:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473461/original/080716200_1768445652-hgn_2026.png)
Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 pada 25 Januari 2026 menjadi momentum krusial bagi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) untuk meluncurkan logo resmi bertema "Generasi Emas 2045", menandai komitmen serius organisasi profesi ini dalam mewujudkan visi pembangunan sumber daya manusia unggul Indonesia. PERSAGI, yang telah berdiri sejak 1957, secara konsisten berfokus pada pengembangan ilmu gizi, peningkatan kompetensi ahli gizi, dan advokasi kebijakan gizi nasional. Logo baru ini merefleksikan urgensi peran gizi dalam mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045, di mana negara ini ditargetkan menjadi negara maju dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kuat dan berdaya saing global.
Hari Gizi Nasional, yang diperingati setiap 25 Januari, pertama kali dicanangkan pada tahun 1951 atas prakarsa Prof. Poorwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, sebagai respons terhadap masalah gizi buruk yang melanda Indonesia kala itu. Peringatan tahunan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang untuk mencegah stunting, malnutrisi, dan berbagai masalah kesehatan lain. Tema HGN 2025 adalah "Pilih Makanan Bergizi untuk Keluarga Sehat" dengan slogan "Makan Bergizi, Keluarga Sehat", menekankan peran keluarga sebagai garda terdepan dalam membentuk kebiasaan makan sehat.
Visi Indonesia Emas 2045 menempatkan pembangunan manusia sebagai fondasi utama. Untuk mencapai hal ini, pemerintah perlu memastikan setiap anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan memiliki kecerdasan optimal, yang sangat bergantung pada asupan gizi yang cukup sejak dini. Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dari dalam kandungan hingga usia dua tahun, menjadi fase emas yang menentukan masa depan seorang anak, tidak hanya tinggi badannya, tetapi juga kecerdasan, ketahanan tubuh, serta kemampuan belajar dan bekerja di masa depan. Intervensi gizi pada 1000 HPK terbukti dapat meningkatkan produktivitas ekonomi hingga 11% dan mengurangi risiko kemiskinan lintas generasi.
Namun, Indonesia masih menghadapi "tiga beban malnutrisi": gizi buruk (wasting dan stunting), kelebihan berat badan, dan kekurangan gizi mikro. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%, atau sekitar 4.482.340 balita, menurun 1,7% dari tahun 2023 yang sebesar 21,5%. Meskipun ada kemajuan, angka ini masih memerlukan upaya berkelanjutan untuk mencapai target penurunan stunting menjadi 14,2% pada tahun 2029 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Capaian 19,8% pada 2024 juga menjadi tantangan mengingat target 2025 adalah 18,8%. Tantangan gizi ini diperparah oleh pola makan yang kurang memadai, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, kemiskinan, tingkat pendidikan rendah, hingga dampak perubahan iklim yang mengancam ketahanan pangan.
Ketua Umum DPP PERSAGI Dr. Ir. Doddy Izwardi, MA, menegaskan pentingnya fokus pada perbaikan pola makan masyarakat serta menjadikan gizi seimbang dan akses makanan sehat sebagai prioritas nasional. PERSAGI sendiri memiliki visi untuk mendukung terwujudnya Generasi Emas 2045 melalui pembinaan ahli gizi, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi, serta edukasi masyarakat. Dalam konteks ini, PERSAGI aktif menjalin kemitraan dengan lembaga internasional seperti WHO dan UNICEF untuk memperkuat kontribusi Indonesia dalam agenda gizi dunia.
Pemerintah juga meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu langkah strategis untuk membentuk SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045. Program ini menjangkau anak usia dini, anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui, dengan instruksi Presiden agar makanan dalam program ini memenuhi nilai gizi seimbang, termasuk minimal dua jenis lauk. Peran ahli gizi dalam program MBG dianggap krusial untuk memastikan keamanan dan kualitas gizi makanan. Sekretaris Utama Badan Gizi Nasional (BGN), Sarwono, menekankan pentingnya pendidikan gizi agar siswa memahami makanan yang disajikan dan terdorong untuk menghabiskannya.
Peluncuran logo baru PERSAGI untuk HGN 2026 dengan tema Generasi Emas 2045 bukan sekadar simbol, melainkan sebuah deklarasi komitmen jangka panjang. Ini adalah pengingat bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana setiap individu, sejak dalam kandungan, mendapatkan hak gizi yang optimal. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi profesi seperti PERSAGI, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi tantangan gizi kompleks dan membangun fondasi kuat bagi Generasi Emas 2045 yang sehat, cerdas, dan kompetitif di panggung global.