Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Madinah: Menelusuri Jejak Rasulullah, Menghirup Semangat Sejarah Islam

2025-12-30 | 01:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-29T18:42:14Z
Ruang Iklan

Madinah: Menelusuri Jejak Rasulullah, Menghirup Semangat Sejarah Islam

Jutaan umat Muslim dari seluruh dunia terus berdatangan ke Madinah, Arab Saudi, mengikuti jejak spiritual "napak tilas napas Rasulullah" yang diperkuat oleh laporan terkini Liputan6.com. Perjalanan ini memungkinkan jemaah merasakan langsung situs-situs bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan Nabi Muhammad SAW, mulai dari salat di masjid pertama yang dibangunnya hingga kembali ke sisi Masjid Nabawi. Aktivitas ziarah dan umrah mengalami lonjakan signifikan, dengan total kunjungan ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mencapai 68,7 juta jemaah selama bulan Jumadil Akhir saja, meningkat 2,1 juta dari bulan sebelumnya.

Madinah, atau Al-Madinah Al-Munawwarah, memegang peranan sentral dalam sejarah Islam sebagai kota suci kedua setelah Makkah. Setelah Hijrah dari Makkah pada tahun 622 Masehi, Nabi Muhammad SAW menetap di Madinah, yang kemudian menjadi basis kekuatan komunitas Muslim awal dan ibu kota Kekaisaran Muslim. Kota ini menjadi tempat berdirinya Masjid Nabawi, tempat makam Nabi Muhammad SAW berada, serta Masjid Quba yang merupakan masjid pertama dalam sejarah Islam. Jemaah yang melakukan "napak tilas" umumnya mengunjungi situs-situs kunci ini, termasuk Jabal Uhud dan Masjid Qiblatain, untuk merasakan kedekatan emosional dan spiritual dengan era kenabian. Perjalanan ini sering digambarkan sebagai pengalaman yang sangat emosional dan membangkitkan kekaguman, menawarkan rasa kedamaian dan ketenangan yang mendalam.

Secara makro, perjalanan spiritual ini juga terintegrasi dalam strategi ekonomi jangka panjang Arab Saudi melalui Visi 2030. Pariwisata religius, terutama melalui haji dan umrah, menghasilkan sekitar 12 miliar dolar AS setiap tahun, menyumbang hampir 20% dari pendapatan non-minyak negara dan sekitar 7% dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini diproyeksikan terus meningkat, dengan perkiraan pendapatan pariwisata religius melebihi 171 miliar dolar AS pada tahun 2024. Untuk mencapai tujuan ambisius menampung 30 juta jemaah umrah setiap tahun pada tahun 2030, pemerintah Arab Saudi melakukan investasi besar-besaran dalam infrastruktur. Proyek seperti pengembangan Rua Al Madinah akan menambah 47.000 kamar hotel dan diperkirakan menampung 149.000 pengunjung, menciptakan 93.000 lapangan kerja di sektor perhotelan, transportasi, dan ritel. Perluasan skema e-visa yang kini mencakup lebih dari 60 negara serta pengembangan jaringan maskapai baru juga memfasilitasi peningkatan jumlah pengunjung. Pada tahun 2023, pariwisata religius mendukung lebih dari 936.000 lapangan kerja, dengan proyeksi mencapai 1,6 juta pada tahun 2030.

Namun, di balik upaya modernisasi dan peningkatan kapasitas, terdapat pula perdebatan mengenai pelestarian warisan sejarah. Otoritas Saudi telah mengumumkan paket proyek tiga tahun hingga 2025 untuk merestorasi lebih dari 100 situs bersejarah di Madinah, termasuk lokasi Perang Khandaq, Sumur Al-Faqir, dan Masjid Al-Qiblatain, dengan delapan situs telah selesai direstorasi. Menteri Haji dan Umrah, Tawfiq Al-Rabiah, menegaskan komitmen untuk menjaga warisan Islam agar dapat dinikmati oleh jemaah dan pengunjung. Meskipun demikian, kritik juga muncul terkait dugaan penghancuran situs-situs bersejarah demi pembangunan modern, dengan beberapa perkiraan menyebutkan 95% struktur berusia 1000 tahun di Makkah dan Madinah telah dihancurkan. Perdebatan ini menggarisbawahi tantangan dalam menyeimbangkan kebutuhan akomodasi jemaah yang terus bertambah dengan pelestarian identitas budaya dan sejarah kota-kota suci.

Ke depan, Madinah akan terus menjadi magnet spiritual dan pusat ekonomi yang krusial bagi dunia Muslim. Dengan proyeksi jumlah jemaah yang terus meningkat dan investasi infrastruktur yang masif, kota ini tidak hanya berfungsi sebagai tujuan ibadah, tetapi juga sebagai pilar penting dalam diversifikasi ekonomi Arab Saudi. Penekanan pada pengalaman "napak tilas" diharapkan dapat memperdalam koneksi spiritual jemaah sekaligus memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan, meskipun tantangan pelestarian sejarah tetap menjadi fokus perhatian.