Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bukan Gemuk Biasa: Pria Ini Derita Tumor 32 Kg di Perutnya

2026-01-15 | 20:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T13:04:18Z
Ruang Iklan

Bukan Gemuk Biasa: Pria Ini Derita Tumor 32 Kg di Perutnya

Seorang pria berusia 54 tahun di Makedonia Utara baru-baru ini menjalani operasi pengangkatan tumor perut seberat 35 kilogram setelah perutnya membesar tak wajar selama dua tahun terakhir, sebuah kondisi langka yang menyebabkan kesulitan buang air kecil dan gangguan fungsi ereksi. Tumor masif ini, yang awalnya diperkirakan sekitar 32 kg dan kemudian dikonfirmasi seberat 35 kg saat operasi, mengindikasikan kasus fibromatosis agresif atau tumor desmoid dinding perut terbesar yang pernah dilaporkan dalam literatur medis. Kasus ini telah dipublikasikan dalam The Journal of Surgical Case Reports.

Pembengkakan perut ekstrem pada pasien tersebut, yang juga dikenal sebagai pannus perut, telah menyebabkan lipatan besar kulit dan jaringan menggantung hingga menutupi penisnya. Kondisi ini membuat pasien tidak dapat melihat alat kelaminnya dan mengalami gangguan signifikan pada kualitas buang air kecilnya. Pemeriksaan awal menunjukkan indeks massa tubuh (IMT) pasien mencapai 56,3, menempatkannya dalam kategori obesitas parah, namun pemindaian CT menunjukkan bahwa massa besar di perutnya sebagian besar terdiri dari jaringan ikat fibrosa dan hanya sedikit lemak, menepis dugaan obesitas murni.

Tumor desmoid merupakan jenis tumor langka yang tumbuh lambat pada jaringan ikat, berada di antara non-kanker dan ganas. Meskipun tidak bermetastasis seperti kanker, tumor ini bersifat lokal agresif dan dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada struktur di sekitarnya. Insiden sarkoma retroperitoneal, yang mencakup tumor seperti liposarcoma dan desmoid tumor di rongga perut bagian belakang, diperkirakan sangat jarang, yakni 0,5-1 orang per 100.000 populasi. Diagnosis tumor sebesar ini seringkali menantang karena gejala awalnya bisa tidak spesifik atau disalahartikan sebagai kondisi lain seperti obesitas. CT scan dengan kontras atau MRI sangat penting untuk diagnosis akurat guna mendapatkan gambaran tajam lokasi dan karakteristik tumor.

Pasien menjalani operasi besar di bawah anestesi total untuk mengangkat massa tersebut. Setelah operasi, IMT pasien turun menjadi 43,9, dan ia dirawat di rumah sakit selama enam hari sebelum dipulangkan. Tim dokter menyatakan bahwa pemulihannya berjalan baik, dengan perbaikan sedang pada kualitas buang air kecilnya, dan pasien masih menjalani pemantauan lanjutan lima bulan pascaoperasi.

Pengangkatan tumor berukuran raksasa seperti ini menghadirkan tantangan bedah yang signifikan, termasuk risiko perdarahan, infeksi, kerusakan organ sekitarnya, dan perubahan tekanan intra-abdomen secara tiba-tiba yang dapat menyebabkan syok atau gagal jantung. Pemulihan pasca operasi besar juga memerlukan waktu dan kepatuhan terhadap instruksi medis, termasuk rehabilitasi fisik untuk mengembalikan gerakan dan kekuatan otot. Kasus ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pembesaran perut yang tidak wajar, terutama ketika tidak ada riwayat penurunan berat badan yang signifikan, untuk membedakan antara obesitas dan kondisi patologis yang mendasari.