
Seorang wanita harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengalami efek samping serius akibat keseringan mengonsumsi matcha. Kasus ini menyoroti potensi bahaya di balik tren minuman yang dianggap sehat jika dikonsumsi berlebihan.
Lynn Shazeen, wanita berusia 28 tahun dari Maryland, Amerika Serikat, dirawat di rumah sakit pada bulan Juli 2025 setelah merasakan gejala kelelahan ekstrem, gatal-gatal, dan sering kedinginan yang semakin memburuk. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Shazeen mengalami anemia parah, sebuah kondisi yang diperparah oleh kebiasaan rutinnya meminum matcha. Kadar saturasi zat besinya hanya mencapai 6%, jauh di bawah rentang normal yang seharusnya berada antara 20% hingga 50%.
Dokter Parth Bhavsar menjelaskan bahwa polifenol dalam matcha memiliki kemampuan untuk mengikat zat besi di usus, sehingga menghambat penyerapannya oleh tubuh. Shazeen mengaku tidak mengonsumsi matcha setiap hari, melainkan hanya sekitar dua gelas matcha latte setiap minggu. Namun, ia menyatakan bahwa jumlah tersebut ternyata sudah cukup banyak untuk memicu kondisi kesehatannya. Shazeen sendiri diketahui telah lama mengidap anemia, dan konsumsi matcha memperburuk kondisinya.
Kasus Shazeen menjadi pengingat penting akan efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi matcha berlebihan, meskipun minuman ini dikenal kaya antioksidan. Beberapa risiko kesehatan lain yang terkait dengan konsumsi matcha berlebihan meliputi gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare, kembung, hingga refluks asam. Hal ini terutama disebabkan oleh kandungan kafein dan tanin yang tinggi, yang dapat mengiritasi lapisan lambung, terutama jika diminum saat perut kosong.
Kandungan kafein yang signifikan dalam matcha juga dapat menyebabkan masalah tidur, kegelisahan, jantung berdebar, atau iritabilitas bagi individu yang sensitif. Dalam kasus yang jarang dan ekstrem, konsumsi katekin dalam jumlah sangat tinggi (800 mg EGCG atau lebih per hari) juga dikaitkan dengan masalah hati. Selain itu, karena matcha dibuat dari seluruh daun teh, ada potensi paparan kontaminan seperti timbal atau pestisida jika tanaman teh ditanam di daerah yang tercemar. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa teh panas dapat meningkatkan risiko kanker esofagus jika dikonsumsi secara berlebihan.
Para ahli merekomendasikan batas aman konsumsi matcha sekitar 2 hingga 4 gram bubuk per hari, yang setara dengan 2 hingga 3 cangkir. Melebihi takaran ini berpotensi mengubah manfaat sehat matcha menjadi ancaman kesehatan, terutama jika dikonsumsi secara rutin dalam jumlah besar. Penting bagi konsumen untuk memperhatikan sinyal tubuh dan menyesuaikan asupan matcha demi menghindari risiko potensial.