Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Padel Murah 2025: Bocoran Tarif Sewa Lapangan per Jam

2025-12-23 | 01:52 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T18:52:43Z
Ruang Iklan

Padel Murah 2025: Bocoran Tarif Sewa Lapangan per Jam

Lonjakan pembangunan fasilitas padel di seluruh Indonesia sepanjang tahun 2025 telah secara signifikan menurunkan biaya bermain olahraga raket yang semakin populer ini, mengubah persepsinya dari aktivitas elit menjadi pilihan yang lebih terjangkau bagi masyarakat urban. Dengan penetrasi pasar yang pesat, harga sewa lapangan per jam kini bervariasi mulai dari Rp75.000 hingga Rp800.000, tergantung lokasi dan fasilitas, namun secara efektif menjadi lebih murah saat dibagi di antara empat pemain.

Popularitas padel di Indonesia meroket pada tahun 2025, ditandai dengan peningkatan jumlah lapangan yang dramatis. Dari hanya sekitar 10-12 lapangan resmi pada tahun 2023, jumlahnya melonjak menjadi lebih dari 60 lapangan pada tahun 2025, sebuah pertumbuhan lebih dari 400% dalam dua tahun. Per November 2025, Indonesia bahkan mencatatkan 133-134 lapangan padel permanen, menjadikannya negara dengan fasilitas padel terbanyak di Asia Tenggara dan peringkat keenam di Asia menurut Federasi Padel Internasional (FIP). Tingkat pertumbuhan yang cepat ini, didorong oleh tren global dan daya tarik media sosial, menjadikan padel sebagai fenomena gaya hidup.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, biaya sewa lapangan padel umumnya berkisar antara Rp200.000 hingga Rp500.000+ per jam. Namun, ada variasi signifikan. Lapangan di Jakarta Selatan, misalnya, menawarkan tarif mulai dari Rp250.000 hingga Rp500.000 per jam, sementara Co-Founder komunitas Rich Padel, Ivan Wijaya, menyebut rentang harga Rp185.000 hingga Rp230.000, bergantung pada lapangan dan jenis permainan. Beberapa klub menyediakan harga "happy hour" atau di luar jam sibuk yang lebih rendah, seperti Racquet Padel Club di Cilandak yang menawarkan harga mulai dari Rp75.000 hingga Rp200.000 per jam. Untuk jam sibuk atau lapangan premium di Jakarta, tarif bisa mencapai Rp400.000 hingga Rp800.000 per jam, bahkan hingga Rp1 juta di lokasi tertentu. Ketua Komunitas Padel Pop Jakarta, Jehan Nurhakim, mengkonfirmasi rata-rata harga sewa di Jakarta mencapai Rp450.000 per jam.

Di Bali, salah satu pusat pertumbuhan padel, tarif sewa bervariasi luas dari Rp50.000 per jam di Jungle Padel hingga Rp520.000 per jam di Bali Padel Academy. Sementara itu, di Bandung, tarif sewa berada di kisaran Rp250.000 hingga Rp300.000 per jam. Meskipun angka-angka ini mungkin terlihat tinggi, padel dimainkan dalam format ganda (dua lawan dua), sehingga biaya sewa dapat dibagi di antara empat pemain. Hal ini membuat pengeluaran per orang menjadi jauh lebih terjangkau, seringkali hanya Rp75.000 hingga Rp200.000 per jam. Ivan Wijaya menekankan bahwa padel adalah "social game" dan pengalaman yang didapat bukan hanya fisik tetapi juga relasi dan networking, membuat harganya masuk akal jika dibagi per orang.

Faktor-faktor yang memengaruhi harga sewa meliputi lokasi strategis, fasilitas pendukung seperti ruang ganti, kafe, kualitas lapangan, serta waktu bermain (jam sibuk vs. jam biasa). Lapangan dengan fasilitas standar internasional dan desain estetis, seperti Padel Pro Kemang dengan lapangan indoor berwarna pink yang instagramable, cenderung mematok harga lebih tinggi.

Pertumbuhan pesat ini menarik perhatian investor dan pengembang. CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menyatakan bahwa harga sewa tanah di beberapa lokasi strategis untuk lapangan padel, seperti Kemang, Cipete, dan Cilandak, telah meningkat hingga dua kali lipat. Meskipun demikian, ia menilai pemilik lapangan padel dapat mencapai titik impas (break-even point) dalam waktu singkat, sekitar 2-3 tahun. Fenomena ini menandakan bahwa padel tidak hanya menjadi tren olahraga, tetapi juga industri yang menjanjikan.

Namun, pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengingatkan agar Indonesia belajar dari pengalaman Swedia, di mana pertumbuhan padel yang terlalu eksplosif mengakibatkan kebangkrutan puluhan operator dan penutupan ribuan lapangan akibat persaingan ketat, inflasi, dan penurunan minat kelas menengah. Padel di Indonesia saat ini berada dalam fase "peluang emas," namun keberlanjutan dan kualitas infrastruktur menjadi kunci untuk menghindari nasib serupa. Dengan lebih dari 7.000 lapangan baru dibangun secara global pada tahun 2024 dan proyeksi mencapai 81.000 lapangan pada tahun 2027, ekspansi padel di Indonesia, didukung oleh turnamen internasional FIP Bronze 2025 di Jakarta dan Bali, menunjukkan potensi jangka panjangnya dalam ekosistem olahraga global.