
Warga Australia semakin sering menunda kunjungan ke dokter atau bahkan tidak mencari perawatan medis sama sekali, dengan alasan biaya menjadi faktor utama yang mendasari tren mengkhawatirkan ini. Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah individu yang menghadapi dilema finansial ini, yang mengancas aksesibilitas sistem layanan kesehatan universal negara tersebut.
Persentase warga Australia yang melaporkan menunda atau tidak mengunjungi dokter umum karena biaya telah meningkat drastis. Biro Statistik Australia (ABS) mencatat bahwa angka ini melonjak dari 3,5% pada tahun 2022 menjadi 7% pada tahun 2023. Data yang lebih baru untuk periode 2023-2024 menunjukkan peningkatan lebih lanjut hingga 8,8% dari total populasi. Angka ini bahkan lebih tinggi pada kelompok usia produktif 25-34 tahun, di mana lebih dari 15% menunda perawatan GP karena biaya. Studi juga menunjukkan bahwa tidak hanya masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga kelompok berpenghasilan menengah dan tinggi kini turut menunda kunjungan ke dokter karena alasan keuangan. Hampir satu juta warga Australia diketahui menunda pengobatan yang diperlukan setiap tahun akibat kendala biaya.
Kenaikan biaya pengeluaran pribadi (out-of-pocket costs) menjadi pendorong utama tren ini. Biaya rata-rata untuk sekali kunjungan dokter umum secara nasional mencapai $41.69 pada awal tahun 2024, dengan Tasmania mencatat angka tertinggi, yaitu $51.19 per kunjungan. Laporan lain pada Januari 2025 menunjukkan biaya rata-rata nasional naik menjadi $43.38. Secara keseluruhan, biaya pribadi untuk layanan kesehatan di Australia kini melampaui $33 miliar per tahun. Australia tercatat memiliki proporsi pengeluaran out-of-pocket yang lebih tinggi dibandingkan dengan sebagian besar negara OECD, termasuk Inggris, Kanada, dan bahkan Amerika Serikat.
Penurunan drastis dalam tingkat bulk billing juga memperburuk situasi. Laporan Cleanbill pada Januari 2024 mengungkapkan bahwa tingkat klinik yang melakukan bulk billing untuk semua pasien turun lebih dari 11%, dari 34,7% pada tahun 2023 menjadi 23,6% pada tahun 2024. Lebih dari 500 klinik bahkan berhenti menawarkan layanan bulk billing secara keseluruhan pada tahun lalu. Saat ini, kurang dari seperempat praktik umum di Australia menyediakan bulk billing untuk semua pasien. Meskipun demikian, data pemerintah yang mencakup pemegang kartu konsesi dan anak-anak di bawah 16 tahun menunjukkan peningkatan proporsi kunjungan GP yang di-bulk bill secara keseluruhan, dari 75,6% pada Oktober 2023 menjadi 77,3% pada Oktober 2024. Peningkatan ini dikaitkan dengan kebijakan pemerintah yang melipatgandakan insentif bulk billing Medicare untuk kelompok-kelompok tersebut mulai November 2023.
Dampak penundaan perawatan medis ini dirasakan paling parah oleh kelompok rentan, termasuk warga Australia muda, individu dengan disabilitas, mereka yang berada dalam kondisi sosial-ekonomi yang kurang beruntung, wanita, dan penderita penyakit kronis. Penundaan perawatan dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan yang lebih buruk, seperti diagnosis kanker yang lebih lambat. Diperkirakan sepertiga rumah tangga berpenghasilan rendah menghabiskan lebih dari 10% pendapatan mereka untuk layanan kesehatan.
Pemerintah Australia telah menanggapi kekhawatiran ini dengan melipatgandakan insentif bulk billing Medicare untuk pemegang kartu konsesi dan anak-anak di bawah 16 tahun, berlaku sejak November 2023. Kebijakan ini dilaporkan telah memberikan dampak positif pada tingkat bulk billing untuk kelompok usia tertentu.
Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa biaya tinggi menyebabkan masyarakat memandang perawatan pencegahan sebagai hal yang opsional. Australia menghabiskan sekitar 1,34% dari total anggaran kesehatannya untuk pencegahan, jauh di bawah rata-rata 2,8% di negara-negara OECD lainnya. Padahal, investasi dalam perawatan pencegahan sangat penting untuk deteksi dini penyakit dan mempromosikan kehidupan yang lebih sehat.