:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461589/original/000273000_1767423898-Atta_Halilintar_0.jpg)
Pasangan selebriti Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, bersama kedua putri mereka Ameena Hanna Nur Atta dan Azura Humaira Nur Atta, menghabiskan liburan Tahun Baru 2026 di Tiongkok, memicu diskusi publik yang meluas mengenai gaya hidup pesohor dan praktik keagamaan di tengah sorotan digital. Perjalanan keluarga besar ini, yang turut melibatkan Anang Hermansyah dan Ashanty, menyoroti dinamika perjalanan selebriti yang kerap menjadi konsumsi massal, sekaligus menggarisbawahi tantangan menjaga privasi dan praktik personal di ruang publik yang semakin terkoneksi.
Keluarga Halilintar-Hermansyah dilaporkan mengunjungi beberapa kota di Tiongkok, termasuk Zhuhai dan Shanghai, serta Shenzhen, selama periode pergantian tahun 2025 menuju 2026. Momen-momen liburan mereka menjadi subjek liputan media dan diskusi intens di berbagai platform media sosial, sebuah pola yang konsisten dengan citra mereka sebagai salah satu keluarga paling berpengaruh di ranah digital Indonesia. Konten yang mereka bagikan, mulai dari aktivitas wisata hingga interaksi keluarga, secara inheren berfungsi sebagai material gaya hidup yang membentuk tren dan aspirasi audiens mereka.
Namun, perjalanan ini tidak lepas dari kontroversi. Salah satu insiden yang menarik perhatian adalah ketika Atta Halilintar terekam sedang melaksanakan salat di sebuah trotoar di depan toko di Tiongkok. Video tersebut, yang dengan cepat menjadi viral, menampilkan Atta menggunakan jaket sebagai alas salat dan menghadap ke kaca toko, memicu beragam reaksi dari warganet. Sebagian netizen memuji keteguhan Atta dalam menjalankan ibadah di tengah perjalanan, sementara yang lain mempertanyakan pilihan lokasi salat, mengingat statusnya sebagai musafir yang diizinkan untuk menjamak salat di akomodasi. Kritikus juga mempertanyakan motivasi di balik perekaman dan publikasi momen tersebut, menyoroti pergeseran batas antara ibadah personal dan konten publik. Diskusi ini membuka kembali perdebatan yang lebih luas mengenai etika berbagi momen keagamaan pribadi oleh figur publik, serta interpretasi khalayak terhadap praktik keimanan dalam konteks modern.
Insiden lain yang turut menjadi sorotan adalah kepanikan Atta saat Ameena sempat hilang dari rombongan keluarga di Chimelong. Momen tersebut terekam dalam vlog Atta dan menunjukkan tekanan serta kerentanan yang dihadapi orang tua, terutama figur publik, saat mengasuh anak di tempat umum yang ramai. Kejadian ini menggarisbawahi bahwa di balik gemerlap citra glamor, keluarga selebriti juga menghadapi tantangan keseharian yang sama dengan masyarakat umum, hanya saja dengan magnifikasi dan pengawasan publik yang jauh lebih intens.
Pola liburan keluarga Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah mencerminkan tren yang berkembang di kalangan selebriti dan influencer Indonesia, di mana perjalanan luar negeri tidak hanya menjadi sarana rekreasi pribadi tetapi juga investasi konten dan personal branding. Destinasi eksotis dan pengalaman unik seringkali diabadikan dan disebarluaskan, membentuk narasi gaya hidup yang aspiratif bagi jutaan pengikut. Implikasinya melampaui sekadar hiburan; hal ini memengaruhi tren pariwisata, konsumsi, dan bahkan membentuk persepsi publik tentang budaya dan nilai-nilai. Perjalanan mereka ke Tiongkok, dengan segala sorotan dan kontroversinya, memperkuat posisi mereka sebagai pembuat opini dan penggerak budaya dalam lanskap media digital Indonesia.