
Praktik yang selama ini dianggap menyehatkan tubuh ternyata bisa menjadi bumerang dan memicu kerusakan ginjal. Para dokter dan ahli nefrologi memperingatkan bahwa beberapa kebiasaan "sehat" justru dapat memberikan tekanan berlebihan pada organ vital ini, bahkan memperburuk kondisi ginjal bagi mereka yang sudah mengidap penyakit ginjal kronis.
Salah satu kebiasaan yang paling sering disalahpahami adalah konsumsi protein berlebihan. Banyak individu, terutama yang berolahraga atau menjalani program kebugaran, mengonsumsi protein, termasuk protein shake, jauh di atas kebutuhan harian. Urolog David Shusterman, MD, menegaskan bahwa mengonsumsi protein dua atau tiga kali lipat dari kebutuhan harian tidak akan mempercepat pertumbuhan otot, melainkan hanya membuat ginjal bekerja lebih keras. Ginjal bertanggung jawab untuk menyaring sisa metabolisme protein, dan beban kerja yang meningkat ini dapat memicu atau memperparah penyakit ginjal kronis (CKD). Studi tahun 2020 dalam Journal of the American Society of Nephrology (JASN) menunjukkan hubungan antara pola makan tinggi protein dan peningkatan kasus CKD baru. Nefrolog Tim Pflederer, MD, menambahkan bahwa jenis protein juga berpengaruh, di mana protein dari daging hewani cenderung lebih berat diproses oleh ginjal. Secara umum, disarankan konsumsi 0,8-1 gram protein per kilogram berat badan per hari, kecuali ada instruksi khusus dari dokter.
Kebiasaan lain yang berpotensi merusak ginjal adalah penggunaan suplemen tertentu. Meskipun banyak suplemen dianggap aman, beberapa di antaranya, termasuk suplemen herbal dan vitamin, bisa berbahaya. Misalnya, vitamin D dapat menyebabkan kadar aluminium yang membahayakan penderita CKD. Suplemen kalium atau obat herbal yang tidak diketahui mengandung kalium juga dapat menyebabkan penumpukan kalium dalam darah, yang berbahaya bagi ginjal. Beberapa suplemen herbal bahkan dapat mengandung logam berat seperti timbal, merkuri, atau arsenik, serta bahan kimia obat (BKO) yang dapat merusak ginjal. Dokter menyarankan untuk selalu berkonsultasi sebelum mengonsumsi suplemen untuk memastikan keamanan dan menghindari efek samping.
Terlalu sering mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen, juga merupakan kebiasaan berbahaya. Penggunaan yang terlalu sering atau jangka panjang dapat membatasi aliran darah ke ginjal dan menghambat proses filtrasi. Hal ini dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal dari waktu ke waktu, bahkan pada dosis rendah yang diminum secara rutin. Ahli nefrologi Dr. Amanda Lee dari Rumah Sakit Mount Sinai menjelaskan bahwa OAINS dapat mengganggu aliran darah ke ginjal dan menyebabkan kerusakan jaringan ginjal. Guru Besar Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati, menegaskan bahwa penggunaan analgesik jangka panjang, meski sesuai dosis, tetap berpotensi efek samping pada ginjal.
Selain itu, konsumsi air putih yang berlebihan (overhidrasi) juga dapat memberikan tekanan pada ginjal. Meskipun hidrasi penting, terlalu banyak minum air dapat menurunkan kadar natrium dalam darah secara drastis (hiponatremia), membuat ginjal bekerja ekstra untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. Rata-rata, ginjal orang dewasa yang sehat dapat memproses 0,8 hingga 1 liter air per jam; lebih dari itu dapat membebani sistem. Kebutuhan cairan setiap orang bervariasi, dan penting untuk mendengarkan sinyal haus dari tubuh.
Kebiasaan lain yang perlu diwaspadai termasuk konsumsi makanan tinggi garam dan gula berlebihan. Makanan tinggi garam dapat meningkatkan tekanan darah dan membebani ginjal. Sementara itu, asupan gula berlebihan meningkatkan risiko diabetes, yang merupakan penyebab utama gagal ginjal. Menunda buang air kecil juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan pembentukan batu ginjal. Merokok dan kurang tidur juga disebut sebagai kebiasaan yang dapat merusak ginjal.
Para ahli menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam setiap aspek gaya hidup. Konsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan adalah langkah krusial untuk memastikan bahwa kebiasaan yang dijalani benar-benar menunjang kesehatan ginjal dan tubuh secara keseluruhan.