownies, donat, dan matcha, seringkali menjadi pilihannya, bahkan bisa tiga kali sehari setelah makan besar. Puncak kebiasaan ini terjadi sejak sekitar setahun sebelum diagnosis, yakni pada tahun 2024 hingga 2025. Ia bahkan menganggap kebiasaan ini sebagai "pelarian" dari stres pekerjaan.
Sebelum terdiagnosis, Cipa merasakan beberapa gejala yang awalnya ia anggap sepele. Salah satunya adalah kram kaki yang sering muncul di betis atau jari kaki, yang semula ia kira akibat penggunaan sepatu hak tinggi. Selain itu, ia juga mengalami rasa haus ekstrem (polidipsia) meskipun sudah minum banyak air, hingga bibirnya sangat kering dan mengelupas. Gejala lain yang muncul adalah sering buang air kecil (poliuria).
Saat pemeriksaan medis, kadar gula darah Cipa mencapai 356 mg/dl, angka yang sangat tidak normal dan mengindikasikan hiperglikemia parah. Hasil pemeriksaan HbA1c miliknya juga menunjukkan angka 11,5 persen, jauh di atas batas normal yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan, yaitu di bawah 5,7 persen. Kasus seperti yang dialami Cipa menunjukkan bahwa diabetes kini tidak hanya menyerang usia lanjut, melainkan semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda akibat pola hidup modern yang kurang sehat. Dosen Fakultas Kedokteran Untag Surabaya, dr. Dimas Aryo Pamungkas, Sp.PD, mengingatkan fenomena "jebakan manis" ini, di mana tubuh mulai rusak perlahan tanpa disadari hingga menimbulkan komplikasi.