:strip_icc()/kly-media-production/medias/5463549/original/066980900_1767659676-ceri.jpg)
Ceri "Sato Nishiki" premium dari Prefektur Yamagata mencatat rekor harga baru pada lelang pertama tahun 2026 di Jepang, mencapai 1,8 juta yen untuk satu kotak di pasar Tokyo pada 5 Januari, dengan harga per buah melampaui 26.000 yen (sekitar Rp 2,8 juta). Lelang terpisah di Kota Tendo, pusat produksi ceri utama di Yamagata, juga melihat satu kotak berisi 68 ceri terjual seharga 1,55 juta yen, menandai rekor lokal. Penjualan fantastis ini menyoroti tradisi panjang Jepang dalam memperlakukan buah sebagai barang mewah dan hadiah status tinggi.
Budidaya ceri "Sato Nishiki" yang terkenal sebagai "Raja Ceri Jepang" telah mencapai tingkat presisi tinggi. Petani di Yamagata, yang menyumbang lebih dari 75% produksi ceri nasional, menggunakan metode "kultivasi ultra-paksa" canggih. Teknik ini melibatkan pendinginan pohon untuk mensimulasikan musim dingin, kemudian memindahkannya ke rumah kaca untuk mempercepat panen jauh lebih awal dari musim puncaknya di awal musim panas. Kenichi Mannen, wakil manajer penjualan di JA Tendo Foods, pemenang tawaran tertinggi di Tendo, menyatakan bahwa pengelolaan panen tahun ini sulit karena cuaca tidak stabil. Namun, ia menambahkan bahwa perusahaan berkomitmen untuk menghadirkan produk yang membahagiakan pelanggan, dan JA Tendo Foods berencana menjual ceri premium ini secara daring.
Fenomena harga yang melambung ini berakar pada budaya pemberian hadiah Jepang, di mana buah-buahan mewah berfungsi sebagai simbol rasa hormat, terima kasih, dan status sosial. Bukan hanya rasa, kesempurnaan estetika—ukuran, bentuk, warna, dan tanpa cacat—menjadi faktor krusial yang menentukan nilai. Petani mendedikasikan diri pada praktik budidaya yang sangat teliti, seringkali hanya mengizinkan satu buah per cabang untuk memastikan konsentrasi nutrisi optimal. Proses yang memakan waktu dan berlimpah tenaga ini menghasilkan kualitas superior namun dengan hasil panen yang sangat terbatas, secara inheren mendorong harga ke atas.
Laporan terbaru dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) Foreign Agricultural Service di Tokyo memproyeksikan penurunan produksi buah berbiji di Jepang untuk musim 2025/2026. Tantangan iklim, seperti suhu tinggi selama periode penyerbukan di Prefektur Yamagata, serta penurunan luas lahan budidaya dan tenaga kerja pertanian yang menua, menjadi penyebab utama perkiraan produksi ceri segar 12.500 metrik ton, 25% di bawah rata-rata tahunan meskipun ada peningkatan dari panen tahun sebelumnya yang "sangat buruk". Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasokan ceri premium domestik akan tetap terbatas, kemungkinan akan mempertahankan atau bahkan meningkatkan tekanan pada harga di masa mendatang. Permintaan yang kuat dari pasar mewah domestik dan internasional, khususnya dari kawasan makmur seperti Hong Kong dan Singapura, juga turut menopang nilai ekonomi ceri Jepang yang dianggap sebagai karya seni pertanian.