Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jelajahi & Bersihkan: Eco Trail Run untuk Alam Lestari

2025-12-24 | 22:54 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-24T15:54:21Z
Ruang Iklan

Jelajahi & Bersihkan: Eco Trail Run untuk Alam Lestari

Gerakan "Hike & Clean" yang mengintegrasikan aktivitas lari jejak dengan upaya konservasi lingkungan, kini mengukuhkan posisinya sebagai bagian tak terpisahkan dari gaya hidup sehat dan bertanggung jawab di kalangan pelari dan penggiat alam bebas. Tren global yang bermula dari "plogging" di Swedia pada tahun 2016 ini, di mana Erik Ahlström mulai memungut sampah saat jogging, telah berkembang menjadi fenomena yang melibatkan sekitar 2 juta peserta reguler di lebih dari 100 negara, termasuk di Indonesia. Fenomena ini muncul sebagai respons langsung terhadap krisis sampah yang semakin akut di destinasi alam, sekaligus mencerminkan pergeseran kesadaran komunitas olahraga terhadap dampak aktivitas mereka.

Permasalahan sampah, khususnya plastik, di jalur pendakian dan destinasi wisata alam di Indonesia telah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Sebuah survei Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2016 mengungkap 453 ton sampah tersebar di delapan taman nasional, dengan 53 persen di antaranya adalah sampah plastik yang sulit terurai. Wakil Menteri LHK, Alue Dohong, menyatakan bahwa sampah, terutama plastik, merupakan tantangan utama dalam pengembangan lima destinasi wisata super prioritas, karena dapat merusak ekosistem dan mengurangi "keindahan pemandangan" yang ditawarkan destinasi tersebut. Di Gunung Semeru, misalnya, diperkirakan 250 kilogram sampah ditinggalkan setiap hari oleh 200 hingga 500 pengunjung, dengan jenis sampah plastik mendominasi. Kondisi serupa ditemukan di Ranu Kumbolo, jalur menuju Gunung Semeru, meskipun banyak pendaki telah mengetahui pentingnya membawa turun sampah. Minimnya kesadaran lingkungan di kalangan sebagian pendaki menjadi pemicu utama penumpukan sampah ini.

Gerakan "Hike & Clean" bukan sekadar aksi bersih-bersih biasa; ia mewakili evolusi dalam etika olahraga luar ruangan, di mana partisipan secara aktif berkontribusi pada pelestarian lingkungan yang mereka nikmati. Erik Ahlström, pendiri gerakan plogging, mengaku terkejut melihat jumlah sampah di alam dan merasa "senang di hati untuk membersihkan bahkan sedikit tempat." Aksi sederhana ini, yang menggabungkan kebugaran fisik dengan tujuan mulia, menawarkan manfaat ganda bagi kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan. Data menunjukkan bahwa lari masih menjadi aktivitas paling populer di Indonesia pada tahun 2025, sejalan dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya aktivitas fisik yang menyenangkan, sosial, dan berkelanjutan.

Komunitas lari jejak secara global juga menunjukkan peningkatan aktivisme lingkungan. Konsep "earth raging" yang diusung oleh Clare Gallagher, seorang ultrarunner yang vokal tentang lingkungan, menyerukan untuk menikmati alam sekaligus merawatnya. Organisasi seperti Leave No Trace telah memperluas program edukasi mereka untuk mencakup lari jejak, dengan kampanye "Leave No Trash" yang berhasil melibatkan lebih dari 10.000 orang secara global dan menghilangkan lima ton sampah dari ruang terbuka. Peter Murry, Corporate Development Manager Leave No Trace, menekankan bahwa upaya edukasi mereka telah menjangkau lebih dari 360 juta pengunjung melalui kemitraan dengan organisasi pariwisata. Selain itu, Kilian Jornet, pelari gunung ternama, meluncurkan Charter for Outdoor Friendly Sports untuk mempromosikan praktik olahraga luar ruangan yang lebih berkelanjutan.

Di Indonesia, Koordinator Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kemenparekraf, M. Tidar Hetsaputra, menyoroti bahwa popularitas destinasi wisata berkorelasi langsung dengan produksi sampah, terlepas dari faktor seperti pandemi. Tantin Yasmine, Senior Campaign Executive Waste4Change, menegaskan pentingnya penanganan sampah secara kolektif untuk menjaga keberlanjutan pariwisata. Jessica Novia, Founder Bumi Journey, menambahkan bahwa industri pariwisata menyumbang 8% emisi global, dengan sampah dari barang, makanan, dan minuman di area wisata menjadi kontributor signifikan. Hal ini menegaskan bahwa "Hike & Clean" bukan hanya tren, melainkan sebuah keharusan untuk mitigasi dampak lingkungan.

Meskipun kesadaran semakin meningkat, tantangan tetap ada. Masih banyak pelaku wisata, termasuk pengelola dan wisatawan, yang belum menjadikan kebersihan lingkungan sebagai prioritas utama, dengan fokus lebih pada menarik pengunjung untuk keuntungan finansial. Penanaman kesadaran akan "perilaku pro-lingkungan," seperti pengelolaan sampah yang baik, dipengaruhi oleh sikap, norma sosial, dan kontrol perilaku yang dirasakan, seperti diungkapkan oleh Dhabitha (2023). Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku pariwisata, pengelola sampah, wisatawan, dan masyarakat lokal harus terus digalakkan. Pendidikan dan sosialisasi tanpa henti, disertai penegakan aturan yang tegas, merupakan kunci untuk menanamkan komitmen dan tanggung jawab bersama dalam pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. Gerakan "Hike & Clean" merupakan manifestasi nyata dari pergeseran menuju olahraga yang lebih sadar lingkungan, menggarisbawahi bahwa keindahan sebuah aktivitas bukan hanya terletak pada pencapaian pribadi, melainkan juga pada jejak positif yang ditinggalkan bagi alam dan komunitas.