Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mengejutkan: Penyakit Degeneratif Hantui Generasi Muda, Dokter Bongkar Akar Masalahnya

2025-12-23 | 20:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-23T13:26:31Z
Ruang Iklan

Mengejutkan: Penyakit Degeneratif Hantui Generasi Muda, Dokter Bongkar Akar Masalahnya

Sejumlah dokter dan ahli kesehatan di Indonesia menyoroti peningkatan kasus penyakit degeneratif dan kronis yang sebelumnya identik dengan usia lanjut, kini semakin banyak menyerang generasi muda, bahkan sejak usia remaja. Data terbaru dan pengamatan klinis menunjukkan pergeseran epidemiologi ini didorong oleh pola hidup modern yang tidak sehat. Penyakit seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung kian menjadi ancaman serius bagi produktivitas dan kualitas hidup generasi muda Indonesia.

Fenomena ini mengkhawatirkan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengungkapkan prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan anak usia SD (5-12 tahun) mencapai 21,5%, remaja 13-15 tahun sekitar 19,7%, dan remaja 16-18 tahun sebesar 12,1%. Prevalensi obesitas sentral pada 2023 bahkan mendekati 36,8%, meningkat tajam dari 18% pada 2007. Obesitas pada usia muda secara langsung meningkatkan risiko sindrom metabolik, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. Data Kementerian Kesehatan RI (Riskesdas 2024) mencatat prevalensi diabetes tipe 2 pada kelompok usia 10–19 tahun meningkat signifikan dari 0,8% pada 2018 menjadi 2,3% pada 2024. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Eva Susanti, menjelaskan bahwa metabolisme tubuh secara langsung dipengaruhi oleh makanan cepat saji, minuman berkadar gula tinggi, dan kebiasaan duduk di depan layar dalam waktu lama.

Hipertensi juga menunjukkan tren serupa. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, 8,7% penderita hipertensi berada pada usia 15-24 tahun, angka ini melonjak menjadi 13,2% pada 2018 untuk rentang usia 18-24 tahun. SKI 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tensimeter sebesar 10,7% pada kelompok usia 18-24 tahun dan 17,4% pada kelompok 25-34 tahun. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (INASH), dr. B.R.M. Ario Soeryo Kuncoro, Sp.J.P.(K), FIHA, menyatakan bahwa hipertensi bukan lagi hanya masalah orang dewasa atau lansia, melainkan juga ditemukan pada anak-anak, remaja, dan usia produktif.

Biang kerok utama di balik fenomena ini adalah gaya hidup tidak sehat yang merajalela di kalangan generasi muda. Pola makan tidak sehat menjadi faktor dominan. Konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan garam, termasuk makanan cepat saji dan minuman manis, telah menjadi kebiasaan. Sebagian besar anak dan remaja di Indonesia kurang mengonsumsi buah dan sayur. Epidemiolog Universitas Jambi, Dr. Ummi Kalsum, SKM, MKM, menyoroti bahwa persentase remaja yang mengonsumsi makanan sehat sesuai anjuran (5 porsi sehari) kurang dari 2%, sementara 97-98% tidak mengonsumsi cukup buah dan sayur. Makanan ultra-proses, yang mudah ditemukan dan seringkali lebih murah, juga berperan besar. Produk ini, yang kaya gula, garam, lemak, pengawet, pewarna, dan perasa buatan, telah dikaitkan dengan obesitas, penyakit kronis, masalah kesehatan mental, dan gangguan pertumbuhan.

Selain pola makan, kurangnya aktivitas fisik menjadi masalah kesehatan terbanyak. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) oleh Kementerian Kesehatan pada 2025 menunjukkan 58% remaja usia 10-14 tahun di Indonesia malas bergerak (mager) dan kurang aktivitas fisik. Pada kelompok dewasa, hampir 96% peserta Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada akhir Oktober 2025 dilaporkan mengalami kurang aktivitas fisik. Tingkat kebugaran yang kurang mencapai 60,1% pada anak usia sekolah. Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa krisis gerak melanda Indonesia. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol juga menjadi pemicu signifikan penyakit jantung pada usia muda. Stres berkepanjangan, dipicu oleh tekanan akademis, pekerjaan, dan hubungan sosial, turut berkontribusi menurunkan sistem kekebalan tubuh dan memicu berbagai penyakit seperti sakit kepala, depresi, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi. Polusi udara juga diidentifikasi sebagai faktor risiko tambahan untuk serangan jantung pada dewasa muda.

Dr. Ariska Sinaga, SpPD, pakar penyakit dalam dari Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, menekankan bahwa orang berusia 20-an yang terkena penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes berisiko mengalami komplikasi pada usia 40-an jika tidak ditangani segera. Komplikasi tersebut dapat mencakup gangguan penglihatan, ginjal, bahkan penyakit jantung sebelum usia 30 tahun jika diabetes tidak terkontrol. Peningkatan kasus penyakit kronis di usia muda ini berimplikasi pada penurunan produktivitas dan peningkatan beban kesehatan jangka panjang.

Pencegahan dini merupakan kunci. Tenaga kesehatan menyarankan penerapan gaya hidup sehat melalui pola makan seimbang yang kaya serat, protein tanpa lemak, lemak sehat, serta mengurangi gula dan garam berlebih. Rutin berolahraga minimal 30 menit sehari atau 150 menit per minggu juga sangat dianjurkan. Menghindari rokok dan alkohol, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala (medical check-up) untuk deteksi dini menjadi langkah krusial. Galuh Ratmana Hanum, SSi MSi, dosen Program Studi Teknik Laboratorium Medis Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, menekankan bahwa edukasi tentang gejala, komplikasi, dan pencegahan penyakit degeneratif harus ditingkatkan di kalangan remaja. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah memulai program seperti "Remaja Sehat Tanpa Gula Berlebih" sejak awal 2023 dan mengendalikan kadar gula dalam makanan dan minuman kemasan sebagai bagian dari upaya pencegahan.