:strip_icc()/kly-media-production/medias/3552985/original/065149100_1630047533-chimpanzee-3737996_960_720.jpg)
Peningkatan studi etologi dan neurosains komparatif telah menggeser pemahaman konvensional mengenai kesadaran, emosi, dan kecerdasan dalam kerajaan hewan, mengungkap bahwa beberapa spesies menunjukkan pola perilaku yang mencerminkan kompleksitas psikologis manusia. Penelitian terbaru secara konsisten menunjukkan bahwa hewan-hewan ini tidak hanya reaktif terhadap stimulus, melainkan memiliki kapasitas untuk berpikir, merasakan, dan bahkan menunjukkan ciri-ciri kepribadian, sebuah penemuan yang memiliki implikasi signifikan terhadap bagaimana manusia memahami spektrum kesehatan mental dan sentience.
Simpanse dan Kera Besar, kerabat terdekat manusia, secara luas diakui menunjukkan berbagai perilaku mirip manusia. Studi tahun 2018 menemukan bahwa simpanse (Pan troglodytes) berbagi lima sifat kepribadian utama yang sama dengan manusia — kesadaran, keterbukaan, keramahan, ekstraversi, dan neurotisisme — dan sifat-sifat ini dapat dikaitkan dengan rentang hidup. Sebuah studi terpisah pada tahun 2020 yang diterbitkan dalam jurnal Science menemukan bukti seleksi sosial pada simpanse jantan yang menua, di mana individu menunjukkan preferensi untuk interaksi sosial yang lebih bermakna dengan teman-teman yang lebih tua dalam kelompok yang lebih kecil, mirip dengan orang dewasa manusia yang menua. Mereka juga terbukti menggunakan alat, memiliki budaya yang diturunkan, dan menunjukkan kesadaran diri yang kompleks. Primatolog Frans de Waal, misalnya, mencatat bagaimana simpanse menunjukkan rekonsiliasi dengan "ciuman" setelah pertengkaran, meskipun awalnya ditekan untuk menggunakan istilah yang lebih deskriptif seperti "pertemuan pasca-konflik dengan kontak mulut ke mulut".
Gajah dikenal karena ikatan sosial, memori yang luar biasa, dan kemampuan berduka yang mendalam. Sebuah studi tahun 2006 yang diterbitkan dalam Applied Animal Behaviour Science memberikan bukti kuat bahwa gajah tidak hanya mengenali kematian tetapi juga menunjukkan kasih sayang terhadap rekan mereka yang sekarat dan meninggal, terlepas dari hubungan keluarga. Studi tersebut mendokumentasikan perilaku beberapa keluarga gajah di Cagar Alam Samburu Kenya setelah kematian gajah betina bernama Eleanor, di mana gajah lain berusaha membantunya dan sering mengunjungi jasadnya selama seminggu. Hal ini menunjukkan respons umum terhadap penderitaan dan kematian, serupa dengan reaksi manusia terhadap orang asing dalam kesulitan. Dr. George Wittemyer dari Save the Elephants menyatakan bahwa "menyaksikan gajah berinteraksi dengan bangkai mereka membuat merinding, karena perilaku tersebut dengan jelas menunjukkan perasaan yang maju".
Lumba-lumba hidung botol menunjukkan kecerdasan luar biasa dan kesadaran diri. Mereka memiliki otak yang sangat besar dan kompleks dengan neokorteks yang berkembang baik, yang bertanggung jawab untuk fungsi tingkat tinggi seperti pemecahan masalah, memori, dan proses berpikir kompleks. Lumba-lumba telah menunjukkan pengenalan diri cermin pada usia seawal 7 bulan, lebih awal dari yang dilaporkan pada anak-anak manusia atau spesies lain yang diuji. Mereka juga menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, termasuk "peluit tanda tangan" yang unik untuk setiap individu, yang berfungsi seperti nama dalam kelompok sosial mereka.
Gagak, khususnya gagak Kaledonia Baru, telah membuktikan kemampuan kognitif yang menyaingi primata. Penelitian menunjukkan bahwa mereka dapat merencanakan tiga langkah ke depan untuk mencapai tujuan menggunakan alat, mirip dengan cara manusia merencanakan gerakan dalam catur. Studi tahun 2019 dalam Current Biology mengungkapkan bahwa gagak mampu melakukan perencanaan awal dengan menyimpan lokasi dan identitas alat yang tidak terlihat. Romana Gruber, kandidat PhD dari University of Auckland, menyatakan bahwa studi tersebut menunjukkan burung-burung itu "membayangkan langkah-langkah yang diperlukan di muka daripada hanya bertindak berdasarkan momen demi momen". Otak gagak, meskipun seukuran kenari, mengemas 1,5 miliar neuron, memungkinkan pemrosesan kognitif yang menyaingi anak-anak kecil dalam tugas-tugas tertentu.
Gurita, sebagai invertebrata, menampilkan tingkat kecerdasan yang mengejutkan, termasuk kemampuan memecahkan masalah, menggunakan alat, dan menunjukkan perilaku bermain. Mereka dapat membuka toples, menavigasi labirin, dan memanipulasi objek kompleks untuk mendapatkan makanan. Beberapa spesies telah diamati membawa cangkang kelapa atau batu sebagai tempat berlindung portabel. Peter Godfrey-Smith, seorang profesor sejarah dan filosofi sains di University of Sydney, menyatakan, "Ketika Anda berhadapan dengan gurita yang secara hati-hati ingin tahu tentang sesuatu, sangat sulit untuk membayangkan bahwa tidak ada yang dialami olehnya". Studi tahun 2022 menemukan bahwa gen dua spesies gurita berbagi kekhasan genetik yang juga ada pada manusia, disebut "gen melompat" atau transposon, yang telah dikaitkan dengan evolusi genom dan penting untuk pembelajaran serta pembentukan memori.
Anjing telah mengembangkan kemampuan unik untuk memahami emosi manusia. Penelitian menggunakan pencitraan otak menunjukkan bahwa anjing memiliki sistem limbik yang mampu memproses emosi seperti rasa takut, kesenangan, keterikatan, dan stres. Mereka dapat mengenali enam emosi dasar manusia—kemarahan, ketakutan, kebahagiaan, kesedihan, kejutan, dan jijik—dengan memproses perubahan detak jantung dan pandangan mata. Oksitosin, sering disebut sebagai hormon ikatan, dilepaskan pada anjing dan manusia selama interaksi sosial positif, memperkuat hubungan emosional dan kepercayaan. Meskipun debat tentang apakah anjing berempati atau hanya menunjukkan asosiasi yang dipelajari masih berlangsung, respons perilaku mereka terhadap keadaan emosional manusia sangat konsisten.
Babi menunjukkan tingkat fleksibilitas perilaku dan mental yang luar biasa. Penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada tahun 2021 menemukan bahwa babi dapat belajar memainkan video game sederhana menggunakan joystick dengan moncong mereka, menunjukkan pemahaman konseptual meskipun keterampilan motorik terbatas. Mereka memiliki memori jangka panjang yang sangat baik, mampu menavigasi labirin, membedakan antara objek yang berbeda, dan bahkan mengenali gambar yang mereka buat sendiri dari karya babi lain. Babi juga menunjukkan berbagai emosi seperti kegembiraan, kemarahan, dan ketakutan, serta menunjukkan penularan emosional, sebuah bentuk empati. Mereka membentuk hierarki sosial dan dapat mengembangkan persahabatan seumur hidup.
Orangutan dikenal karena budaya yang diturunkan secara sosial dan penggunaan alat. Studi dari awal 2000-an menemukan bahwa populasi orangutan yang berbeda menunjukkan perilaku unik yang tidak memiliki asal usul lingkungan atau genetik, menandakan sifat budaya. Ini termasuk penggunaan alat dasar untuk mencari makan, vokalisasi yang disengaja, dan variasi dalam metode pembangunan sarang. Sebuah penelitian tahun 2009 melaporkan orangutan liar menggunakan daun untuk memodulasi frekuensi panggilan "ciuman melengking" mereka saat tertekan, yang menunjukkan kontrol volisional atas komunikasi mereka. Pada tahun 2022, seorang orangutan Sumatera jantan bernama Rakus diamati mengunyah daun tanaman obat dan mengoleskannya pada luka terbuka di wajahnya, yang sembuh dalam beberapa minggu.
Tikus telah menunjukkan kemampuan untuk berempati dan bahkan menunjukkan perilaku altruistik. Sebuah studi tahun 2011 di Science menunjukkan bahwa tikus akan berulang kali membebaskan rekan-rekan mereka dari alat penahan, bahkan ketika diberi pilihan cokelat sebagai gantinya, menunjukkan bahwa motivasi untuk membebaskan rekannya lebih kuat daripada keinginan untuk cokelat. Jeffrey Mogil, seorang profesor di McGill University, yang tidak terlibat dalam studi tersebut, menyebutnya sebagai "perilaku pro-sosial" dan "lebih dari yang telah ditunjukkan sebelumnya". Temuan ini menempatkan asal usul perilaku membantu yang didorong oleh empati lebih awal dalam pohon evolusi daripada yang diperkirakan sebelumnya. Studi lanjutan pada tahun 2021 menemukan bahwa tikus mengalami empati sebagai respons terhadap tanda-tanda penderitaan tikus lain, tetapi tindakan membantu mereka dipicu jika tikus yang terperangkap berasal dari jenis yang sama.
Pengakuan akan kompleksitas perilaku dan emosi hewan ini menantang gagasan antropocentris tentang keunikan manusia dan memperluas pemahaman tentang sentience dan kesehatan mental. Ini bukan sekadar anekdot, melainkan didukung oleh bukti ilmiah yang terus berkembang, menyoroti akar evolusioner dari banyak kapasitas kognitif dan emosional yang sebelumnya dianggap eksklusif untuk manusia. Implikasi dari temuan ini sangat luas, mulai dari memperdalam diskusi tentang kesejahteraan hewan dan etika konservasi hingga memberikan model baru untuk memahami dasar biologis gangguan mental pada manusia. Seperti yang dijelaskan oleh Dr. B.J. Casey, profesor psikologi dalam psikiatri dari The Sackler Institute, studi hewan dalam eksperimen perilaku dapat secara akurat digunakan untuk mempelajari perilaku manusia terkait kecemasan, yang berpotensi membantu pengembangan strategi klinis baru. Dengan semakin banyaknya penelitian yang terus mengungkap kekayaan kehidupan batin hewan, penting untuk mendekati interaksi dengan spesies lain dengan rasa hormat dan empati yang lebih besar, mengakui adanya kemiripan yang mendalam dalam pengalaman kognitif dan emosional.