
Wabah penyakit mulai menghantui para korban banjir dan tanah longsor di Sumatera yang kini terpaksa mengungsi, sementara sejumlah fasilitas kesehatan dilaporkan tumbang dan tidak dapat beroperasi. Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 ini telah memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, infeksi kulit, hingga pneumonia, terutama pada anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan.
Kondisi pengungsian yang padat, kelembapan udara yang tinggi, serta minimnya akses terhadap air bersih menjadi pemicu utama penyebaran penyakit. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan temuan gejala penyakit yang seragam di beberapa wilayah terdampak, seperti batuk pilek berat, sesak napas, diare akut, dan luka kulit yang terinfeksi. Di Binjai, Sumatera Utara, 37 dari 66 anak yang diperiksa menderita ISPA, dan di Langkat, 55 anak mengalami ISPA serta 58 anak infeksi kulit. Kasus pneumonia juga mulai ditemukan di Padang, Sumatera Barat, khususnya pada balita di hunian sementara yang lembap. Selain itu, leptospirosis, penyakit yang disebarkan melalui air seni tikus, juga menjadi ancaman serius pascabanjir.
Kerusakan infrastruktur kesehatan juga menjadi tantangan besar. Data Kementerian Kesehatan per 1 Desember 2025 menunjukkan bahwa setidaknya tujuh rumah sakit dan 179 puskesmas di Provinsi Aceh tidak dapat beroperasi. Di Sumatera Utara, tiga rumah sakit dan 32 puskesmas dilaporkan rusak, sementara di Sumatera Barat, 22 puskesmas dan sejumlah puskesmas pembantu terdampak. Secara keseluruhan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 1,18 persen fasilitas kesehatan dari total fasilitas publik mengalami kerusakan. Akibatnya, pelayanan kesehatan darurat kini difokuskan di lokasi pengungsian atau pos kesehatan sementara.
Bencana ini telah berdampak pada lebih dari 3 juta jiwa, dengan 604 hingga 744 orang meninggal dunia dan 464 hingga 551 orang masih dinyatakan hilang per 2 Desember 2025. Sebanyak 1,1 juta jiwa terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi penampungan. Tingginya angka korban dan kerusakan memicu Gubernur Sumatera Barat mendesak pemerintah pusat untuk menetapkan status bencana nasional, mengingat skala kerusakan yang mencapai Rp 1,2 triliun dan lebih dari 30.000 bangunan rusak.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah bergerak cepat dengan mengirimkan tim reaksi cepat, mendirikan posko layanan kesehatan, serta menyiapkan rumah sakit darurat. Bantuan logistik kesehatan, termasuk 103 unit oxygen concentrator, 11.200 dus Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Balita, 6.000 dus PMT Ibu Hamil, obat-obatan, dan alat pelindung diri (APD), telah dikirim ke wilayah terdampak. IDAI juga telah mengerahkan tim dokter spesialis anak, membuka klinik berjalan, dan melakukan evakuasi medis. Selain itu, bantuan obat-obatan dari tim kemanusiaan internasional seperti Blue Sky Rescue Malaysia dan Gomez Medical Services telah tiba di Banda Aceh untuk memperkuat pelayanan kesehatan di lapangan.
Hujan ekstrem dan dampak Siklon Senyar, ditambah dengan kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), diyakini menjadi faktor penyebab utama bencana hidrometeorologi ini. Upaya pemulihan infrastruktur vital dan relokasi masyarakat di daerah rawan bencana menjadi agenda penting pemerintah daerah dan pusat untuk memastikan keselamatan warga di masa mendatang.