Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Demensia Usia 23: Kisah Tragis Pemuda Berpulang Setahun Pasca Diagnosis

2026-01-07 | 20:00 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T13:00:38Z
Ruang Iklan

Demensia Usia 23: Kisah Tragis Pemuda Berpulang Setahun Pasca Diagnosis

Sebuah kasus demensia onset dini yang tragis menggarisbawahi realitas mengerikan penyakit degeneratif otak pada individu muda, ketika Andre Yarham, seorang pemuda dari Norfolk, Inggris, meninggal dunia pada usia 24 tahun setelah didiagnosis menderita demensia frontotemporal. Yarham, yang menunjukkan gejala pada usia 22 tahun dan menerima diagnosis resmi sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-23, mengalami penurunan fungsi otak yang cepat, yang oleh dokter digambarkan setara dengan otak orang berusia 70 tahun. Kematiannya pada akhir Desember tahun lalu, sekitar dua tahun setelah diagnosis, menyoroti tantangan kompleks dan dampak mendalam dari demensia yang menyerang di usia yang sangat muda.

Demensia onset dini, atau young-onset dementia (YOD), didefinisikan sebagai demensia yang muncul sebelum usia 65 tahun, meskipun kasusnya sangat jarang dan hanya menyumbang sekitar 2 hingga 8 persen dari seluruh kasus demensia secara global. Namun, insidensinya pada rentang usia 30-64 tahun diperkirakan mencapai 20 dari setiap 100.000 orang setiap tahun, angka yang mungkin lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya karena kesadaran dan metodologi diagnosis yang lebih baik. Jenis demensia yang agresif seperti demensia frontotemporal (FTD) adalah salah satu yang dapat menyerang usia muda dan memiliki progresi yang cepat, seperti yang dialami Yarham akibat mutasi protein. Demensia progresif cepat lainnya meliputi penyakit Creutzfeldt-Jakob, yang dapat berkembang pesat dan terus-menerus.

Kasus Yarham, di mana ia mulai menunjukkan gejala seperti kesulitan berbicara dan gerakan melambat pada tahun 2022, sebelum kehilangan kemampuan berbicara dan berjalan sepenuhnya, mencerminkan gambaran umum demensia progresif. Setelah diagnosis, ia membutuhkan perawatan penuh waktu dari ibunya, yang harus membantunya makan, berpakaian, dan mandi, menunjukkan hilangnya kemandirian yang drastis. Kondisi ini sangat jarang terjadi pada kelompok usia 20-an, dengan hanya sekitar 0,1 persen populasi Inggris yang didiagnosis demensia di bawah usia 65 tahun.

Tantangan diagnostik pada demensia onset dini seringkali signifikan. Gejala awal, seperti masalah memori, perubahan suasana hati, atau kesulitan berkomunikasi, pada usia muda seringkali disalahartikan sebagai stres, depresi, kecemasan, atau kelelahan. Hal ini dapat menyebabkan penundaan diagnosis yang akurat, rata-rata empat tahun, yang berdampak negatif pada kualitas hidup pasien dan keluarganya. Direktur Eksekutif Alzheimer's Indonesia (ALZI), Michael Dirk R. Maitimoe, menyatakan bahwa demensia bahkan dapat didiagnosis pada usia 30-an, dipengaruhi oleh faktor genetik yang kuat dan gaya hidup tidak sehat. Meskipun demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa akumulasi protein beta-amiloid, salah satu ciri Alzheimer, dapat dimulai sejak usia 20-an, jauh sebelum timbulnya gejala demensia.

Implikasi demensia pada usia muda jauh melampaui individu yang terkena. Penyakit ini dapat menghancurkan karier, meregangkan hubungan keluarga, dan membalikkan rencana jangka panjang, seperti yang disampaikan oleh para peneliti dari studi di Finlandia. Beban perawatan meningkat secara signifikan, baik bagi keluarga maupun sistem kesehatan. Saat ini, belum ada obat yang diketahui dapat menghentikan atau memperlambat progresi demensia onset dini. Namun, manajemen gejala yang aktif dan perencanaan jangka panjang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup. Keluarga Yarham, dengan keputusan berani mendonasikan otaknya untuk penelitian medis, berharap dapat berkontribusi pada pemahaman lebih lanjut tentang penyakit kejam ini, memberikan harapan bagi keluarga lain di masa depan. Peningkatan kesadaran publik dan penyedia layanan kesehatan sangat penting untuk memastikan diagnosis yang tepat waktu dan dukungan yang memadai bagi individu muda yang mengalami perubahan kognitif.