:strip_icc()/kly-media-production/medias/4389211/original/015578000_1681113314-WhatsApp_Image_2023-04-10_at_14.24.09.jpeg)
Popularitas resep minuman buka puasa yang hanya menggunakan tiga bahan dasar meningkat pesat di tengah masyarakat Indonesia, terutama saat bulan Ramadan. Fenomena ini mencerminkan kebutuhan akan efisiensi waktu, hidrasi optimal, dan nutrisi esensial setelah berpuasa seharian, yang sejalan dengan pergeseran tren kuliner ke arah kepraktisan dan kesadaran akan kesehatan.
Tren ini bukan sekadar preferensi individual, melainkan juga respons terhadap dinamika sosial-ekonomi selama Ramadan. Survei Populix menunjukkan bahwa pada Ramadan 2025, minuman segar menjadi salah satu kategori yang paling banyak dicari dan dibeli masyarakat Indonesia, dengan 82% responden menyatakan akan lebih banyak membeli makanan ringan untuk berbuka puasa seperti takjil dan kue, serta 64% responden membeli minuman dalam kemasan seperti teh, sirup, atau jus. Kebutuhan akan kepraktisan juga terlihat dari 42% masyarakat yang memilih makanan "ready to cook" selama Ramadan karena alasan menghemat waktu (69%) dan keengganan memasak yang rumit (63%). Lonjakan konsumsi makanan dan minuman ini turut mendongkrak ekonomi nasional, di mana data Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan belanja masyarakat mengalami akselerasi signifikan selama Ramadan.
Dosen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR, Azizah Ajeng Pratiwi SGz MGizi, menekankan pentingnya menjaga kualitas asupan nutrisi dan hidrasi optimal selama berpuasa, meskipun frekuensi makan berkurang. Ia menyarankan pola konsumsi air dua gelas sebanyak empat kali: saat berbuka, setelah makan malam, sebelum tidur, dan saat sahur, guna memastikan hidrasi optimal. Air putih adalah pilihan utama karena tidak mengandung kalori atau gula tambahan, serta membantu fungsi ginjal. Senada dengan itu, Prof. Dr. Hardinsyah, MS, Guru Besar Ilmu Gizi IPB, menyatakan minuman buka puasa yang baik sebaiknya mengandung elektrolit alami dan menghindari kafein atau gula berlebihan yang dapat menyebabkan dehidrasi.
Meskipun minuman manis umum dikonsumsi untuk mengembalikan energi dengan cepat setelah berpuasa, seperti diungkapkan Profesor Ilmu Gizi Pangan IPB University, Prof Budi Setiawan, para ahli nutrisi memperingatkan bahaya konsumsi gula berlebihan. Pembatasan gula harian adalah 50 gram atau setara empat sendok makan. Konsumsi berlebihan dapat menghalangi pemenuhan gizi seimbang, membuat lambung terasa penuh sehingga mengurangi asupan makanan sehat, meningkatkan risiko karies gigi, kenaikan berat badan, hingga memicu lonjakan insulin yang berujung pada kelelahan atau hipoglikemia jika dikonsumsi saat sahur.
Tren resep minuman tiga bahan ini umumnya mengandalkan buah-buahan tinggi air seperti timun suri, semangka, blewah, atau kelapa muda, yang dipadukan dengan pemanis alami atau sirup dalam jumlah terkontrol, serta es batu untuk sensasi kesegaran. Contoh populer meliputi es timun suri (timun suri, sirup cocopandan, susu UHT), es semangka jeruk nipis (semangka, jeruk nipis, air gula), atau es kopi susu gula aren (kopi instan, susu cair, gula aren cair). Inovasi juga terlihat pada infused water dengan lemon, jeruk nipis, atau stroberi. Simplicitas ini memungkinkan individu untuk mempersiapkan minuman sehat dengan cepat, mendukung rehidrasi, dan mengembalikan energi tanpa persiapan rumit.
Di masa depan, kecenderungan masyarakat untuk mencari solusi kuliner yang praktis dan sehat selama Ramadan diproyeksikan akan terus meningkat. Hal ini didukung oleh fenomena "meal prep" yang semakin populer untuk menghemat waktu dan biaya. Inovasi dalam takjil kekinian yang menggabungkan cita rasa tradisional dengan sentuhan modern dan sehat juga semakin meroket, didorong oleh platform digital dan kolaborasi antara chef profesional dan pengusaha muda. Ketersediaan resep-resep sederhana ini di berbagai platform digital juga berkontribusi pada kemudahan akses dan adopsi oleh konsumen. Pola konsumsi ini mengindikasikan pergeseran berkelanjutan menuju pilihan makanan dan minuman yang tidak hanya memuaskan selera, tetapi juga mendukung kesejahteraan fisik dalam jangka panjang.