Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terkuak! Gejala Awal Cuci Darah Pemuda Makassar Sejak Usia 15 Tahun

2025-12-28 | 07:58 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T00:58:46Z
Ruang Iklan

Terkuak! Gejala Awal Cuci Darah Pemuda Makassar Sejak Usia 15 Tahun

Rahmat Putra, seorang pemuda dari Makassar, memulai kehidupan dengan dialisis pada usia 15 tahun setelah didiagnosis mengidap gagal ginjal kronis stadium lima pada tahun 2022. Kondisi ini, yang bermula dari kejang-kejang yang membawanya ke unit gawat darurat, kini mengharuskannya menjalani cuci darah tiga kali seminggu. Kisah Rahmat menyoroti tren mengkhawatirkan peningkatan kasus gagal ginjal pada usia muda di Indonesia, sebuah fenomena yang membebani individu, keluarga, dan sistem kesehatan nasional.

Dokter mendiagnosis gagal ginjal kronis pada Rahmat akibat adanya kelainan pada ginjalnya, di mana salah satu ginjalnya mengecil dan fungsi ginjal yang tersisa hanya di bawah 15 persen. Faktor gaya hidup yang tidak sehat turut memperparah kondisinya. Rahmat mengakui kebiasaan sering mengonsumsi minuman manis kemasan, camilan tinggi garam, jarang minum air putih, dan begadang hingga larut malam. Gejala awal yang dialaminya meliputi kelelahan dan lemas meskipun sudah cukup istirahat, dada berdebar tanpa aktivitas berat, mual, muntah, wajah pucat, dan jarang buang air kecil. Pipi yang membengkak setelah bangun tidur juga merupakan sinyal halus kerusakan ginjal yang awalnya ia abaikan.

Kasus Rahmat bukan isolasi. Peningkatan kasus gagal ginjal kronis di usia muda telah menjadi perhatian serius di Indonesia. Data BPJS Kesehatan menunjukkan pembiayaan pengobatan penyakit ini melonjak dari Rp 6,5 triliun pada 2019 menjadi Rp 11 triliun pada 2024. Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), Dokter Pringgodigdo Nugroho, pada Maret 2025, mengidentifikasi gaya hidup tidak sehat sebagai faktor utama. Konsumsi garam berlebih, kurang minum air, sering begadang, dan jarang bergerak memperbesar risiko kerusakan ginjal. Selain itu, penyakit autoimun dan kelainan anatomi pada saluran kencing juga dapat memicu gangguan ginjal sejak usia muda. Dokter Debby Christiana Soemitha, spesialis penyakit dalam dari Heartology Hospital, pada Desember 2025, menyebut fenomena gagal ginjal pada anak muda sangat mengkhawatirkan, dengan pola makan tidak sehat yang mengarah pada obesitas dan diabetes sebagai faktor risiko utama.

Implikasi dari kondisi gagal ginjal dini sangat mendalam. Pasien muda seperti Rahmat terpaksa menunda pendidikan tinggi dan harus fokus pada pengobatan, menjalani cuci darah setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Peralihan antara metode hemodialisis di rumah sakit dan dialisis peritoneal (CAPD) di rumah, seperti yang dialami Rahmat, menunjukkan kompleksitas dan tantangan berkelanjutan dalam manajemen penyakit. Selain beban finansial yang besar pada sistem kesehatan, kondisi ini juga menimbulkan dampak fisik, mental, dan sosial yang signifikan bagi penderita dan keluarganya. Dokter Rifda Savirani dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sidoarjo pada Juni 2025 menegaskan bahwa penyakit ginjal di usia muda dapat memengaruhi kualitas hidup mereka dalam jangka panjang.

Para ahli menekankan pentingnya deteksi dini, karena sering kali penyakit ini tidak terdeteksi hingga fungsi ginjal menurun drastis. Konsultasi dini ke subspesialis nefrologi anak memungkinkan diskusi tentang pilihan terapi pengganti ginjal yang sesuai. Edukasi kesehatan mengenai pola makan seimbang, hidrasi cukup, aktivitas fisik, dan menghindari konsumsi obat atau suplemen tanpa pengawasan medis menjadi krusial untuk mencegah lonjakan kasus di masa depan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa pada 2023, lebih dari 42.000 kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit ginjal kronis, dengan jumlah kasus yang membutuhkan pembiayaan meningkat menjadi 1,5 juta dengan biaya Rp2,92 triliun. Situasi ini menyerukan intervensi kesehatan masyarakat yang lebih gencar untuk melindungi generasi muda dari ancaman gagal ginjal.