
Dalam beberapa tahun terakhir, diet makan sekali sehari atau One Meal A Day (OMAD) muncul sebagai varian ekstrem dari puasa intermiten, menarik perhatian individu yang mencari cara cepat menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan. Pendekatan ini mewajibkan konsumsi seluruh asupan kalori harian dalam jendela waktu makan tunggal, biasanya satu jam, diikuti dengan puasa selama 23 jam berikutnya. Berbagai pengalaman individu telah menyoroti dampak langsung dari regimen diet yang ketat ini, dengan temuan bervariasi dari peningkatan fokus hingga tantangan fisik dan sosial yang signifikan.
Salah satu individu yang mendokumentasikan pengalamannya secara publik adalah pembuat konten Will Tennyson, yang mencoba diet OMAD selama seminggu. Tennyson awalnya tertarik untuk melihat efek pada berat badan dan asupan kalori, dan pada awalnya, ia menyatakan bahwa OMAD tidak memengaruhi rutinitas olahraganya karena ia terbiasa berlatih dalam keadaan puasa. Namun, ia melaporkan merasa "sangat lelah" antara sesi latihannya dan waktu makan tunggalnya. Setelah empat hari, ia menemukan bahwa diet tersebut tidak menjadi lebih mudah, dengan pikiran tentang makanan terus-menerus muncul, yang mengarah pada peningkatan konsumsi kafein. Ia juga menyadari betapa sosialnya aktivitas makan, membuatnya sulit untuk makan bersama teman-temannya. Menjelang hari kelima, ia mulai bisa membedakan antara rasa lapar yang sebenarnya dan rasa lapar kebiasaan.
Seorang profesional kesehatan, Dr. Tony Hampton, juga melakukan tantangan OMAD 7 hari. Ia mencatat penurunan berat badan awal, yang sebagian besar terdiri dari air dan glikogen, serta peningkatan kejernihan mental setelah hari ketiga. Dr. Hampton melaporkan energi yang stabil dan gula darah yang lebih terkontrol, menunjukkan bahwa "kebisingan makanan" yang konstan mereda. Namun, ia juga menyoroti kesulitan pada hari kedua, yang ia sebut sebagai "tantangan adaptasi," dan menyarankan bahwa makan sekali sehari dapat menjadi "canggung secara sosial".
Secara fisiologis, OMAD memicu "sakelar metabolik" di mana tubuh beralih dari membakar glukosa menjadi membakar lemak yang tersimpan untuk energi, proses yang juga disebut ketosis. Kondisi puasa yang berkepanjangan ini menyebabkan penurunan kadar insulin secara signifikan. Para pendukung OMAD mengklaim potensi manfaat seperti penurunan berat badan, peningkatan sensitivitas insulin, pemicuan autophagy (proses pembersihan seluler), dan peningkatan fokus mental. Beberapa penelitian tentang puasa intermiten secara umum menunjukkan penurunan berat badan antara 1-13% dari berat badan awal, dengan penurunan lemak tubuh yang dilaporkan pada peserta yang mencoba makan sekali sehari, meskipun tidak selalu dikaitkan dengan penurunan berat badan yang signifikan. Studi pada pria dewasa dengan pradiabetes dan obesitas yang menjalani periode makan 6 jam diikuti dengan puasa 18 jam menunjukkan peningkatan kadar gula darah.
Namun, konsensus medis menyerukan kehati-hatian terhadap praktik OMAD. Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa diet ini ekstrem dan membawa risiko signifikan. Kesulitan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian dari satu kali makan seringkali menyebabkan defisiensi nutrisi, kelelahan, kelemahan, dan iritabilitas. Fluktuasi gula darah menjadi perhatian serius, terutama bagi individu dengan diabetes atau sensitivitas insulin. Sebuah studi tahun 2007 menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi hanya satu kali makan per hari mengalami peningkatan signifikan pada tingkat tekanan darah mereka. Selain itu, kadar kolesterol LDL ("jahat") yang lebih tinggi juga dilaporkan pada kelompok yang hanya makan satu kali sehari.
Kekhawatiran jangka panjang juga mencakup potensi hilangnya massa otot, perlambatan laju metabolisme basal jika asupan kalori terlalu rendah, dan risiko gangguan pola makan seperti makan berlebihan atau pembatasan berlebihan. Tingkat putus sekolah untuk regimen puasa intermiten seperti OMAD bisa mencapai 65%, menunjukkan bahwa diet ini sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Penting untuk dicatat bahwa sebuah studi tahun 2022 yang diterbitkan di National Library of Medicine mengaitkan makan satu kali sehari dengan risiko kematian yang lebih tinggi dari semua penyebab, serta kematian akibat penyakit kardiovaskular. Para ahli menyarankan bahwa meskipun puasa intermiten dapat memberikan manfaat kesehatan, hasil yang serupa seringkali dapat dicapai melalui metode yang lebih berkelanjutan. Konsultasi dengan profesional medis sangat dianjurkan sebelum memulai diet OMAD, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan yang mendasari seperti diabetes, masalah jantung, atau riwayat gangguan makan. Untuk kebanyakan orang, metode puasa yang tidak terlalu ketat, seperti puasa 16:8 (jendela makan 8 jam dan puasa 16 jam), menawarkan rasio risiko-manfaat yang lebih baik dan lebih mudah dipertahankan.