Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

8 Resep Camilan Santan Tepung Praktis: Teman Ngeteh Sore Anti-Ribet

2026-01-13 | 05:17 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T22:17:44Z
Ruang Iklan

8 Resep Camilan Santan Tepung Praktis: Teman Ngeteh Sore Anti-Ribet

Industri kuliner Indonesia terus menunjukkan vitalitasnya, dengan camilan tradisional berbahan dasar santan dan tepung tetap menjadi kekuatan ekonomi dan budaya yang signifikan. Data survei "The State Of Snacking" tahun 2019 menunjukkan bahwa 77% orang Indonesia mengonsumsi camilan lebih banyak daripada makanan berat setiap hari, dengan 93% di antaranya melakukannya untuk meningkatkan suasana hati, dan 91% untuk mencari momen "me-time". Meskipun data ini berasal dari survei yang dilakukan Mondelez Indonesia pada tahun 2019, tren konsumsi camilan semakin menguat, bahkan meningkat 60% selama pandemi COVID-19 pada tahun 2020, menunjukkan peran camilan sebagai penunjang emosional dan fisik di tengah kesibukan masyarakat.

Keberadaan delapan resep camilan mudah dari santan dan tepung, yang populer sebagai teman ngeteh, tidak hanya mencerminkan kekayaan warisan kuliner Nusantara, tetapi juga menopang ribuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di seluruh negeri. Santan, sebagai bahan pokok masakan Asia Tenggara, memiliki potensi pasar yang sangat besar di Indonesia, didorong oleh tingginya permintaan untuk berbagai hidangan tradisional, dari makanan penutup hingga hidangan utama. Analisis usaha santan kelapa pada tahun 2024 menunjukkan tren permintaan yang stabil dan bahkan meningkat, seiring dengan kesadaran akan manfaat kesehatan lemak sehat dan nutrisi alami di dalamnya.

Komoditas kelapa, sumber utama santan, menjadi sektor perkebunan vital yang menyumbang pendapatan petani dan Produk Domestik Bruto (PDB) daerah, seperti yang terlihat di Kabupaten Rokan Hulu. Namun, di sisi lain, industri kelapa sawit yang dominan di Indonesia dengan luas perkebunan mencapai 14,32 juta hektar pada tahun 2019, juga menimbulkan perdebatan terkait dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan, termasuk isu konflik lahan dan keberlanjutan. Kondisi ini menyoroti perlunya keseimbangan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk mendukung keberlangsungan bahan baku tradisional.

Camilan seperti kue lapis, bubur sumsum, bika ambon, dan kue talam, yang mengandalkan tepung beras atau ketan serta santan, diakui memiliki kandungan gizi. Kue lapis misalnya, mengandung karbohidrat dan lemak sehat dari santan yang baik untuk jantung jika dikonsumsi dalam porsi tepat. Bubur sumsum, terbuat dari tepung beras dan santan, menyediakan lemak sehat, sementara gula merah memberikan energi instan. Ahli gizi Ai Imas Faidoh Fatimah dari IPB University menyoroti tren makanan kukusan yang dinilai positif karena meminimalkan penggunaan minyak, sehingga lebih rendah lemak jenuh dan kalori, serta membantu mempertahankan nutrisi seperti vitamin dan mineral. Ini relevan dengan banyak kue basah berbahan santan dan tepung yang diolah dengan dikukus.

Meskipun jajanan pasar seringkali diidentikkan dengan kandungan gula yang tinggi, sejumlah kue tradisional seperti kue putu ayu, klepon, dan getuk, dapat menjadi pilihan camilan rendah kalori jika dikonsumsi dengan porsi yang tepat. Misalnya, satu buah kue putu ayu hanya mengandung sekitar 26 kalori, menjadikannya pilihan yang relatif aman bagi mereka yang sedang diet. Studi di Yogyakarta pada tahun 2023 bahkan menunjukkan bahwa sebagian besar responden (77,3%) memiliki asupan gula dari jajanan tradisional yang masih tergolong rendah, meskipun dikonsumsi secara sering, karena porsi yang cenderung sedikit.

Peluang bisnis untuk jajanan pasar tradisional semakin terbuka lebar, dengan banyak UMKM melakukan inovasi produk dan kemasan untuk menarik pasar modern dan generasi muda. Marketing Manager Bola Deli, Dwi Rahayu, menyatakan bahwa dengan bahan baku berkualitas, rasa dan bentuk aneka jajanan tradisional dapat bersaing dengan kue-kue modern. Chef Bola Deli, Devina Hermawan, juga menambahkan bahwa kreativitas dalam memodifikasi sajian, seperti klepon isi cokelat atau keju, tanpa menghilangkan bahan utama, dapat membuka peluang bagi UMKM. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan daya tarik pasar, dengan rata-rata peningkatan bulanan antara 30-50% setelah peluncuran produk baru menurut penelitian di Kota Bekasi, tetapi juga membantu melestarikan warisan kuliner Indonesia di tengah gempuran tren makanan internasional.

Tantangan dan peluang ini menunjukkan bahwa camilan dari santan dan tepung, lebih dari sekadar teman ngeteh, merupakan bagian integral dari identitas kuliner, ekonomi, dan kesehatan masyarakat Indonesia, yang terus beradaptasi dan berkembang di tengah dinamika zaman.