:strip_icc()/kly-media-production/medias/4557287/original/007135800_1693388461-WhatsApp_Image_2023-08-30_at_4.24.49_PM.jpeg)
Defisiensi vitamin D, masalah kesehatan global yang memengaruhi miliaran individu, mendorong penelusuran sumber daya diet yang lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan harian. Meskipun paparan sinar matahari tetap menjadi mekanisme alami utama tubuh untuk memproduksi vitamin D, pilihan makanan, terutama ikan berlemak dan produk yang diperkaya, krusial untuk mempertahankan kadar yang memadai, demikian diungkapkan para ahli nutrisi dan laporan kesehatan terbaru. Penekanannya adalah pada beberapa makanan dan minuman tinggi vitamin D, termasuk tuna dan nila, yang dapat menjadi pilar strategi nutrisi untuk mengatasi kekurangan vitamin vital ini.
Riset historis menunjukkan bahwa masalah defisiensi vitamin D, yang bermanifestasi sebagai rakhitis pada anak-anak, telah didokumentasikan sejak abad ke-17. Penyakit ini merebak luas di Eropa selama Revolusi Industri pada abad ke-19, dengan lebih dari 90% anak-anak di lingkungan perkotaan yang padat dan tercemar dilaporkan menderita rakhitis pada akhir abad tersebut. Baru pada tahun 1920-an, para ilmuwan mengidentifikasi vitamin D sebagai faktor diet yang dapat mencegah kondisi tersebut, diikuti oleh inisiatif fortifikasi susu pada tahun 1930-an yang secara efektif memberantas rakhitis di banyak wilayah dunia. Namun, defisiensi vitamin D masih menjadi masalah endemik, dengan sekitar empat dari sepuluh orang di Amerika Serikat memiliki kadar yang tidak memadai.
Vitamin D sangat penting untuk penyerapan kalsium dan fosfor, yang mendasari kesehatan tulang yang kuat. Kekurangan yang berkepanjangan dapat menyebabkan osteomalacia dan osteoporosis pada orang dewasa, meningkatkan risiko patah tulang dan kelemahan otot. Lebih jauh, kadar vitamin D yang rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko kondisi kronis seperti penyakit kardiovaskular, penyakit autoimun, hipertensi, dan infeksi. Institute of Medicine (IOM) merekomendasikan asupan vitamin D harian sebesar 600 International Units (IU) atau 15 mikrogram (mcg) untuk sebagian besar orang dewasa berusia 1 hingga 70 tahun, dengan 800 IU (20 mcg) untuk mereka yang berusia di atas 70 tahun. Namun, beberapa otoritas kesehatan, seperti NHS, merekomendasikan 10 mikrogram (400 IU) per hari untuk orang dewasa.
Untuk mencapai asupan ini melalui diet, lima sumber makanan dan minuman berikut menonjol:
1. Ikan Tuna Kalengan: Tuna kalengan, khususnya jenis albacore, menawarkan sumber vitamin D yang substansial. Satu kaleng tuna albacore dapat menyediakan sekitar 582 IU vitamin D, berkontribusi signifikan terhadap asupan harian yang direkomendasikan. Tuna segar memiliki kadar yang lebih tinggi, dengan 100 gram (3,5 ons) mengandung antara 380 hingga 690 IU.
2. Ikan Nila: Nila, ikan air tawar yang populer, juga merupakan kontributor yang baik. Sebuah porsi 100 gram nila yang dimasak menyediakan sekitar 3,7 mikrogram (148 IU) vitamin D3, menyumbang sekitar 24,7% dari Nilai Harian. Ini menjadikannya pilihan makanan laut yang dapat diakses untuk diet kaya vitamin D.
3. Salmon Liar: Salmon, terutama yang ditangkap di alam liar, diakui sebagai salah satu sumber vitamin D alami terbaik. Porsi 3,5 ons (sekitar 100 gram) salmon liar Atlantik dapat mengandung rata-rata 988 IU vitamin D3. Salmon coho liar, dalam porsi 6 ons, dapat memberikan 19 mikrogram (760 IU) vitamin D. Salmon yang dibudidayakan memiliki kadar yang lebih rendah, rata-rata sekitar 240 IU per 3,5 ons.
4. Minyak Hati Ikan Kod: Suplemen diet klasik ini adalah sumber vitamin D yang sangat terkonsentrasi. Satu sendok teh (4,5 gram) minyak hati ikan kod dapat mengandung sekitar 450 IU vitamin D. Sumber lain melaporkan satu sendok makan (13,6 gram) menyediakan 34 mikrogram (1360 IU) vitamin D. Minyak hati ikan kod juga secara historis penting dalam pencegahan rakhitis, dengan penggunaan yang tercatat sejak awal abad ke-19.
5. Jamur yang Diperlakukan UV: Jamur unik sebagai satu-satunya sumber vitamin D non-hewani yang signifikan. Seperti manusia, jamur dapat menghasilkan vitamin D saat terpapar sinar ultraviolet (UV). Jamur yang secara khusus diolah dengan sinar UV, seperti jamur kancing atau portabella, dapat menyediakan kadar vitamin D2 yang sangat tinggi, bervariasi dari 140 IU hingga lebih dari 1000 IU per 100 gram, dengan beberapa varietas maitake mencapai 2242 IU per 100 gram.
Meskipun makanan yang diperkaya seperti susu sapi, susu nabati (kedelai, almond, oat), dan jus jeruk dapat menyumbang vitamin D, umumnya menyediakan sekitar 100-150 IU per cangkir. Namun, konsistensi fortifikasi ini dapat bervariasi, dengan beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tidak semua produk susu yang difortifikasi secara akurat mencerminkan kadar yang tertera pada label.
Mengintegrasikan makanan tinggi vitamin D ini ke dalam diet merupakan langkah proaktif dalam mengatasi defisiensi. Dr. Michael F. Holick, seorang peneliti vitamin D terkemuka, menyoroti, "Meskipun bukti pentingnya yang mendalam bagi kesehatan manusia, ketidakcukupan vitamin D tidak dikenal luas sebagai masalah oleh dokter dan pasien." Mengingat keterbatasan paparan sinar matahari di garis lintang tertentu atau bagi individu yang menghabiskan sebagian besar waktu di dalam ruangan, peran diet menjadi semakin penting. Rekomendasi medis saat ini mendukung kombinasi sumber makanan dan, bila perlu, suplemen untuk memastikan kadar vitamin D yang optimal.
Implikasi jangka panjang dari kadar vitamin D yang memadai melampaui kesehatan tulang. Penelitian menunjukkan bahwa vitamin D berperan dalam fungsi kekebalan tubuh, regulasi suasana hati, dan mungkin mengurangi risiko beberapa penyakit kronis. Karena populasi global terus bergulat dengan tingkat defisiensi yang tinggi, strategi kesehatan masyarakat masa depan kemungkinan akan fokus pada pendidikan gizi yang lebih baik dan eksplorasi lebih lanjut potensi makanan yang diperkaya secara alami dan buatan sebagai solusi berkelanjutan. Konsumen didorong untuk membaca label nutrisi dengan cermat dan berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk rencana diet yang dipersonalisasi.