:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5280673/original/088091200_1752241713-472101a2-d8f2-459d-90a7-3c17c4dfc9dd.jpg)
Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) meluncurkan program edukasi gizi masif di ribuan sekolah di seluruh Indonesia dalam rangka Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 yang diperingati setiap 25 Januari 2026, memberdayakan anak sekolah sebagai agen perubahan pola makan keluarga untuk mengatasi tantangan gizi ganda dan membentuk generasi sehat. Kampanye ini mengusung tema "Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal" dengan slogan "Sehat Dimulai dari Piringku", menekankan pentingnya pemanfaatan sumber pangan lokal yang beragam, bergizi, aman, dan mudah diakses.
Inisiatif PERSAGI ini bukan sekadar sosialisasi biasa. Di Kabupaten Batang, misalnya, edukasi gizi serentak dilaksanakan di dua lokasi, SMPN 4 Batang dan SMPN 1 Limpung, melibatkan 56 anggota PERSAGI yang tersebar di 21 Puskesmas. Kegiatan serupa menjangkau ribuan sekolah di seluruh negeri, menargetkan peserta didik dari jenjang TK hingga SMA. Fokus utama edukasi adalah mengubah kebiasaan konsumsi remaja yang cenderung memilih makanan cepat saji dan jajanan kurang sehat, serta memperkenalkan prinsip Isi Piringku: setengah piring sayur dan buah, seperempat karbohidrat, dan seperempat protein.
Langkah ini diambil di tengah lanskap gizi Indonesia yang kompleks. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional sebesar 19,8%, menunjukkan penurunan dari 21,5% pada tahun 2023. Namun, angka tersebut masih di atas ambang batas ideal yang direkomendasikan WHO, yakni di bawah 20%. Pemerintah menargetkan penurunan stunting hingga 14,2% pada tahun 2029. Di sisi lain, masalah gizi lebih juga menjadi perhatian serius. Data Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 menunjukkan 8,89 juta peserta dewasa mengalami obesitas sentral. Sementara itu, prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak usia 5-12 tahun mencapai sekitar 19,7% dan 16% pada tahun 2023, menandakan masalah "gizi ganda" di Indonesia. Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono sebelumnya telah mengingatkan bahwa obesitas pada anak berisiko menyebabkan sindrom metabolik yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner dan stroke di masa mendatang, dengan akar masalah seringkali bersumber dari pola hidup keluarga.
Ketua Umum PERSAGI, Doddy Izwardy, menegaskan edukasi gizi merupakan fondasi utama peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju Generasi Emas 2045. "Di tengah tantangan gizi yang masih kompleks mulai dari stunting, kekurangan gizi, hingga meningkatnya masalah gizi lebih, upaya promotif dan preventif melalui edukasi gizi menjadi semakin penting, khususnya di lingkungan sekolah," ujar Doddy. Keterlibatan anak sebagai agen perubahan dianggap strategis karena mereka dapat membawa informasi dan kesadaran gizi yang diperoleh di sekolah ke lingkungan rumah, mempengaruhi kebiasaan makan seluruh anggota keluarga. Pola makan keluarga Indonesia saat ini menghadapi tantangan seperti konsumsi gizi yang tidak seimbang, pergeseran budaya makan, dan ketergantungan pada makanan ultra-proses, dengan kecenderungan mengonsumsi terlalu banyak karbohidrat sederhana dan lemak jenuh namun rendah serat, sayur, buah, dan protein hewani berkualitas. Momen makan bersama keluarga yang semakin menurun, terutama di perkotaan, juga berkontribusi pada fragmentasi budaya makan anak-anak.
Edukasi yang diberikan PERSAGI kepada anak sekolah diharapkan mampu menanamkan literasi gizi sejak dini. Wali Kota Tangerang, Sachrudin, mengapresiasi kolaborasi dengan PERSAGI, menekankan pentingnya sinergi untuk peningkatan gizi yang optimal dan berkelanjutan. Program edukasi ini juga sejalan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan salah satu prioritas pemerintah, memastikan anak-anak tidak hanya menerima makanan bergizi di sekolah, tetapi juga memahami pentingnya asupan tersebut untuk kesehatan jangka panjang. Dengan demikian, pendidikan gizi di sekolah menjadi investasi krusial dalam membangun fondasi kesehatan fisik dan kognitif anak, yang pada gilirannya akan menentukan produktivitas dan daya saing bangsa di masa depan.