Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Misteri Overtourism Hokkaido: Pohon Fotogenik Hilang, Kenapa Turis Masih Membanjiri Kota Kecil Ini?

2026-01-07 | 08:22 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T01:22:16Z
Ruang Iklan

Misteri Overtourism Hokkaido: Pohon Fotogenik Hilang, Kenapa Turis Masih Membanjiri Kota Kecil Ini?

BIEI, HOKKAIDO — Keputusan drastis kota kecil Biei di Hokkaido untuk menebang deretan pohon birch putih yang menjadi daya tarik fotografi global pada Januari tahun lalu gagal membendung gelombang turis yang membanjiri wilayah tersebut. Bus-bus wisatawan terus berdatangan ke area yang dikenal dengan pemandangan ladang bertambalnya, beralih dari tunggul pohon yang telah ditebang menuju ikon-ikon lanskap lain seperti Pohon Seven Stars dan Pohon Natal yang sama-sama populer di media sosial. Fenomena ini menyoroti kompleksitas manajemen pariwisata berlebihan di era digital, di mana daya tarik visual yang viral dapat melampaui upaya mitigasi lokal.

Kota Biei, dengan populasi sekitar 9.000 jiwa, mencatat sekitar 2,68 juta wisatawan pada tahun fiskal 2024, sebuah lonjakan signifikan yang banyak didorong oleh pengunjung asing. Peningkatan ini telah menciptakan tekanan substansial pada infrastruktur dan lingkungan lokal, terutama pada lahan pertanian. Para petani mengeluhkan intrusi wisatawan ke ladang mereka untuk mengambil foto, yang menyebabkan kerusakan tanaman dan kemacetan lalu lintas. Selain itu, pohon-pohon yang menjadi daya tarik tersebut juga dituding menghalangi sinar matahari ke tanaman di sekitarnya, mengurangi hasil panen.

Keputusan penebangan pohon birch putih, yang dilakukan dengan persetujuan pemerintah kota, adalah respons terhadap keluhan yang memuncak dari masyarakat dan petani setempat. Tindakan serupa pernah terjadi pada tahun 2014 ketika "Pohon Filosof" yang terkenal juga ditebang setelah petani mengancam tindakan tersebut karena kurangnya peraturan. Meskipun penebangan pohon birch putih sempat mengurangi arus pengunjung ke lokasi tersebut, dampaknya tidak berlangsung lama. Wisatawan kini dengan cepat mengalihkan fokus mereka ke pohon-pohon ikonik lain di Biei, seperti Pohon Seven Stars yang terkenal karena muncul di kemasan merek rokok, dan Pohon Natal yang menjadi daya tarik musiman.

Pemerintah kota dan Asosiasi Pariwisata Biei telah menerapkan berbagai langkah untuk mengatasi masalah ini, termasuk meluncurkan operasi percontohan bus antar-jemput antara Pohon Natal dan Stasiun JR Biei, serta meningkatkan jumlah petugas keamanan selama musim dingin. Area tanpa parkir juga ditetapkan di sekitar Pohon Seven Stars, dan ada rencana untuk merenovasi area parkir serta membangun lebih banyak toilet umum. Kota ini juga tengah mempertimbangkan penerapan pajak turis.

Namun, efektivitas langkah-langkah ini dipertanyakan. Takeo Izumi, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pariwisata Biei, menyatakan, "akan sulit untuk menyelesaikan masalah ini secara fundamental tanpa membatasi jumlah bus dan mobil." Kondisi ini mencerminkan tantangan yang lebih luas di Jepang, di mana tempat-tempat yang dulunya "permata tersembunyi" kini menghadapi masalah pariwisata berlebihan setelah menjadi viral di media sosial. Seorang pejabat pariwisata dari Biei mengakui kepada Jiji Press bahwa "ketika suatu tempat menjadi viral secara tak terduga di media sosial, respons kami seringkali tertinggal."

Implikasi jangka panjang dari situasi ini meluas di luar Biei, menyoroti kebutuhan akan pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan terhadap pariwisata. Ketergantungan pada daya tarik visual yang rentan terhadap perubahan tren dan kerusakan lingkungan menuntut strategi yang lebih holistik. Ini mungkin mencakup promosi diversifikasi tujuan wisata, pendidikan wisatawan tentang etiket lokal, atau bahkan sistem reservasi yang membatasi jumlah pengunjung. Tanpa intervensi kebijakan yang lebih kuat dan terkoordinasi, kota-kota kecil seperti Biei akan terus terjebak dalam "permainan kucing-dan-tikus" dengan dampak pariwisata berlebihan, bahkan ketika fitur fisik yang awalnya menarik telah tiada.