Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terkuak: Penyebab Stroke Balita 2 Tahun Usai Wajah Mendadak Lumpuh Sebelah

2025-12-06 | 12:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-06T05:06:49Z
Ruang Iklan

Terkuak: Penyebab Stroke Balita 2 Tahun Usai Wajah Mendadak Lumpuh Sebelah

Stroke, sebuah kondisi medis serius yang umumnya diidentikkan dengan orang dewasa dan lansia, ternyata juga dapat menyerang anak-anak, bahkan balita. Salah satu kasus yang menyoroti realitas ini adalah pengalaman seorang bocah berusia 2 tahun di Inggris, Carter Bayley, yang tiba-tiba mengalami kondisi langka tersebut dengan gejala awal berupa wajah turun sebelah. Orang tua Carter, Elise dan Lawrence, awalnya menduga putranya mengalami reaksi alergi ketika sisi kanan wajahnya mendadak melorot. Setelah diberikan obat alergi Piriton, wajah Carter sempat kembali normal. Namun, ketika gejala serupa muncul lagi dengan cepat, mereka menyadari ada masalah serius dan segera membawanya ke rumah sakit. Diagnosis medis mengungkapkan bahwa Carter mengalami stroke iskemik arteri pada serebral media bagian kiri otak, sebuah kondisi yang sangat jarang terjadi pada usia dini.

Stroke pada anak adalah kondisi serius yang membutuhkan penanganan medis segera. Meskipun jarang, stroke merupakan salah satu dari 10 penyebab utama kematian pada anak. Diperkirakan, sekitar 1-2 kasus stroke per 100.000 anak terjadi setiap tahunnya. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berisiko tinggi menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang, seperti kecacatan neurologis, gangguan kognitif dan motorik permanen, hingga mengancam nyawa.

Gejala stroke pada anak-anak dapat bervariasi tergantung usia, namun seringkali mirip dengan gejala pada orang dewasa. Tanda-tanda umum meliputi wajah yang tampak tidak simetris atau sulit digerakkan (termasuk kelopak mata, pipi, atau mulut yang turun), kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, kesulitan berbicara atau cadel, kesulitan memahami ucapan orang lain, sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba diikuti muntah dan mengantuk, pandangan kabur atau ganda, tiba-tiba sulit berjalan atau kehilangan keseimbangan, serta kejang. Pada bayi, gejala mungkin lebih samar, seperti kejang, tidur berlebihan, dan kecenderungan hanya menggunakan satu sisi tubuhnya. Orang tua juga diimbau untuk waspada jika anak sering terjatuh, mengalami gangguan keseimbangan, atau terlihat lebih lemas dari anak seusianya.

Penyebab stroke pada anak berbeda dengan orang dewasa. Pada anak-anak, stroke dapat dikategorikan menjadi stroke iskemik (sumbatan pembuluh darah) dan stroke hemoragik (pendarahan atau pecahnya pembuluh darah). Stroke iskemik pada anak dapat disebabkan oleh kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, infeksi berat seperti meningitis dan sepsis, kelainan darah yang membuat darah mudah membeku, dehidrasi, atau kelainan asam basa darah. Selain itu, cedera pada pembuluh arteri di leher juga bisa menjadi pemicu. Sementara itu, stroke hemoragik dapat diakibatkan oleh cedera kepala berat, kelainan pembuluh darah otak seperti malformasi arteri vena (AVM), atau kelainan pembekuan darah seperti hemofilia.

Salah satu penyebab langka namun penting untuk diketahui adalah penyakit Moyamoya, yaitu kelainan progresif yang menyebabkan penyempitan atau penyumbatan arteri utama di dasar otak. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof Dr dr Mahar Mardjono di Indonesia, misalnya, pernah menangani pasien balita 3 tahun dengan serangan stroke berulang yang didiagnosis mengidap Moyamoya. Dalam kasus tersebut, pasien anak 3 tahun dilaporkan terjatuh saat bermain sebelum gejala stroke muncul.

Mengingat kasus stroke pada anak tidak lazim dan gejalanya seringkali sulit dikenali, deteksi dini sangatlah krusial. Jika anak mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas, penting untuk segera membawa mereka ke unit gawat darurat terdekat. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah memerhatikan kondisi penderita, mencatat waktu gejala terjadi, segera menghubungi bantuan medis darurat (seperti 112), membaringkan korban dengan posisi kepala sedikit lebih tinggi jika sadar, dan tidak memberikan makanan, minuman, atau obat-obatan sebelum diperiksa oleh tenaga medis. Penanganan yang cepat dan tepat akan meningkatkan peluang kesembuhan dan meminimalkan risiko kerusakan otak permanen pada anak.